BerandaHits
Selasa, 19 Jan 2026 09:01

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

Ilustrasi: Pelaku bullying di Korea Selatan sulit masuk universitas top di negara tersebut. (Koreaherald/Newsis)

Pengin menekan kasus bullying, pemerintah Korea Selatan menerapkan aturan yang cukup tegas yang meminta universitas-universitas top di sana mempersulit pelaku bullying bisa kuliah di kampus-kampus tersebut.

Inibaru.id — Salah satu hal yang masih jadi masalah besar dalam dunia pendidikan Korea Selatan adalah perundungan alias bullying. Saking banyaknya kasus perundungan di sekolah, kita sampai sering melihatnya dibahas di film-film atau drama Korea.

Nah, hal ini ternyata bikin pemerintah Korea Selatan mengambil kebijakan yang cukup ekstrem. Mereka pengin memastikan siswa sekolah berpikir dua kali untuk menjadi pelaku bullying. Caranya? Dengan mempersulit mereka yang punya catatan merundung untuk masuk ke universitas top Korea, Gez.

Dilansir dari Nate, Jumat (16/1/2026), mulai tahun ajaran 2026, pelaku school violence atau bullying harus siap-siap mengubur mimpi masuk universitas top, khususnya di Seoul. Pasalnya, hampir semua kampus papan atas secara tegas menolak calon mahasiswa yang punya rekam jejak kekerasan di sekolah.

Aturan ini lahir dari kebijakan baru Kementerian Pendidikan Korea Selatan yang mewajibkan seluruh universitas memasukkan riwayat bullying sebagai faktor penilaian di semua jalur seleksi masuk, baik itu jalur akademik berbasis rapor, jalur esai, ujian tertulis, hingga bakat dan praktik. Intinya, tak ada lagi jalan mudah bagi mereka yang pernah tercatat sebagai pelaku kekerasan.

Data penerimaan mahasiswa terbaru menunjukkan dampak yang sangat nyata. Dari 3.273 pelamar dengan catatan bullying yang mendaftar ke 170 universitas dengan masa studi empat tahun di seluruh Korea Selatan, sebanyak 75 persen atau 2.460 orang dinyatakan gagal di jalur utama. Artinya, tiga dari empat pelamar dengan rekam jejak kekerasan tak berhasil melewati gerbang kampus.

Catatan jadi pelaku perundungan bakal mengurangi poin untuk bisa diterima di kampus. (Koreaherald/Yonhap)

Situasinya jauh lebih keras di universitas-universitas elit Seoul. Dari 11 kampus top, termasuk Seoul National University (SNU), Yonsei, Korea University, Sungkyunkwan, hingga Ewha, tercatat 151 pelamar dengan catatan bullying. Hasilnya? Sebanyak 150 orang atau 99 persen langsung gugur. Hanya satu pelamar yang lolos, itu pun di Kyung Hee University. SNU bahkan mencatat nol pelamar dengan riwayat bullying di jalur seleksi tersebut.

Beberapa kampus besar secara terbuka menyatakan hampir mustahil bagi pelaku bullying untuk lolos. Alasannya sederhana tapi krusial: persaingan masuk universitas top di Korea Selatan sangat ketat. Selisih nilai antara diterima dan tidak diterima sering kali hanya satu atau dua poin. Sekali ada pemotongan nilai akibat catatan kekerasan, peluang langsung anjlok.

Dalam sistem penilaian ini, universitas mengacu pada tingkat sanksi bullying yang tercatat di rapor sekolah menengah, mulai dari tingkat ringan hingga berat. Semakin tinggi tingkat pelanggaran, semakin besar pula pengurangan nilainya. Bahkan ada kampus yang memilih langkah ekstrem: melarang pendaftar dengan riwayat tertentu untuk ikut seleksi sama sekali.

Kebijakan ini bukan sekadar hukuman administratif. Pemerintah Korea Selatan ingin mengirim pesan tegas bahwa kekerasan di sekolah bukan kenakalan remeh yang bisa dilupakan begitu saja. Konsekuensinya panjang dan nyata, termasuk dalam urusan pendidikan tinggi.

Bagi sebagian orang, aturan ini terasa kejam. Namun bagi banyak pihak lain, inilah bentuk tanggung jawab sosial. Di tengah tingginya kasus bullying yang selama bertahun-tahun menjadi luka kolektif di Korea, kebijakan ini dianggap sebagai cara memberi efek jera sekaligus melindungi lingkungan kampus agar tetap aman.

Singkatnya, di Korea Selatan hari ini, prestasi akademik saja tidak cukup. Rekam jejak sikap dan perilaku ikut menentukan. Kalau di Indonesia, kira-kira hal ini mungkin diterapkan juga nggak, ya, Gez? (Arie Widodo/E07).

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: