BerandaHits
Jumat, 27 Agu 2026 12:50

Wayang Klithik, Wayang Kayu Pipih yang Lahir dari Tradisi Jawa dan Bunyi "Klithik"

Wayang klithik menjadi salah satu seni pertunjukan tradisional Jawa yang unik karena dibuat dari kayu pipih dan memiliki repertoar cerita berbeda dengan wayang kulit. (Wikipedia)

Wayang klithik merupakan wayang kayu berbentuk pipih yang memiliki ciri khas bunyi "klithik" saat dimainkan dan mengangkat kisah Panji serta Damarwulan.

Inibaru.id - Di antara beragam jenis wayang di Indonesia, wayang klithik memiliki ciri yang mudah dikenali. Jika wayang kulit dibuat dari kulit kerbau dan wayang golek berbentuk boneka tiga dimensi, wayang klithik justru terbuat dari kayu pipih sehingga tampilannya menyerupai wayang kulit.

Keunikan bentuk tersebut membuat wayang klithik menjadi salah satu warisan seni pertunjukan yang memiliki karakter berbeda, baik dari segi visual maupun cerita yang dibawakan.

Sejarah wayang klithik tidak lepas dari perkembangan wayang krucil. Wayang ini pertama kali diciptakan oleh Pangeran Pekik, Adipati Surabaya, dengan menggunakan bahan kulit dan ukuran yang relatif kecil. Karena ukurannya itulah, masyarakat kemudian lebih mengenalnya sebagai wayang krucil.

Perkembangan seni wayang terus berlanjut. Ketika wayang menak yang terbuat dari kayu mulai dikenal masyarakat, Sunan Pakubuwana II kemudian menciptakan wayang klithik dengan bentuk pipih atau dua dimensi yang dibuat dari kayu.

Meski tubuhnya menggunakan kayu, bagian tangan wayang klithik tetap dibuat dari kulit yang ditatah agar lebih lentur saat digerakkan. Sementara itu, tangkai atau gagangnya juga menggunakan kayu, berbeda dengan wayang kulit yang umumnya memakai tanduk kerbau.

Nama "wayang klithik" sendiri diyakini berasal dari bunyi "klithik-klithik" yang muncul ketika bagian-bagian kayu saling berbenturan saat dimainkan oleh dalang.

Bentuk Berbeda di Tiap Daerah

Wayang klithik yang berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki sejumlah perbedaan.

Di Jawa Tengah, bentuk wayang klithik banyak menyerupai wayang gedog. Tokoh-tokohnya mengenakan dodot rapekan, membawa keris, serta memakai penutup kepala tekes. Sementara tokoh raja biasanya digambarkan dengan gelung Keling atau Garuda Mungkur.

Adapun wayang klithik di Jawa Timur lebih banyak mengadopsi bentuk wayang purwa. Tokoh rajanya menggunakan mahkota lengkap dengan praba atau hiasan di bagian belakang kepala yang menjadi simbol kebesaran.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa wayang klithik berkembang mengikuti tradisi seni di masing-masing daerah tanpa menghilangkan identitas utamanya sebagai wayang kayu pipih.

Tak hanya bentuknya yang berbeda, repertoar cerita wayang klithik juga tidak sama dengan wayang kulit.

Jika wayang kulit identik dengan kisah Mahabharata dan Ramayana, wayang klithik lebih banyak mengambil cerita dari siklus Panji dan Damarwulan.

Cerita yang dimainkan umumnya berlatar masa Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga era Prabu Brawijaya di Kerajaan Majapahit. Namun dalam perkembangannya, dalang juga dapat membawakan kisah dari wayang purwa, wayang menak, bahkan cerita yang bersumber dari Babad Tanah Jawi.

Hal tersebut membuat pertunjukan wayang klithik memiliki kekayaan cerita yang cukup beragam dan dekat dengan sejarah maupun legenda Nusantara.

Pertunjukan wayang klithik biasanya diiringi seperangkat gamelan sederhana dengan laras slendro. Irama yang dimainkan umumnya menggunakan playon bangomati atau srepegan, meski pada kesempatan tertentu juga dapat menggunakan gending-gending yang lebih besar.

Perpaduan bunyi gamelan dengan suara khas kayu yang saling beradu saat wayang dimainkan menciptakan suasana pertunjukan yang berbeda dibandingkan jenis wayang lainnya.

Meski tidak sepopuler wayang kulit, wayang klithik menjadi salah satu bukti kekayaan seni pertunjukan tradisional Indonesia yang terus berkembang mengikuti zamannya tanpa kehilangan akar budayanya.

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Pelajar SD-SMP di Yogyakarta Bakal Wajib Berbahasa Jawa Krama Inggil Sehari dalam Sepekan

13 Agu 2026

Temuan Situs Bongal Geser Linimasa Masuknya Islam ke Nusantara hingga Tujuh Abad

14 Agu 2026

HUT ke-81 RI, KAI Beri Diskon Tiket 17 Persen

14 Agu 2026

Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Masuk Kelompok Ini?

15 Agu 2026

Rerie Dorong Situs Patiayam Terus Dijaga sebagai Warisan Peradaban

16 Agu 2026

Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang Sampah

17 Agu 2026

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik, Pemerintah Siapkan Skema Baru

18 Agu 2026

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

19 Agu 2026

Negara Pertama yang Mengakui Indonesia Merdeka

20 Agu 2026

Sinewara, Bioskop BUMN Besutan PFN Siap Meluncur 2027

21 Agu 2026

Garuda Indonesia Uji Internet Cepat di Udara, Video Call dari Ketinggian 30 Ribu Kaki

22 Agu 2026

Mulai 1 Oktober, Semua Merchant Bisa Nikmati Transaksi QRIS Bebas Biaya

24 Agu 2026

Mengenal Sekaten, Tradisi Maulid Nabi Warisan Dakwah Wali Songo

25 Agu 2026

Indonesia Mulai Program PLTS, 14 Proyek Jadi Tahap Awal

26 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: