BerandaTradisinesia
Selasa, 11 Mei 2026 18:09

Larung Sesaji dan 400 Kapal Warnai Sedekah Laut Tambaklorok

Ratusan kapal nelayan mengikuti prosesi larung sesaji dalam puncak Sedekah Laut dan Bumi Tambaklorok 2026 di perairan pesisir utara Kota Semarang. (Dok. Pemkot Semarang)

Sekitar 400 kapal nelayan memadati perairan Tambaklorok dalam tradisi Sedekah Laut dan Bumi 2026 yang menjadi wujud syukur masyarakat pesisir sekaligus pengingat pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan laut.

Inibaru.id - Langit pesisir utara Kota Semarang masih diselimuti mendung tipis ketika bunyi klakson kapal mulai bersahutan dari bibir kampung nelayan Tambaklorok, Minggu (10/5/2026). Satu per satu kapal bergerak meninggalkan dermaga, membelah perairan yang sejak pagi dipenuhi warga dan nelayan yang datang dari berbagai sudut kampung.

Bendera warna-warni berkibar di atas tiang kapal. Anak-anak berlarian di tepian kampung, sementara para warga berdiri berdesakan menyaksikan iring-iringan kapal yang perlahan menuju laut lepas. Sekitar 400 kapal nelayan memadati perairan Tambaklorok dalam puncak Sedekah Laut dan Bumi Tambaklorok 2026.

Tradisi tahunan masyarakat pesisir utara Kota Semarang itu kembali digelar sebagai wujud syukur atas limpahan hasil laut sekaligus pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam tidak bisa dipisahkan begitu saja.

Di tengah iring-iringan kapal, sebuah kepala kerbau yang sebelumnya dikirab keliling kampung dibawa menuju tengah laut untuk dilarung bersama berbagai sesaji. Prosesi berlangsung khidmat. Sejumlah nelayan tampak menundukkan kepala, sementara doa-doa pelan terdengar di antara embusan angin laut.

Bagi warga Tambaklorok, sedekah laut bukan sekadar pesta rakyat. Tradisi itu telah diwariskan turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti yang turut mengikuti prosesi larung menggunakan kapal TNI AL menyebut sedekah laut sebagai bentuk bakti masyarakat kepada alam.

“Ini adalah bakti kita kepada laut dan kita minta laut untuk menjaga kita, menjadi sumber rezeki bagi kita dan berharap bahwa laut dan manusia bisa sinergi saling membantu membawa ketenangan, ketentraman, dan kesejahteraan,” ujarnya.

Tradisi Sedekah Laut dan Bumi Tambaklorok tahun ini mengusung tema Nguri-uri Kabudayan dan Pelestarian Tradisi. Rangkaian acara telah dimulai sejak Sabtu (9/5) melalui doa arwah jama’, khataman Al-Qur’an, hingga malam tirakatan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambaklorok.

Memasuki puncak acara, suasana kampung nelayan berubah semakin meriah. Pedagang makanan memenuhi pinggir jalan, suara gamelan mengiringi kirab kepala kerbau, sementara warga dari berbagai daerah datang menyaksikan tradisi yang tetap bertahan di tengah perubahan wajah pesisir Semarang.

Kirab Kepala Kerbau

Kirab kepala kerbau menjadi salah satu bagian paling menyita perhatian. Diiringi musik tradisional dan doa-doa warga, iring-iringan berjalan melewati gang-gang kampung sebelum akhirnya menuju dermaga untuk dilarung ke laut.

Di tengah modernisasi kawasan pesisir dan pembangunan kota yang terus bergerak, warga Tambaklorok masih menjaga tradisi itu sebagai bagian dari identitas kampung nelayan.

“Tradisi ini adalah bukti bahwa masyarakat tidak pernah lupa pada akarnya. Larung sesaji ini menjadi cerita tentang budaya, tentang karya, karsa, dan rasa. Dan ini adalah ucapan syukur kepada Gusti Pangeran atas limpahan dan keberkahan dari laut,” kata Agustina.

Tradisi sedekah laut juga menyimpan pesan tentang cara masyarakat pesisir memandang alam. Laut tidak hanya dilihat sebagai ruang mencari nafkah, tetapi juga bagian dari kehidupan yang harus dijaga dan dihormati bersama. Nilai itu terus diwariskan melalui ritual dan tradisi yang masih bertahan hingga sekarang.

Menurut Agustina Wilujeng Pramestuti, pesan tersebut terasa semakin relevan di tengah kondisi cuaca yang makin tidak menentu. Para nelayan kini harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari gelombang tinggi, perubahan pola musim, hingga persoalan kerusakan lingkungan laut yang perlahan memengaruhi hasil tangkapan.

Setelah prosesi larung selesai, suasana Tambaklorok berubah menjadi perayaan rakyat. Pagelaran wayang kulit digelar semalam suntuk, diiringi bunyi gamelan yang bersautan dengan riuh obrolan warga. Aroma kuliner khas pesisir pun memenuhi sudut-sudut kampung nelayan yang malam itu tampak lebih hidup dari biasanya.

Rangkaian Sedekah Laut dan Bumi Tambaklorok 2026 kemudian ditutup melalui pengajian akbar pada Senin (11/5/2026).

Di tengah pesatnya pembangunan kawasan pesisir Semarang, masyarakat Tambaklorok masih berusaha menjaga tradisi yang telah mengakar selama puluhan tahun. Bagi mereka, laut bukan sekadar bentang air tempat mencari ikan, melainkan ruang hidup yang selalu disertai doa, harapan, dan rasa syukur yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Sejarah Marga Kolopaking, Trah Bangsawan Kebumen yang Berasal dari Kisah Kelapa Aking

3 Agu 2026

Berkolaborasi dengan China, Lampung Siap Luncurkan Satelit Lampung-1

4 Agu 2026

Naik Lima Kali Lipat, Biaya Lepas Status WNI Resmi Naik Jadi Rp5 Juta, Ini Alasannya

5 Agu 2026

Kemenkeu Ambil Alih 60% Saham KCIC untuk Restrukturisasi Utang Whoosh

6 Agu 2026

CoreWeave Investasi Miliaran Dolar AS, Bangun Tiga Pusat Data AI Pertama di Indonesia

7 Agu 2026

Wayang Beber, Wayang Tertua di Nusantara yang Masih Bertahan hingga Kini

8 Agu 2026

Desa Giyombong Pernah Jadi Ibu Kota Jawa Tengah pada 1948, Ini Kisahnya

10 Agu 2026

Tari Lengger Banyumas: Warisan Budaya Penuh Makna yang Tetap Menari Melintasi Zaman

11 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: