BerandaPasar Kreatif
Jumat, 10 Jul 2025 13:06

Serabi Asmoro Kudus, Kudapan khas Solo yang Dijual Jauh dari Tanah Kelahiran

Serabi Asmoro, kudapan khas Solo yang berada di pusat kota Kabupaten Kudus. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Sejak pagi, Juningsih telah mencetak adonan di atas wajan kecil, lalu menggulung yang sudah matang dan meletakkannya di lapak bertajuk Serabi Asmoro. Yang menarik, kudapan khas Solo ini nggak dijual di tanah kelahirannya, tapi di Kudus.

Inibaru.id - Meski berada jauh dari tanah kelahirannya, serabi solo di Kabupaten Kudus ini nggak kehilangan kekhasannya. Serabi Asmoro namanya. Buat kamu yang tinggal di Kudus tapi merindukan kudapan manis bertekstur lembut ini, kamu bisa menyambangi tempat ini.

Berada di Jalan KH Wahid Hasyim, Kelurahan Demaan, Kecamatan Kudus Kota, Serabi Asmoro dikelola oleh Juningsih; sosok perempuan 42 tahun yang menjadikan lapak di pinggir jalan tersebut sebagai sumber pendapatannya.

Sejak pagi, Juningsih telah membuka dagangannya yang berlokasi nggak jauh dari alun-alun kota. Sembari mencetak adonan, dia dengan sabar menanti pembeli hingga malam tiba. Adonan dicetak secara berkala untuk mempertahankan kehangatan dan kelembutan yang menjadi ciri khas serabi solo ini.

Meski berjualan serabi solo, Juningsih bukanlah warga asli Kota Bengawan. Kemampuannya membuat kudapan berbentuk cakram yang tebal di tengah tapi tipis di pinggir ini berasal dari sebuah pelatihan yang dia ikuti di Solo.

Belum Banyak yang Jual

Sebelum digulung, serabi solo 'Asmoro' diangin-anginkan terlebih dahulu setelah diangkat dari cetakan. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Berjualan serabi solo sengaja dipilih Juningsih karena belum banyak yang menjual kudapan tersebut di Kabupaten Kudus. Dengan tekun dia mempelajari cara pembuatannya, termasuk mengikuti pelatihannya di kota tempat penganan itu berasal sekitar sedekade lalu.

“Saya ikut pelatihan itu di Solo. Biaya sendiri, karena penyelenggaranya swasta. Saya sengaja datang ke Solo karena memang dari situlah serabi ini berasa," tuturnya kepada Inibaru.id, belum lama ini.

Sebelum memutuskan untuk pergi ke Solo, dia sudah yakin bahwa keterampilan membuat serabi solo itu akan memunculkan peluang usaha untuknya. Benar saja, nggak lama setelah menguasai teknik pembuatan penganan ini dan membuka usaha di Kudus, dagangannya langsung laris manis.

"Di Kudus waktu itu masih sedikit yang menjual serabi solo. Saya ambil peluang itu dan sekarang sudah berjalan sekitar 10 tahun," kata dia.

Kekhasan Serabi Asmoro

Serabi solo yang telah digulung siap dijajakan kepada pembeli. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Secara umum, tampilan dan rasa serabi solo memang berbeda dengan serabi jenis lain yang ada di sekitar Kudus. Serabi yang banyak ditemukan biasanya yang berkuah santan atau menggunakan kinca (juruh). Sementara, serabi solo disajikan kering sehingga pengemasannya bisa dilakukan satuan dengan digulung.

“Serabi solo tidak menggunakan kuah santan dan gula merah cair (kinca) seperti serabi kebanyakan di Kudus. Serabi ini diberi topping di atasnya, lalu dibungkus dengan cara digulung memakai daun pisang," ucap Juningsih. "Serabi solo bisa digulung karena diangkat sebelum kering sehingga bertekstur lunak dan lembut."

Dari segi rasa, serabi solo cenderung manis dengan sedikit gurih khas santan. Aromanya harum dan teksturnya lembut saat dipegang. Ketika di mulut, serabi ini cukup lunak dan mudah dilumat, sehingga bisa menjadi sajian yang pas untuk semua kalangan, termasuk lansia yang sulit mengunyah sekalipun.

“Bagian tengah serabi solo sangat lunak sehingga bisa dinikmati segala kalangan. Meski tanpa juruh, rasa serabi ini sudah manis, berbeda dengan serabi kebanyakan di Kudus yang lebih kering, tebal, dan harus disiram kuah sebelum dinikmati,“ jelasnya.

Bahan Sederhana dan Mudah Dibuat

Juningsih sedang mencetak serabi solo di wajan. (Inibaru.id/ Alifia Ainun Nikmah)

Jika sudah paham komposisi, membuat serabi solo bukanlah pekerjaan sulit. Bahan-bahan yang dibutuhkan juga cukup sederhana. Juningsih mengatakan, bahan utama untuk membuat serabi solo adalah tepung terigu. Sekali produksi, biasanya dia menghabiskan sekitar 2 kilogram tepung.

"Dengan dua kilogram tepung, saya menambahkan santan kental dari satu buah kelapa. Agar manis pakai gula, sedangkan biar adonan mengembang menggunakan Fermipan (jenama ragi instan)," paparnya.

Cara membuatnya, dia membeberkan, tepung terigu terlebih dahulu dicampur ragi instan dan air agar menjadi adonan. Untuk adonan dari dua kilogram tepung, dia memberikan tiga sendok makan gula sebelum menambahkan santan kental.

"Setelah adonan jadi, serabi dicetak memakai wajan kecil yang sudah panas dan diolesi minyak wijen," ujarnya.

Tersedia Dua Varian Rasa

Proses menggulung serabi dengan beralaskan daun pisang. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Juningsih mengaku hanya menyediakan dua varian rasa untuk para pelanggannya, yakni orisinal dan cokelat. Untuk varian yang pertama, dia nggak menambahkan topping apa pun. Sementara, untuk varian kedua dia menambahkan sejumput meses cokelat sebagai topping.

"Meses ditambahkan saat adonan masih di wajan. Untuk membuatnya, adonan dituang sedikit ke wajan panas yang sudah diolesi minyak wijen, lalu ditaburi sejumput meses sesaat sebelum serabi diangkat," terangnya.

Serabi, lanjutnya, diangkat setelah mulai berwarna kecokelatan. Setelah diangkat, serabi nggak langsung digulung, tapi diangin-anginkan terlebih dulu di tampah. Jika sudah nggak terlalu panas barulah serabi diletakkan di atas daun pisang, lalu digulung dan dikunci dengan selotip.

"Saya jual Rp2.500 per biji. Buka dari pagi sampai sekitar jam delapan malam," tutupnya.

Kemampuan Serabi Asmoro bertahan hingga satu dekade lamanya ini menunjukkan bahwa serabi solo di pusat kota Kudus yang jauh dari "rumah"-nya tersebut layak untuk dijajal. Gimana, mau coba? (Alfia Ainun Nikmah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: