Inibaru.id - Kata "anjir" sering kali muncul dalam percakapan anak muda maupun media sosial. Biasanya, kata ini digunakan untuk mengekspresikan rasa kaget, kagum, atau kesal, sehingga banyak orang menganggapnya sebagai bentuk lain dari umpatan "anjing".
Lantas, benarkah "anjir" merupakan kata kasar?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata anjir justru memiliki makna yang sama sekali berbeda dan tidak berkaitan dengan umpatan.
Dalam KBBI, kata anjir memiliki tiga arti.
Pertama, anjir berarti terusan, saluran air, atau kanal.
Kedua, anjir merupakan nama pohon ara (Ficus carica).
Ketiga, anjir berarti penanda letak jebakan rajungan, biasanya berupa kayu atau balok yang diberi warna mencolok agar mudah dikenali.
Artinya, secara kebahasaan, kata anjir bukanlah kata kasar.
Meski demikian, penggunaan kata anjir di media sosial dan percakapan sehari-hari memang mengalami pergeseran makna.
Banyak orang memakainya sebagai bentuk "pelembutan" dari kata "anjing", sama seperti variasi lain seperti anjay, anjrit, anying, atau ajig. Dalam konteks inilah anjir sering dipakai sebagai ekspresi spontan ketika terkejut, kagum, atau kesal.
Karena berasal dari variasi umpatan tersebut, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan situasi dan lawan bicara.
Sudah Lama Digunakan Nelayan Pantura
Menariknya, jauh sebelum populer di media sosial, kata anjir ternyata sudah lama dikenal di kalangan nelayan di pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.
Istilah ini bahkan tercatat dalam Glosarium Istilah Kenelayanan di Jawa Tengah yang diterbitkan Balai Bahasa Jawa Tengah pada 2017. Buku tersebut menghimpun 424 istilah yang digunakan masyarakat nelayan di Jawa Tengah, khususnya di wilayah Pantura.
Tim penyusunnya terdiri atas Enita Istriwati, Endro Nugroho Wasono Aji, dan Agus Sudono. Data glosarium diperoleh melalui wawancara dengan nelayan di Kelurahan Tasik Agung dan Tanjungsari, Kabupaten Rembang.
Dalam glosarium tersebut, anjir memiliki padanan kata tenger dan tumbal.
Ketiganya merujuk pada penanda jaring atau jebakan rajungan yang dibuat dari pelampung, kain, dobos, maupun bahan lain agar nelayan mudah menemukan kembali lokasi alat tangkap yang telah dipasang di laut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebuah kata dapat memiliki makna berbeda tergantung konteks penggunaannya.
Di media sosial, anjir lebih sering dipahami sebagai ekspresi dalam bahasa gaul. Namun, dalam bahasa Indonesia baku dan tradisi kenelayanan Pantura Jawa Tengah, kata tersebut memiliki arti yang sama sekali berbeda dan telah digunakan sejak lama.
Karena itu, sebelum menyimpulkan bahwa anjir adalah kata kasar, penting untuk melihat konteks pemakaiannya. Sebab, menurut KBBI maupun khazanah istilah nelayan Pantura, anjir justru merupakan kosakata yang memiliki makna khusus dan menjadi bagian dari kekayaan bahasa Indonesia. (Ike/E01)
