BerandaTradisinesia
Sabtu, 4 Sep 2026 11:47

Saat Serayu Jadi Pengantin dalam Prosesi Manten Gethek

Sepasang pengantin simbolik menaiki gethek dalam prosesi Manten Gethek di Sungai Serayu, Desa Kaliori, Banyumas, Sabtu (29/8/2026). (Dok. Istimewa)

Manten Gethek dalam Bisik Serayu Festival 2026 mempertemukan manusia, gethek, dan Sungai Serayu dalam sebuah pertunjukan simbolik untuk membaca kembali hubungan masyarakat Banyumas dengan sungai.

Inibaru.id - Di tepian Sungai Serayu, Desa Kaliori, Kabupaten Banyumas, sepasang laki-laki dan perempuan berpakaian layaknya pengantin berjalan menuju sungai, Sabtu (29/8/2026) sore. Setelah diarak dari daratan, keduanya naik gethek dan perlahan bergerak menuju tengah sungai.

Namun, siapa sebenarnya yang sedang dinikahkan?

Prosesi tersebut merupakan bagian dari Manten Gethek, pertunjukan utama dalam Bisik Serayu Festival 2026. Gethek, manusia, dan Sungai Serayu dipertemukan dalam sebuah pertunjukan yang mencoba menggambarkan kembali hubungan manusia dengan sungai.

Penggagas Bisik Serayu, Rianto, menyebut Manten Gethek sebagai pertunjukan berbasis air (water-based performance) yang memvisualisasikan pernikahan simbolik antara manusia dan Serayu.

“Pertunjukan itu bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah laku spiritual dan kosmologi Banyumasan,” ungkap Rianto.

Bagi masyarakat Banyumas, Serayu memang bukan sekadar aliran air. Sungai yang berhulu di kawasan Dieng, Wonosobo, itu mengalir melewati sejumlah wilayah hingga bermuara di Samudra Hindia. Sepanjang alirannya, Serayu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, mulai dari pertanian, permukiman, hingga berbagai aktivitas sosial dan budaya.

Kedekatan masyarakat dengan Serayu juga tercermin dalam kesenian. Salah satunya Kunclungan di Desa Plana.

Dahulu, warga yang selesai bekerja di sawah kerap turun ke Serayu untuk mandi dan beristirahat. Dari aktivitas sederhana itu lahir permainan bunyi ketika tangan ditepukkan dan digerakkan di permukaan air. Sungai pun menjadi tempat untuk bertemu, bermain, sekaligus menciptakan kesenian.

Jejak semacam itulah yang coba dihidupkan kembali melalui Bisik Serayu. Pada 2024, Kunclungan kembali dihadirkan dalam festival. Setahun kemudian, Serayu menjadi ruang ruwatan dan labuhan sekaligus tempat mengenang Blabur Banyumas, banjir besar akibat luapan Serayu pada 1861. Tahun ini, hubungan manusia dan sungai diwujudkan melalui Manten Gethek.

Festival tersebut juga mempertemukan berbagai kelompok seni, komunitas, sastrawan, serta seniman dari dalam dan luar negeri. Salah satunya kolaborasi Dewandaru Dance Company dari Jepang dengan Rianto dan Agung Gunawan dalam Kulu-kulu dan Lengger Lanang.

Rianto sendiri punya hubungan panjang dengan Serayu dan Kaliori. Lahir dan tumbuh di wilayah tersebut, ia kemudian membawa kesenian Lengger Lanang hingga ke panggung internasional. Bersama istrinya, penari Jepang Miray Kawashima, Rianto mendirikan Dewandaru Dance Company di Tokyo.

Kini, pengalaman dari berbagai panggung dunia itu dibawanya kembali ke kampung halaman melalui Bisik Serayu.

Manten Gethek

Manten Gethek bukan berarti sebuah ritual lama yang sejak dahulu dilakukan persis seperti yang terlihat di Kaliori. Pertunjukan tersebut lebih tepat dipahami sebagai cara baru untuk membaca simbol dan hubungan lama antara manusia dengan alam.

Gethek yang dahulu menjadi sarana menyeberangi sungai kini digunakan sebagai bagian dari prosesi menuju tengah Serayu. Sementara figur pengantin menjadi simbol hubungan yang hendak dipertautkan: manusia dan sungai.

Anggota DPR RI Siti Mukaromah yang hadir dalam festival menyebut Bisik Serayu membawa nilai yang dekat dengan falsafah Banyumas, yang menurutnya bertumpu pada Gunung Slamet, Sungai Serayu, dan karakter blakasuta.

“Gununge mulang kukuh, Serayune mulang mili, serta Blakasuta mulang jujur,” katanya.

Pegiat budaya sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya Unsoed, Nisa Roiyasa, juga melihat Serayu sebagai bagian penting dari ekosistem kebudayaan Banyumas. Menurutnya, Gunung Slamet dan Sungai Serayu merupakan dua ruang yang bisa terus dikembangkan bersama untuk membaca sejarah dan kebudayaan Banyumas.

“Saya berharap ke depan kedua ekosistem ini bisa berkolaborasi,” ujarnya.

Pada akhirnya, Bisik Serayu tidak sedang berusaha mengembalikan masa lalu. Festival ini justru mengajak masyarakat melihat kembali kedekatan yang mungkin perlahan terlupakan: bahwa sungai pernah menjadi tempat bekerja, beristirahat, bermain, berdoa, bercerita, hingga menciptakan kesenian.

Di Kaliori, hubungan itu kembali dipertunjukkan melalui tubuh, bunyi, gethek, dan sebuah perkawinan simbolik. Kali ini, Serayu-lah yang menjadi pengantin. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Indonesia Dinobatkan sebagai Negara Paling Ramah di Dunia

5 Okt 2026

Penantian Panjang Berakhir, Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

6 Okt 2026

Soal Ijazah Gibran, MK Tak Temukan Bukti Setara SMA

7 Okt 2026

Biaya Haji 2027 Ditetapkan Rp98,4 Juta, Jemaah Menanggung Sekitar Rp54,6 Juta

8 Okt 2026

Sirkuit Mandalika Kantongi Homologasi Grade A FIM untuk MotoGP 2026

9 Okt 2026

Mengulik Asal Nama Rondo Royal, Jajanan Tape Goreng Khas Jepara

11 Okt 2026

Penonton MotoGP Mandalika 2026 Tembus 157 Ribu, Cetak Rekor Baru

12 Okt 2026

Gentengisasi Jateng Disiapkan, 1,1 Juta Keping Genteng Dibutuhkan

13 Okt 2026

Pemerintah Tutup Permanen Ekspor Benih Lobster, Penyelundup Bakal Diburu

14 Okt 2026

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: