BerandaHits
Selasa, 7 Sep 2026 11:03

Kali Odo Semarang, Sungai yang Justru Deras saat Kemarau

Kali Odo di Kabupaten Semarang memiliki aliran air yang unik karena justru muncul dan mengalir deras saat musim kemarau. (Kompasiana/Bhairava Anoraga)

Kali Odo di Kabupaten Semarang memiliki fenomena unik karena aliran airnya justru deras saat kemarau dan menghilang ketika musim hujan.

Inibaru.id – Kemarau biasanya membuat debit sungai menyusut dan sebagian sumber air mengering. Namun, hal berbeda justru terjadi di Kali Odo, Dusun Karangnongko, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Sungai ini malah mengalir deras saat musim kemarau dan kembali kering ketika musim penghujan tiba.

Fenomena tersebut sudah dikenal masyarakat setempat sejak dahulu. Pengurus Wisata Kali Odo, Agung Sulistiono, mengatakan warga menyebut air yang muncul saat kemarau sebagai “air tolongan” karena keberadaannya membantu masyarakat ketika sumber air lain mulai mengering.

“Kalau dari desa yang atas kita ngambilnya di sini, desa mana pun sering ngambil di sini buat dibawa ke desanya kayak air tolongan,” ujar Agung seperti dikutip dari Detik.

Menurut kepercayaan masyarakat, Kali Odo memiliki tujuh mata air atau “tuk” yang hanya mengeluarkan air ketika musim kemarau. Sebaliknya, aliran tersebut dipercaya akan berhenti ketika musim hujan tiba, terutama setelah hujan disertai petir.

“Kalau sumbernya orang dulu bilang tujuh tuk (mata air) yang bisa ngeluarin air. Kalau bulan penghujan airnya mati, keluarnya di bulan kemarau aja,” kata Agung.

Warga biasanya memanfaatkan air Kali Odo untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi dan mencuci. Sebagian juga membawa air pulang untuk persediaan ketika sumur mereka mengering.

Tak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, air Kali Odo juga dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian di sekitar kawasan tersebut. Alirannya membantu memenuhi kebutuhan air sawah di Desa Gedangan, Rowosari, dan Sraten ketika musim kemarau.

Kemunculan mata air Kali Odo juga berkaitan dengan tradisi masyarakat. Menjelang musim kemarau, warga melakukan bersih kali dengan membersihkan sampah yang menumpuk ketika sungai dalam kondisi kering. Setelah air kembali mengalir, masyarakat menggelar sadranan sebagai ungkapan syukur.

Keunikan Kali Odo juga menarik sejumlah pengunjung dari luar daerah. Agung mengatakan beberapa rombongan datang untuk mengambil air atau melakukan ritual tertentu, terutama menjelang malam 1 Suro atau Muharam.

Fenomena Anomali Hidrologi

Di balik kepercayaan dan tradisi masyarakat, fenomena Kali Odo juga memiliki kemungkinan penjelasan secara ilmiah. Melansir dari Detik, Guru Besar Keairan Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Prof Dr Ir Ign Sriyana MS, IPU, APEC Eng, menyebut kondisi tersebut sebagai anomali hidrologi karena aliran air justru meningkat saat musim kemarau.

“Dalam ilmu hidrologi dan hidrogeologi, fenomena ini disebut sebagai anomali hidrologi,” kata Prof Sri.

Menurutnya, salah satu kemungkinan penyebabnya adalah lag time, yakni jeda antara air hujan yang meresap ke dalam tanah hingga akhirnya mencapai akuifer. Jika akuifer berada cukup dalam dan lapisan tanah di atasnya memiliki kemampuan mengalirkan air yang lambat, air hujan membutuhkan waktu untuk mencapai lapisan tersebut.

Akibatnya, air yang meresap selama musim penghujan bisa saja baru terkumpul dan keluar sebagai mata air ketika musim kemarau telah berlangsung.

Kemungkinan lain adalah karakter sistem akuifer karst. Pada wilayah tertentu, air dapat mengalir melalui rongga dan jaringan sungai bawah tanah sebelum muncul ke permukaan.

Prof Sri menduga fenomena di Kali Odo kemungkinan berkaitan dengan kombinasi lag time dan sistem akuifer karst. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga daerah resapan air melalui penghijauan, pembuatan sumur resapan, dan mengurangi penggunaan permukaan yang tertutup beton.

Kali Odo pun menjadi contoh bahwa fenomena alam yang dianggap unik oleh masyarakat dapat memiliki hubungan erat dengan kondisi geologi dan siklus air. Di saat yang sama, keberadaan sungai ini telah menjadi bagian dari kehidupan, tradisi, dan sumber penghidupan warga di sekitarnya. (Ning/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Biaya Haji 2027 Ditetapkan Rp98,4 Juta, Jemaah Menanggung Sekitar Rp54,6 Juta

8 Okt 2026

Sirkuit Mandalika Kantongi Homologasi Grade A FIM untuk MotoGP 2026

9 Okt 2026

Mengulik Asal Nama Rondo Royal, Jajanan Tape Goreng Khas Jepara

11 Okt 2026

Penonton MotoGP Mandalika 2026 Tembus 157 Ribu, Cetak Rekor Baru

12 Okt 2026

Gentengisasi Jateng Disiapkan, 1,1 Juta Keping Genteng Dibutuhkan

13 Okt 2026

Pemerintah Tutup Permanen Ekspor Benih Lobster, Penyelundup Bakal Diburu

14 Okt 2026

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Pemerintah Tunda Kewajiban Sertifikasi Halal hingga 2028

21 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: