Inibaru.id – Sore itu, langit Kota Kretek menggantungkan warna tembaga. Angin berembus pelan menyisir pucuk-pucuk pohon di sekitar kompleks Menara Kudus. Di antara riuh pedagang dan langkah peziarah, tiba-tiba terdengar bunyi yang tak pernah kehilangan maknanya sejak berabad silam: Dang-dang-dang!
Suara beduk itu menggema; berat dan dalam, seperti memukul pintu waktu. Bunyi itulah yang dinantikan masyarakat, karena suara tersebut adalah penanda. Ia merupakan panggilan, bahwa Ramadan telah di ambang pintu.
Di Kudus, masyarakat mengenalnya sebagai tradisi Tabuh Bedug Dandangan. Tujuannya untuk mengabarkan kepada khalayak bahwa sore itu telah memasuki Bulan Ramadan. Tradisi ini berakar pada warisan dakwah Sunan Kudus, ulama besar yang namanya abadi dalam denyut sejarah kota ini.
Lebih dalam dari sekadar event seremonial tahunan, wejangan para kiai dan tutur lisan warga setempat mengatakan, beduk telah lama menjadi komunikasi Sunan Kudus kepada masyarakat, termasuk saat mau mengumumkan sesuatu yang penting, misalnya pengumuman hari pertama Ramadan.
Tahun ini, penabuhan beduk dilakukan pada Rabu (18/2/2026) sore. Beduk yang diletakkan di puncak Menara Masjid Al-Aqsha (Masjid Menara) ditabuh keras-keras agar terdengar hingga jarak yang luas. Di masa ketika pengeras suara belum dikenal, bunyi beduk adalah media paling efektif.
Resonansinya menjalar dari kampung ke kampung, dari halaman ke halaman rumah kayu beratap pencu. Tanpa perlu mengatakan kata-kata apa pun, begitu telah terdengar bunyi bertalu-talu dari arah Menara, masyarakat sudah tahu bahwa artinya esok hari adalah waktunya menahan lapar dan dahaga.
Hingga kini, gema itu tetap dijaga, menjadi bagian dari rangkaian tradisi Dandangan. Ketua Pengurus Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Muchammad Fatchan menyebut, selain menara dan masjid, tradisi berusia sekitar 491 tahun itu juga warisan yang harus diuri-uri dengan sepenuh hati.
Tradisi Tabuh Bedug Dandangan 2026 dimulai dari Alun-Alun Kudus Kulon. Ratusan kontingen yang terdiri atas pejabat pemda, tokoh agama, santri, hingga masyarakat umum menyatu dalam satu arak-arakan. Mereka kemudian berjalan beriringan menuju kompleks Masjid Menara.
Prosesi ini dipimpin langsung oleh Bupati Kudus Sam'ani Intakoris. Dalam sambutannya, dia mengaskan bahwa Dandangan bukan sekadar perayaan budaya, tapi juga kearifan lokal yang hidup dan menghidupi.
“Tradisi ini mendatangkan ribuan orang dari berbagai daerah. Perputaran ekonominya bisa mencapai miliaran rupiah,” kata Sam'ani saat rombongan berada di Taman Menara Kudus, daerah yang dulu diyakini sebagai pusat kota, di timur Masjid Menara.
Tabuh beduk adalah prosesi puncak dari Festival Dandangan yang telah dimulai sejak dua pekan sebelumnya; berupa pasar malam yang digelar di sepanjang Jalan Sunan Kudus, membentang dari Alun-Alun Simpang Tujuh hingga Perempatan Jember.
Selama festival, nggak kurang dari seribu lapak dagangan berderet di sepanjang venue. Lampu-lampu lapak menyala, aroma jajanan bercampur dengan tawa anak-anak. Dalam 12 hari menuju Ramadan, Dandangan menjadi ruang ekonomi rakyat yang bergairah.
Ihwal Mula Dandangan
Dandangan membuat denyut waktu seolah kembali ke abad ke-16. Dulu, saat ribuan orang menunggu beduk awal Ramadan di pelataran Masjid Menara, para pedagang mulai mencoba memanfaatkan momen tersebut dengan menggelar lapak dagangan. Dari situlah tradisi Dandangan yang sekarang bermula.
Untuk yang belum tahu, Masjid Menara berlokasi sekitar sepelemparan batu saja dari Jalan Sunan Kudus. Maka, seiring dengan animo masyarakat yang begitu besar, Festival Dandangan pun digelar di jalan protokol yang menghubungkan Kudus-Jepara tersebut.
Lalu, bagaimana ia disebut "Dandangan"? Kata itu merupakan onomatope, yang terbentuk dari bunyi beduk yang ditabuh berulang. Konon, saat mengumumkan awal Ramadan, Sunan Kudus meminta penabuh beduk dengan irama khas yang sama secara berulang. Dang-dang-dang!
Nah, dari bunyi berulang yang menggema ke langit-langit kampung itulah muncul istilah dangdangan, lalu menjadi dandangan. Semula, Dandangan adalah momen religius ketika para santri dan warga berkumpul menanti penetapan 1 Ramadan sekaligus mendengarkan sabda dan petuah dari Sunan Kudus.
Namun, sebagaimana dikatakan sebelumnya, kerumunan yang khidmat itu kemudian perlahan menarik orang untuk menggelar dagangan, berupa jajanan manis, pakaian baru, hingga mainan anak-anak. Lambat laun, suasana pun berubah menjadi pasar malam yang semarak.
Jalan Sunan Kudus dan kawasan Alun-Alun Simpang Tujuh kini dipenuhi cahaya lampu, aroma makanan, dan riuh tawa keluarga. Pemkab kemudian mengemasnya menjadi festival yang dilengkapi dengan kirab budaya, panggung seni, serta perayaan UMKM, tanpa menghilangkan denyut religius di dalamnya.
Meski tampil meriah, Dandangan tetap menyimpan inti spiritualnya. Tabuhan beduk masih menjadi simbol panggilan, ziarah ke makam Sunan Kudus menjadi pengingat akar sejarah, dan kebersamaan warga menjadi ruh yang nggak tergantikan.
Sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), Dandangan menegaskan bahwa tradisi ini bukanlah benda mati, tapi ingatan kolektif yang dirawat, dirayakan, dan diwariskan dari generasi ke generasi; gabungan antara peristiwa religius dengan denyut sosial dan ekonomi.
Ahmad Arinal Haq, panitia pelaksana Tabuh Bedug Dandang 1447 H mengatakan, rangkaian prosesi penabuhan beduk diawali dengan ziarah kubur. Bersama-sama, mereka akan berkunjung ke makam Sunan Kudus di belakang Masjid Menara.
Di tempat tersebut, doa-doa dilantunkan. Ada keheningan yang khusyuk, seperti mengembalikan niat pada asalnya. Setelah itu, para kiai memberikan penjelasan tentang awal Ramadan; menyoal tentang penentuan waktu yang bukan sekadar hitung-hitungan kalender, melainkan juga kesadaran spiritual.
Sehabis itu barulah para petugas Tabuh Bedug menaiki Menara. Jumlahnya delapan orang; sebagian bertugas sebagai penabuh beduk, sementara sisanya adalah pelantun selawat. Nggak ada aturan pasti berapa banyak beduk harus ditabuh. Dibunyikan seperlunya, kata mereka.
Pelaksana harian (Plh) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Teguh Riyanto mengatakan, penabuhan beduk adalah simbol informasi dan ajakan berkumpul. Benar saja, baru ditabuh tiga kali, dang-dang-dang, para santri yang semula berada di sekitar kompleks Masjid Menara pun segera berkumpul.
Menarik Ribuan Pengunjung
Dentuman beduk di puncak Menara juga menarik perhatian orang-orang yang tengah berbelanja di sekitar masjid. Ada yang hanya menengadah, tapi nggak sedikit pula yang seketika mendekat atau mengeluarkan ponsel untuk merekam. Tanpa sadar, ribuan orang telah berkumpul di bawah Menara.
Pada hari-hari menjelang Ramadan, kunjungan ke Masjid Menara memang selalu meningkat. Ahmad Arinal Haq mengatakan, berdasarkan pantauan CCTV, tercatat sekitar 194 ribu peziarah yang datang ke kawasan Menara Kudus sepanjang Februari 2026.
"Angka (ratusan ribu peziarah) itu berdasarkan pantauan CCTV," kata Ahmad Arinal Haq. "Jumlah sesungguhnya bisa lebih dari itu."
Setiap tahun, Tabuh Bedug Dandangan memang selalu menjadi magnet. Hal itu juga diakui Huda, seorang warga Kudus yang baru tahun ini punya kesempatan untuk mengeksplorasi Dandangan, termasuk menyaksikan langsung prosesi tabuh beduk secara langsung.
"Iya, ini baru kali pertama, padahal orang Kudus," akunya, lalu terkekeh. “Penasaran saja; ternyata seru dan menarik. Menurut saya, tradisi ini hidup karena memang dinantikan orang.”
Hal serupa juga dirasakan Ragil, pemuda asal Kabupaten Pati yang sengaja menempuh satu jam perjalanan ke Kudus untuk menyaksikan momen religius itu. Menurutnya, Dandangan di Kudus termasuk tradisi yang cukup unik.
"Meskipun tradisi, ada sentuhan digitalisasinya," kata dia.
Tahun ini, konsep Dandangan memang memberikan kesan berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, dengan sentuhan digitalisasi yang lebih kuat. Sejak awal, Pemkab Kudus memang telah mengatakan akan melakukan evaluasi terhadap sejumlah kekurangan.
Namun, di tengah segala perubahan, ada satu hal yang tetap: beduk masih ditabuh dengan tangan manusia, karena nggak mungkin ada rekaman digital yang bisa menggantikannya; nggak ada tombol otomatis yang menggema sendiri.
Tradisi ini bertahan karena ada tubuh-tubuh yang setia menaikinya, tangan-tangan yang memukulnya, dan hati-hati yang mendengarnya. Dandangan adalah paradoks yang harmonis. Ia menghadirkan pasar yang riuh sekaligus ziarah yang khusyuk.
Di satu sisi, pedagang berharap rezeki; sedangkan di sisi lain, jemaah berharap keberkahan. Bupati Sam’ani Intakoris berharap, masyarakat bisa menyambut Ramadan dengan suka cita. “Semoga membawa berkah dan membangkitkan ketakwaan,” pesannya.
Ketua YM3SK Muchammad Fatchan mengatakan, beduk yang ditabuh bukan hanya penanda administratif, tapi simbol pembersihan diri untuk menghadapi Ramadan. Di Dandangan, ekonomi dan spiritualitas ternyata bisa saling berkelindan.
Ketika beduk ditabuh, bunyinya bukan hanya terdengar di telinga, tetapi juga menggetarkan di dada. Ia seperti mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, bulan suci akan datang, dan kesempatan memperbaiki diri masih tersedia. Setiap dang adalah jeda. Setiap jeda adalah renungan.
Di Kudus, Ramadan nggak disambut dengan kesunyian, tapi sorak sorai yang menggema di tengah-tengah kota. Ramadan juga nggak cuma dirayakan umat Islam, tapi seluruh warga yang menjadikan Dandangan sebagai tradisi yang patut dilestarikan.
Menara Kudus berdiri tegak, menjadi saksi dari generasi ke generasi. Ia telah melihat perubahan zaman, pergantian pemimpin, perkembangan teknologi. Namun, setiap menjelang Ramadan, ia kembali pada tugas lamanya, yakni menjadi pengeras suara tradisi.
Di atas bangunan yang tersusun atas bata merah itu, beduk ditabuh bertalu-talu. Di bawahnya, manusia berkumpul. Dan di antara keduanya, sejarah terus hidup.
Tabuh Bedug Dandangan bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah narasi panjang tentang bagaimana sebuah kota merawat warisan, menyatukan masyarakat, dan menyambut bulan suci dengan cara yang khas.
Dari Alun-Alun Kudus Kulon hingga kompleks Menara, dari pedagang kecil hingga pejabat daerah, dari peziarah lokal hingga tamu luar kota, semuanya menjadi bagian dari cerita ini. Ketika bunyi dang-dang-dang menggema, Ramadan bukan hanya diumumkan. tapi dihadirkan, dirasakan, dan disambut dengan suka cita.
Dan Kudus, sekali lagi, menegaskan dirinya sebagai kota yang nggak pernah lupa cara menyambut hari penting ini dengan beduk, doa, dan hati yang bersiap dibersihkan. (Imam Khanafi/E10)
