BerandaInspirasi Indonesia
Kamis, 16 Sep 2026 13:40

25.000 Tahun Lalu, Manusia Purba Sulawesi Redakan Sakit Gigi dengan Pinang

manusia purba di Sulawesi yang diduga mengisap buah pinang untuk meredakan sakit gigi sekitar 25.000 tahun lalu. (Jurnal Science Advance)

Penelitian mengungkap manusia purba di Sulawesi sekitar 25.000 tahun lalu diduga mengisap buah pinang untuk membantu meredakan sakit gigi, berdasarkan jejak senyawa arecoline dan pola keausan pada gigi mereka.

Inibaru.id - Jauh sebelum kebiasaan menyirih dikenal seperti sekarang, manusia di Sulawesi ternyata diduga sudah memanfaatkan buah pinang dengan cara yang berbeda.

Penelitian terbaru menemukan bukti bahwa manusia pemburu-pengumpul di Sulawesi telah mengisap buah pinang utuh sekitar 25.000 tahun lalu. Temuan tersebut menjadi bukti paling awal yang diketahui mengenai penggunaan rutin tanaman psikoaktif oleh manusia.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada 9 September 2026 itu dipimpin Profesor Adam Brumm dari Griffith University bersama sejumlah arkeolog Indonesia dari Universitas Hasanuddin dan BRIN.

Petunjuk kebiasaan tersebut ditemukan dari dua sisa kerangka manusia pemburu-pengumpul yang ditemukan di Sulawesi Selatan.

Kerangka pertama, Maros-LBB-1a, berasal dari sekitar 25.000–16.000 tahun lalu dan ditemukan di situs Leang Bulu Bettue. Sementara itu, kerangka kedua, CPL-R2a, berasal dari sekitar 7.600–6.300 tahun lalu dan ditemukan di Leang Cappalombo 1.

Keduanya memiliki pola keausan gigi yang tidak biasa. Permukaan gigi menunjukkan alur melingkar yang dalam, membulat, dan pada beberapa bagian telah membentuk rongga. Pola tersebut berbeda dari keausan yang umumnya muncul akibat mengunyah makanan.

Para peneliti kemudian melakukan analisis biomolekuler terhadap gigi kedua individu tersebut. Hasilnya ditemukan jejak arecoline, senyawa alkaloid neuroaktif utama yang terdapat dalam buah pinang.

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa keausan gigi itu berkaitan dengan kebiasaan mengisap buah pinang utuh secara berulang.

Konsumsi Pinang

Cara mengonsumsi pinang pada masa itu tampaknya berbeda dengan praktik menyirih yang dikenal sekarang.

Masyarakat modern umumnya mengunyah biji pinang bersama kapur sirih, sedangkan penelitian ini menunjukkan bahwa manusia pemburu-pengumpul di Sulawesi kemungkinan hanya menyimpan dan mengisap buah pinang utuh di dalam mulut.

Eksperimen yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa arecoline ternyata dapat dilepaskan hanya dengan menyimpan buah pinang utuh dalam rongga mulut dalam waktu lama. Artinya, senyawa tersebut tetap dapat memberikan efek neuroaktif meski pinang tidak dikunyah bersama kapur.

Peneliti menduga kebiasaan tersebut mungkin berkaitan dengan kondisi gigi mereka. Kedua individu memiliki kerusakan gigi yang cukup parah, sehingga mengisap pinang diduga menjadi salah satu cara untuk meredakan rasa sakit.

Arecoline diketahui memiliki efek pada sistem saraf dan dapat memberikan sensasi yang mengubah persepsi. Dalam konteks manusia purba tersebut, efeknya kemungkinan memberikan rasa kebas atau membantu mengurangi rasa nyeri pada gigi.

Namun, kebiasaan itu ternyata juga membawa dampak buruk.

Buah pinang yang keras dan abrasif diduga menyebabkan gigi kedua individu tersebut terkikis secara perlahan akibat kebiasaan yang dilakukan berulang kali.

Pada tingkat yang parah, kerusakan bahkan dapat membuka ruang pulpa, bagian dalam gigi yang berisi saraf dan pembuluh darah. Kondisi tersebut justru berpotensi menimbulkan rasa sakit yang lebih berat serta meningkatkan risiko infeksi.

Karena itu, para peneliti menduga adanya kemungkinan siklus yang tidak menguntungkan: pinang digunakan untuk membantu meredakan sakit gigi, tetapi kebiasaan mengisapnya dalam jangka panjang justru memperparah kerusakan gigi.

Temuan ini sekaligus memperlihatkan bahwa hubungan manusia dengan tanaman yang memiliki efek neuroaktif ternyata memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada perkiraan sebelumnya.

Sebelumnya, bukti penggunaan pinang sebagai bahan psikoaktif diperkirakan baru muncul sekitar 3.500 tahun lalu. Temuan di Sulawesi kini mendorong jauh ke belakang perkiraan tersebut, hingga masa ketika manusia masih hidup sebagai pemburu-pengumpul, jauh sebelum pertanian berkembang.

Dari jejak yang tersisa pada gigi, para peneliti kini mendapatkan gambaran baru tentang bagaimana manusia Sulawesi pada masa lalu mengenali dan memanfaatkan tumbuhan di sekitarnya, termasuk tanaman yang dapat memengaruhi tubuh dan sistem saraf. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: