BerandaHits
Rabu, 8 Jul 2026 11:49

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

Penulis:

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit FloresAdministrator
Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

Ilustrasi Homo floresiensis di Pulau Flores yang menurut penelitian terbaru kemungkinan lebih sering memakan sisa bangkai stegodon setelah disantap komodo. (CNBC Indonesia)

Penelitian terbaru mengungkap Homo floresiensis diduga lebih sering memanfaatkan sisa mangsa komodo daripada berburu hewan besar sendiri.

Inibaru.id - Selama lebih dari dua dekade, Homo floresiensis atau yang dikenal sebagai manusia hobbit dari Flores dianggap sebagai salah satu spesies manusia purba yang memiliki kemampuan berburu, menggunakan alat batu, hingga mengendalikan api.

Namun, sebuah penelitian terbaru menghadirkan gambaran yang berbeda. Melansir dari National Geographic, manusia purba bertubuh mungil tersebut kemungkinan besar bukan pemburu hewan besar seperti yang selama ini diyakini, melainkan lebih sering memanfaatkan sisa-sisa bangkai yang lebih dahulu disantap komodo.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science Advances melalui studi berjudul Taphonomic Analysis at Liang Bua Reveals the Behavioral and Technological Capabilities of Homo floresiensis yang terbit pada 3 Juli 2026.

Sejak ditemukan di Gua Liang Bua, Flores, pada 2003, Homo floresiensis menarik perhatian dunia karena memiliki tinggi hanya sekitar satu meter dengan ukuran otak yang kecil. Meski demikian, keberadaan alat-alat batu dan tulang stegodon yang memiliki bekas sayatan membuat para ilmuwan lama beranggapan bahwa mereka mampu berburu hewan besar.

Namun, penulis utama penelitian, paleoantropolog University of Tübingen, Elizabeth Grace Veatch, menilai anggapan tersebut perlu dibuktikan kembali.

"Kami ingin mengetahui apakah Homo floresiensis benar-benar merupakan pemburu seperti yang telah digambarkan selama beberapa dekade," ujar Veatch, dikutip dari National Geographic.

Untuk menguji hipotesis tersebut, tim peneliti melakukan eksperimen terhadap seekor komodo bernama Rinca di Zoo Atlanta. Komodo itu diberi bangkai kambing, lalu seluruh tulangnya dikumpulkan untuk dipelajari di bawah mikroskop.

Veatch mengaku terkejut dengan cara komodo memangsa.

"Dia berhati-hati dan terencana," kata Veatch saat menggambarkan perilaku komodo tersebut.

Dari eksperimen itu, para peneliti berhasil mengidentifikasi pola khas bekas gigitan komodo dan membedakannya dari bekas sayatan alat batu.

Saat pola tersebut dibandingkan dengan fosil stegodon dari Liang Bua, hasilnya cukup mengejutkan.

Bekas gigitan komodo banyak ditemukan pada bagian tubuh yang kaya daging, seperti bahu dan pinggul. Sebaliknya, bekas sayatan yang diduga dibuat Homo floresiensis justru berada di bagian tubuh yang hanya menyisakan sedikit daging.

"Awalnya, saya pikir yang saya lihat hanyalah bekas sayatan. Namun hampir semuanya ternyata adalah sisa-sisa gigi komodo," ungkap Veatch.

Temuan ini menunjukkan bahwa komodo kemungkinan besar lebih dulu memangsa stegodon, sedangkan Homo floresiensis datang belakangan untuk mengambil sisa-sisa daging yang masih dapat dimakan.

Profesor asal-usul manusia dari Griffith University, Michael Petraglia, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menilai hasil riset ini cukup meyakinkan.

"Para penulis membuat argumen yang sangat kuat dan meyakinkan bahwa Homo floresiensis merupakan pemakan bangkai pasif," ujarnya, seperti dikutip dari National Geographic.

Penelitian terbaru ini juga meninjau kembali dugaan bahwa Homo floresiensis telah menguasai penggunaan api.

Melansir dari National Geographic, dari ribuan fragmen tulang stegodon yang dianalisis, hanya satu tulang yang menunjukkan bekas terbakar. Lokasinya pun berada di batas lapisan yang dihuni Homo sapiens, sehingga diduga bukan berasal dari aktivitas Homo floresiensis.

Selain itu, lebih dari 4.000 tulang tikus yang ditemukan pada lapisan Homo floresiensis tidak memperlihatkan bekas terbakar sama sekali. Sebaliknya, tulang-tulang dari lapisan Homo sapiens justru banyak ditemukan dalam kondisi hangus.

Temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa manusia hobbit kemungkinan belum menguasai penggunaan api seperti yang selama ini diyakini.

Masih Menyimpan Banyak Misteri

Meski hasil penelitian ini mengubah pandangan mengenai perilaku Homo floresiensis, para ilmuwan menegaskan bahwa asal-usul spesies tersebut masih menjadi misteri.

Arkeolog Thomas Sutikna dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang juga menjadi salah satu penulis penelitian, mengatakan proses penelitian selama bertahun-tahun justru membantu memperbaiki pemahaman mengenai manusia hobbit.

"Rasanya sangat memuaskan mengetahui bahwa kerja keras kami telah menyempurnakan pengetahuan kami tentang Homo floresiensis, meskipun itu berarti beberapa interpretasi awal kami ternyata salah," ujar Sutikna.

Sementara itu, Veatch menilai kemampuan Homo floresiensis bertahan hidup di Pulau Flores selama ratusan ribu tahun tetap merupakan pencapaian yang luar biasa.

"Fakta bahwa mereka bertahan hidup terisolasi di sebuah pulau hingga 50.000 tahun yang lalu tanpa perlu berburu atau menggunakan api untuk bertahan hidup sangatlah luar biasa," kata Veatch.

Penelitian ini sekaligus membuka kembali perdebatan mengenai asal-usul Homo floresiensis. Apakah mereka berevolusi dari Homo erectus yang mengalami penyusutan tubuh akibat isolasi di pulau, atau berasal dari spesies manusia yang sejak awal memang bertubuh kecil, hingga kini masih menjadi pertanyaan yang belum memiliki jawaban pasti. (Ike/E01)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved