BerandaHits
Senin, 22 Feb 2026 09:01

Statistik Catat Hanya Ada 2.591 Tunawisma di Seluruh Jepang

Tunawisma di Jepang tercatat hanya sedikit. Tapi, jumlah aslinya jauh lebih banyak. (Clickpetroleoegas)

Sayangnya, sejumlah pihak menyebut angka tunawisma di Jepang sebenarnya jauh lebih banyak dari jumlah tersebut. Berikut fakta-faktanya.

Inibaru.id - Kalau bicara soal tunawisma, bayangan yang muncul biasanya adalah deretan tenda di trotoar atau orang tidur di bawah jembatan. Tapi di Jepang, ceritanya agak berbeda. Negara dengan populasi sekitar 123 juta jiwa ini secara resmi hanya mencatat 2.591 tunawisma per Januari 2025.

Buatmu yang merasa angka ini biasa saja. Bayangkan saja Jepang yang ukurannya nggak jauh beda dari Pulau Sumatra yang besar banget itu, hanya memiliki dua ribuan tunawisma.

Data dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menunjukkan sebagian besar tunawisma adalah laki-laki, yaitu 2.346 orang. Sisanya terdiri atas 163 perempuan dan 82 orang yang identitasnya tidak diketahui. Kota dengan jumlah tertinggi adalah Osaka dengan 763 orang, disusul Tokyo sebanyak 565 orang.

Angka ini turun sekitar 8,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Kalau ditarik lebih jauh ke belakang, jumlah tunawisma di Jepang pernah mencapai lebih dari 25 ribu orang pada 2003. Artinya, secara statistik, Jepang berhasil menekan angka tunawisma secara signifikan.

Namun, angka resmi itu ternyata hanya bagian kecil dari cerita.

Tunawisma “tak terlihat”

Di Jepang, definisi tunawisma sangat spesifik. Mereka yang dihitung hanya orang yang benar-benar tidur di ruang terbuka seperti taman, pinggir sungai, atau jalanan. Sementara itu, orang yang tinggal di warnet 24 jam, hotel kapsul, atau bahkan di mobil pribadi tidak masuk hitungan resmi. Kelompok ini sering disebut sebagai “hidden homeless” atau tunawisma tersembunyi.

Meski punya pekerjaan, banyak dari mereka tidak mampu menyewa apartemen karena biaya hidup di kota besar Jepang sangat tinggi. Akhirnya, warnet jadi solusi sementara. Dengan membayar biaya harian yang relatif murah, mereka bisa tidur, mandi, dan tetap punya akses internet.

Banyak warga Jepang mengungsi di warnet untuk tidur karena nggak punya rumah. (Panos.co.uk/Adrian Evans)

Beberapa survei independen memperkirakan jumlah “pengungsi warnet” di Jepang bisa mencapai 100 ribu hingga 300 ribu orang. Angka ini jauh lebih besar dari statistik resmi.

Bekerja, tapi tetap tak punya rumah

Yang mengejutkan, sebagian tunawisma tersembunyi sebenarnya punya pekerjaan. Ada yang bekerja paruh waktu, ada juga yang bekerja penuh waktu. Tapi pendapatan mereka tetap tidak cukup untuk hidup mandiri.

Pandemi COVID-19 memperburuk situasi. Banyak pekerja kontrak, pekerja asing, dan anak muda kehilangan penghasilan. Tanpa tabungan atau keluarga di dekat mereka, warnet dan hotel kapsul menjadi satu-satunya pilihan.

Bagi warga asing, situasinya bisa lebih rumit. Hambatan bahasa, status visa, dan keterbatasan akses bantuan sosial membuat mereka lebih rentan kehilangan tempat tinggal.

Sistem bantuan yang terus berkembang

Pemerintah Jepang sebenarnya sudah mengambil langkah sejak awal 2000-an dengan membuat undang-undang khusus untuk membantu tunawisma. Program ini menyediakan pelatihan kerja, pusat dukungan, dan hunian sementara.

Upaya ini terbukti efektif menurunkan jumlah tunawisma yang terlihat di jalanan. Namun, fenomena tunawisma tersembunyi menunjukkan bahwa masalahnya belum sepenuhnya selesai.

Di balik citra Jepang sebagai negara maju, masih ada orang-orang yang hidup tanpa kepastian tempat tinggal. Mereka tidak selalu terlihat, tidak selalu tercatat, tapi tetap ada.

Angka 2.591 mungkin terlihat kecil. Tapi kenyataannya, kisah di balik angka itu jauh lebih kompleks. dan menjadi pengingat bahwa bahkan di negara paling tertib sekalipun, masih ada sisi kehidupan yang jarang terlihat. (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Pemerintah Siapkan 39 Bandara Baru, Total Bandar Udara di Indonesia Bakal Jadi 296

4 Jul 2026

Belajar Langsung dari Mbah Atemo, Belasan Anak Muda Lestarikan Mainan Tradisional Berbahan Kertas Bekas

6 Jul 2026

Mengenal Bunga Edelweiss Jawa, Si "Bunga Abadi" yang Justru Terancam Punah

6 Jul 2026

Dikira Bahasa Gaul, "Anjir" Justru Kosakata Lama Nelayan Pantura

7 Jul 2026

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan, Ini Dasar Pertimbangannya

10 Jul 2026

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

13 Jul 2026

Indonesia dan India Berkolaborasi Konservasi Candi Prambanan, Perkuat Pariwisata Budaya Kelas Dunia

14 Jul 2026

Warisan Sejarah Indonesia Kembali, Dua Arca Buddha Kuno Dipulangkan dari AS

14 Jul 2026

4 Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Makanan Berbahan Tepung Tapioka Terbaik 2026 Versi Taste Atlas

15 Jul 2026

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: