Inibaru.id – Jalan Pantai Utara atau yang lebih dikenal sebagai Jalan Pantura merupakan salah satu jalur transportasi terpenting di Pulau Jawa. Jauh sebelum hadirnya Jalan Tol Trans-Jawa, jalur ini menjadi andalan masyarakat untuk bepergian sekaligus menjadi tulang punggung distribusi logistik antardaerah.
Membentang di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, Jalan Pantura menghubungkan berbagai kota besar di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Tak heran jika hingga kini jalur tersebut masih menjadi salah satu ruas tersibuk di Indonesia.
Namun, di balik perannya sebagai jalur strategis, Jalan Pantura menyimpan sejarah panjang yang tidak banyak diketahui masyarakat.
Sejarah Jalan Pantura tidak bisa dilepaskan dari pembangunan jalan pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, pada awal abad ke-19.
Saat itu, Daendels memerintahkan pembangunan jalan yang membentang dari Anyer, Banten, hingga Panarukan, Situbondo, Jawa Timur. Pembangunan tersebut bertujuan mempercepat mobilitas pasukan, memperlancar arus perdagangan, sekaligus memperkuat pertahanan kolonial Belanda dari ancaman serangan Inggris.
Sayangnya, proyek tersebut dibangun dengan sistem kerja paksa atau kerja rodi. Ribuan rakyat pribumi dipaksa bekerja membuka jalur dan membangun jalan dalam kondisi yang sangat berat. Banyak di antara mereka meninggal dunia akibat kelelahan, penyakit, kelaparan, maupun perlakuan yang tidak manusiawi.
Meski sering dianggap sama, Jalan Pantura sebenarnya berbeda dengan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) yang dibangun pada masa Daendels.
Jalan Raya Pos merupakan proyek pembangunan jalan kolonial yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan. Sementara itu, Jalan Pantura merupakan sebutan untuk koridor transportasi yang membentang di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa dan terus berkembang mengikuti kebutuhan transportasi modern.
Sebagian ruas Jalan Raya Pos memang berada di kawasan Pantura sehingga keduanya kerap disamakan. Padahal, secara sejarah maupun pengertiannya, kedua istilah tersebut tidak sepenuhnya merujuk pada hal yang sama.
Asal-usul Istilah Pantura
Mengutip buku Dua Abad Jalan Raya Pantura: Sejak Era Kerajaan Mataram Islam hingga Orde Baru karya Endah Sri Hartatik, Pantura merupakan kawasan yang dihuni masyarakat pesisir dan petani sawah dengan karakter sosial yang berbeda dibandingkan masyarakat pedalaman.
Meski wilayah pesisir utara Jawa telah dikenal sejak lama, tidak diketahui secara pasti kapan istilah "Pantura" kali pertama digunakan.
Istilah tersebut mulai populer di media massa pada akhir 1980-an. Saat itu, harian Kedaulatan Rakyat menggunakan istilah Pantura untuk mengelompokkan sejumlah daerah di pesisir utara Jawa, seperti Semarang, Kendal, Kudus, Pati, Rembang, hingga Brebes.
Sejak saat itu, istilah Pantura semakin dikenal luas dan kini identik dengan jalur nasional yang menjadi urat nadi transportasi serta distribusi barang di Pulau Jawa.
Hingga sekarang, meski telah hadir Jalan Tol Trans-Jawa sebagai alternatif perjalanan, Jalan Pantura tetap memiliki peran yang sangat penting. Jalur ini masih menjadi pilihan utama bagi kendaraan logistik, angkutan umum, maupun masyarakat yang beraktivitas di kota-kota sepanjang pesisir utara Jawa. (Ike/E01)
