Inibaru.id - Dongeng Timun Mas yang lekat dengan masa kecil masyarakat Indonesia kembali diangkat ke layar dalam bentuk animasi melalui film Timun Mas dan Tenun Takdir. Film ini menghadirkan kisah rakyat asal Jawa Tengah dengan pendekatan visual modern dan teknologi CGI.
Trailer terbaru film tersebut memperlihatkan Kana, karakter Timun Mas, yang harus berhadapan dengan Buto Ijo di tengah hutan. Kisah klasik tentang perjuangan seorang gadis melawan raksasa itu dikemas dengan visual animasi yang lebih modern untuk memperkenalkannya kembali kepada generasi baru.
Film ini merupakan kolaborasi kreator dan sutradara Andrey Pratama, penulis naskah Ratih Kumala, serta studio animasi Imagimata. Proyek tersebut telah dikerjakan oleh tim Imagimata sejak 2021.
Salah satu hal yang menarik dari produksi Timun Mas dan Tenun Takdir adalah proses pembuatannya yang dilakukan secara manual tanpa menggunakan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Produksi film melibatkan 100 persen talenta Indonesia. Proses tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan karya animasi lokal yang mampu mengangkat cerita Nusantara dengan kualitas visual yang lebih modern.
Penggunaan CGI juga membuat dunia Timun Mas ditampilkan dengan pendekatan yang berbeda dari adaptasi cerita rakyat sebelumnya. Meski demikian, kisahnya tetap berakar pada cerita rakyat Jawa tentang Timun Mas dan Buto Ijo.
Karakter Timun Mas dalam film ini disuarakan oleh Mutiara Azka. Namanya sebelumnya dikenal melalui panggung teater musikal, salah satunya sebagai Sophie Sheridan dalam pertunjukan Mamma Mia! di Jakarta.
Kehadiran talenta dari berbagai bidang tersebut melengkapi proses produksi film yang seluruhnya melibatkan pekerja kreatif Indonesia. Sejauh ini tanggal penayangan resminya di bioskop belum diumumkan secara pasti.
Melalui Timun Mas dan Tenun Takdir, cerita rakyat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi kembali mendapat ruang dalam medium animasi. Film ini sekaligus menjadi salah satu upaya memperkenalkan kekayaan cerita Nusantara kepada penonton masa kini melalui bahasa visual yang lebih dekat dengan generasi baru. (Ike/E01)
