BerandaKulinary
Sabtu, 22 Mei 2026 17:08

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

Bukan sekadar sayur dan sambal kacang, pecel, lotek, dan gado-gado adalah cerita panjang tentang budaya, tradisi, dan percampuran peradaban di Nusantara. (Chatgpt AI)

Di balik kesamaan bumbu kacangnya, pecel, lotek, dan gado-gado ternyata menyimpan jejak sejarah, budaya, dan identitas daerah yang berbeda dalam perjalanan kuliner Nusantara.

Inibaru.id - Kalau sekilas dilihat, pecel, lotek, dan gado-gado memang tampak mirip. Sama-sama berisi sayuran dengan guyuran bumbu kacang. Tak heran banyak orang menganggap ketiganya hanyalah variasi dari makanan yang sama.

Padahal, di balik sepiring hidangan itu tersimpan jejak sejarah panjang, pengaruh budaya, hingga identitas daerah yang berbeda-beda.

Lebih dari sekadar makanan rumahan, pecel, lotek, dan gado-gado adalah cermin bagaimana masyarakat Nusantara sejak dulu mengolah alam, rempah, dan tradisi makan menjadi warisan kuliner yang bertahan lintas zaman.

1. Pecel

Di antara ketiganya, pecel disebut sebagai salah satu yang paling tua. Catatan sejarah menyebut makanan ini sudah dikenal sejak abad ke-9 pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Nama “pecel” bahkan tercatat dalam sejumlah naskah dan prasasti Jawa kuno seperti Prasasti Taji Ponorogo tahun 901 Masehi hingga Serat Centhini.

Pecel berkembang kuat di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama Madiun, Kediri, hingga Ponorogo. Ciri khasnya ada pada penggunaan sayuran hijau seperti bayam, kenikir, kacang panjang, dan tauge yang disiram sambal kacang bercita rasa gurih-pedas.

Yang menarik, tiap daerah punya karakter bumbu sendiri. Pecel Madiun misalnya dikenal memakai aroma daun jeruk yang kuat, sementara beberapa daerah lain menambahkan kencur atau wijen.

Dalam budaya Jawa, pecel juga lekat dengan kesederhanaan rakyat. Bahannya mudah ditemukan di kebun, proses memasaknya sederhana, tetapi gizinya lengkap. Karena itu, pecel menjadi makanan yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

2. Lotek

Berbeda dengan pecel yang kuat dalam tradisi Jawa, lotek tumbuh dari budaya Sunda di Jawa Barat. Banyak yang menyebut lotek sebagai “pertemuan” antara gado-gado dan pecel karena sama-sama memakai sayuran dan bumbu kacang, tetapi punya karakter sendiri.

Nama “lotek” diyakini berasal dari kata Jawa “lothèk” atau “luthik”, yaitu alat semacam spatula kayu untuk mengaduk sambal di cobek.

Filosofi lotek sangat dekat dengan budaya makan masyarakat Sunda yang mengutamakan kesegaran bahan. Karena itu, lotek sering menggunakan campuran sayur rebus dan sayur segar dengan bumbu kacang yang baru diulek saat akan disajikan.

Ciri khas lain lotek ada pada rasa kencur yang lebih kuat dibanding gado-gado. Aromanya lebih segar dan tajam. Biasanya lotek disantap bersama kerupuk, lontong, atau nasi hangat.

Di beberapa daerah seperti Bandung dan Yogyakarta, lotek bahkan berkembang menjadi identitas kuliner lokal yang khas.

3. Gado-Gado

Sementara itu, gado-gado tumbuh di lingkungan urban Betawi dan Jakarta. Namanya berasal dari istilah Betawi “digado”, yang berarti dimakan tanpa nasi utama.

Tak seperti pecel yang identik dengan tradisi Jawa pedesaan, gado-gado lahir dari percampuran budaya kota pelabuhan. Ada teori yang menyebut hidangan ini dipengaruhi budaya Portugis di Kampung Tugu, ada pula yang mengaitkannya dengan adaptasi kuliner masyarakat Tionghoa Betawi terhadap pecel Jawa.

Karena berkembang di kota multikultural, isi gado-gado juga lebih kompleks. Selain sayuran rebus, biasanya ada kentang, telur, tahu, tempe, lontong, hingga kerupuk.

Bumbu kacangnya cenderung lebih cair dan creamy dibanding pecel. Bahkan beberapa versi menambahkan santan agar rasa lebih kaya.

Kalau pecel merepresentasikan kesederhanaan desa dan lotek menonjolkan kesegaran Sunda, maka gado-gado menjadi simbol keberagaman kota yang penuh percampuran budaya.

Sama-Sama Bumbu Kacang, Beda Filosofi

Meski tampak serupa, ketiga makanan ini lahir dari cara hidup masyarakat yang berbeda.

Pecel tumbuh dari tradisi agraris Jawa yang sederhana dan membumi. Lotek mencerminkan budaya Sunda yang dekat dengan kesegaran alam. Sedangkan gado-gado lahir dari ruang pertemuan berbagai budaya di kota pelabuhan.

Perbedaan itu terlihat dari bahan, cara penyajian, hingga rasa bumbunya.

Pecel biasanya didominasi sayuran hijau dengan sambal kacang yang lebih pekat dan pedas. Lotek mengedepankan aroma kencur dan kesegaran bahan. Sedangkan gado-gado hadir lebih “ramai” dengan tambahan tahu, telur, kentang, dan lontong.

Hari ini, pecel, lotek, dan gado-gado bisa ditemukan hampir di seluruh Indonesia. Bahkan beberapa di antaranya mulai dikenal dunia sebagai bagian dari kekayaan kuliner Nusantara.

Namun lebih dari sekadar makanan, ketiganya menyimpan cerita tentang perjalanan budaya Indonesia: tentang pertanian, perdagangan, percampuran etnis, hingga kebiasaan masyarakat dalam mengolah hasil alam. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Jejak Yerusalem dalam Nama Kudus hingga Dijuluki Yerusalem van Java

21 Sep 2026

Prabowo Ungkap Rencana Bikin Bensin dari Batu Bara, Ini Tantangannya

22 Sep 2026

BDx Bangun Pusat Data AI 640 MW di Jatiluhur

23 Sep 2026

Dari Kuliner Perantauan hingga Jadi Identitas Daerah, Ini Fakta Menarik Mi Ayam Wonogiri

24 Sep 2026

SKCK Bakal Bisa Dicetak Sendiri, Tak Perlu Lagi ke Kantor Polisi

25 Sep 2026

670 Penari Bawa Tari Lajur Caping Kalo Kudus Pecahkan Rekor MURI

26 Sep 2026

67 Juta Orang Gunakan QRIS, Apakah Masyarakat Mulai Tinggalkan Uang Tunai?

28 Sep 2026

Dari Gunung hingga Tokoh Wayang, Ini Inspirasi Nama Kereta Api di Indonesia

29 Sep 2026

Antrean Haji Dipangkas, dari 49 Tahun Kini Jadi 14 Tahun

29 Sep 2026

Vaksin Hewan Buatan Indonesia Perdana Diekspor ke Afrika

30 Sep 2026

STNK Digital Resmi Diluncurkan, Dokumen Kendaraan Bisa Diakses dari Ponsel

1 Okt 2026

Terapi TBC Dikembangkan Lebih Singkat untuk Cegah Putus Obat

2 Okt 2026

Kios SIM Hadir, Perpanjang SIM A dan C Bisa Cetak Mandiri

3 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: