Inibaru.id - Perayaan Idulfitri di sejumlah wilayah di Jawa nggak berhenti sehari atau dua hari setelah memasuki Syawal, bulan yang menandai berakhirnya Ramadan. Di banyak kota, perayaan ini juga akan berlangsung hingga seminggu setelahnya, bahkan lebih.
Masyarakat Pekalongan menyebut "lebaran kedua" itu sebagai Syawalan, sedangkan orang Kudus menamainya Bodo Kupat. Biasanya, ada pelbagai tradisi yang menyertai perayaan sepekan setalah Idulfitri ini. Di Kabupaten Jepara, ada tradisi yang disebut Lomban.
Lomban adalah bagian dari rangkaian ritual sedekah laut yang dilakukan masyarakat setempat yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Tradisi ini dibuat sebagai wujud dari permohonan perlindungan bagi para nelayan serta harapan akan kelimpahan hasil laut.
Secara harfiah, sedekah laut adalah ritual melarung kepala kerbau ke laut. Nah, sebelum kepala dilarung, masyarakat setempat akan membuat arak-arakan sesaji, yang kemudian membesar menjadi pesta rakyat, yang dipusatkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujungbatu, Kecamatan Jepara.
Mengirab Kerbau Keliling Desa
Tahun ini, ritual tersebut kembali digelar di TPI Ujungbatu. Hari masih pagi ketika seekor kerbau bule berwarna cokelat pirang yang berdiri gagah dengan hiasan di kepalanya mulai dikerubuti massa. Kerbau itu kemudian akan dikirab mengelilingi desa dengan leher terikat tali di sisi kanan dan kiri.
Arak-arakan massa akan mengelilingi desa sejauh kurang lebih satu kilometer, dimulai dari TPI Ujungbatu hingga Rumah Pemotongan Hewan Joko Kuto. Kirab dipimpin oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo bersama Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar.
Turut serta dalam barisan kirab terdepan adalah jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Mereka berjalan kaki mengikuti proses kirab selama sekitar 50 menit.
"Bagi masyarakat setempat, kirab ini bukan sekadar acara seremonial, tapi bagian penting dari identitas budaya pesisir Jepara," sebut Bupati Witiarso dalam sambutannya menjelang kirab.
Makna Filosofis yang Mendalam
Bagi masyarakat Jepara, kerbau bule yang diarak memiliki makna filosofis yang mendalam, karena melambangkan semangat baru dan kekuatan besar. Witiarso mengatakan, kirab ini bukan sekadar arak-arakan, tetapi juga simbol keterbukaan bahwa kerbau yang akan dilarung adalah utuh, bukan kepala saja.
"Ini sekaligus menjawab pemahaman yang berkembang di masyarakat serta menjaga nilai-nilai kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya.
Suara musik tradisional Carang Pakang yang mengiringi sepanjang kirab membuat prosesi kirab yang kembali digelar setelah enam tahun vakum ini menjadi terasa kian sakral. Untuk menambah kesakralan, kerbau yang dipilih juga bukan kerbau biasa, tapi kerbau bule sebagaimana hasil keputusan bersama masyarakat.
"Keunikan ini telah menyedot perhatian ribuan masyarakat dan menjadi daya tarik wisata Jepara," tuturnya.
Melestarikan Tradisi Lama
Ribuan orang memang tampak memadati sisi kanan dan kiri sepanjang menuju rumah pemotongan. Nggak sedikit yang mengabadikan momen tersebut hingga tiba di tempat penjagalan kerbau bule. Wiwit, sapaan akrab Witiarso mengatakan, ritual ini adalah upaya masyarakat untuk melestarikan tradisi lama.
Begitu tiba di RPH Joko Kuto, kerbau pun segera disembelih. Kepalanya akan menjadi sesaji yang dilarung dalam miniatur kapal keesokan harinya, sedangkan bagian tubuh lainnya dimasak dan disantap bersama oleh warga.
Bagi masyarakat Jepara, kirab ini bukan sekadar arak-arakan, melainkan wujud nyata dalam menjaga warisan leluhur yang sarat makna. Alhamdulillah, antusiasme masyarakat luar biasa,” ujar Wiwit usai penyembelihan kerbau di RPH Joko Kuto.
Keesokan paginya, ribuan masyarakat Jepara dan sekitarnya kembali memadati area TPI Ujungbatu untuk menyaksikan pelarungan kepala kerbau secara langsung. Puluhan perahu bersiap membawa penumpang untuk mengiringi prosesi tersebut.
Dilarung di Sekitar Pulau Menjangan
Setelah berada di perairan sekitar Pulau Menjangan, miniatur kapal yang berisi kepala kerbau bule dilarung ke laut sebagai wujud syukur masyarakat Jepara atas hasil laut yang melimpah. Setelah dilarung, masyarakat sekitar segera berenang untuk berebut kepala kerbau tersebut.
“Prosesi ini menjadi bentuk ungkapan rasa syukur, doa, dan harapan agar laut tetap memberikan keberkahan, keselamatan, serta hasil yang melimpah bagi masyarakat Jepara, khususnya para nelayan,” ujar Wiwit.
Dia menjelaskan bahwa tradisi ini telah berlangsung sejak lama, bahkan lebih dari satu abad, dan menjadi kekayaan budaya yang tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga memperkuat kebersamaan serta identitas masyarakat pesisir Jepara.
“Semoga kegiatan hari ini menjadi keberkahan bagi kita semua, khususnya masyarakat Jepara,” jelasnya.
Menjadi Agenda Wisata Rutin
Wiwit mengatakan, ke depan Pemkab Jepara berencana menjadikan tradisi yang dikenal sebagai Lomban Syawalan itu sebagai agenda wisata rutin. Rangkaian ritual tersebut juga akan dikemas lebih menarik agar menarik minat wisatawan, baik lokal maupun internasional.
Salah satu penambahan yang akan dilakukan, dia menyebutkan, termasuk di dalamnya menambahkan sejumlah atraksi air untuk menghibur warga yang nggak ikut melarung kepala kerbau ke tengah laut. Pemkab juga berencana bekerja sama dengan TNI AL untuk melibatkan kapal perang mereka dalam tradisi budaya ini.
“Bule-bule (warga asing) juga akan kami ajak. Tradisi budaya khas Jepara ini layak diangkat agar lebih mendunia. Ini juga bagian dari komitmen kami dalam nguri-uri budaya tradisi di Jepara,” tandasnya.
Sepertinya ke depan bakal lebih seru ya, Gez? Segera masukkan dalam bucket lists libur lebaran kamu tahun depan ya! (Alfia Ainun Nikmah/E10)
