Inibaru.id - Upaya memperkuat Situs Patiayam, Kudus, sebagai bagian penting dari warisan peradaban dan sumber pengetahuan mendapat perhatian Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Ia mendorong agar kawasan yang menyimpan berbagai tinggalan kehidupan purba tersebut terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
Dorongan itu mengemuka dalam Diskusi Lapangan Pengembangan Situs Patiayam Berbasis Integrasi Eko-Arkeologi yang digelar di lokasi penemuan fosil gajah purba di Ngasinan, Patiayam, Kudus, Sabtu (15/8/2026).
Diskusi bertema “Ilmu Pengetahuan, Warisan Peradaban, dan Masa Depan Indonesia: Patiayam sebagai Laboratorium Kebangsaan” tersebut sekaligus menandai berakhirnya penggalian keempat di Patiayam yang dilakukan melalui kolaborasi Yayasan Dharma Bakti Lestari (YDBL), Center for Prehistory and Austronesian Studies (CPAS), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Bagi Lestari Moerdijat atau yang lebih akrab disapa Rerie, keberadaan Patiayam tidak semata-mata berkaitan dengan fosil yang ditemukan dari dalam tanah. Kawasan tersebut menyimpan pengetahuan mengenai perjalanan panjang alam, manusia, fauna, dan lingkungan yang penting untuk dipelajari.
“Menjaga Patiayam berarti menjaga pengetahuan dan identitas bangsa,” ujar Rerie.
Baca Juga:
Kawal Mimpi Situs Patiayam ke Level Nasional, Lestari Moerdijat: Secara Keilmuan Sudah Sangat Layak!Pesan tersebut menjadi relevan ketika penggalian keempat telah berakhir dan pengembangan kawasan mulai diarahkan pada pendekatan yang lebih terintegrasi. Penelitian, pelestarian, pemanfaatan situs, lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat menjadi bagian dari pembahasan.
Selama ini Patiayam dikenal sebagai salah satu kawasan penting dalam penelitian kehidupan purba di Jawa. Berbagai fosil fauna ditemukan di kawasan tersebut, termasuk fosil gajah purba yang menjadi salah satu temuan penting dari rangkaian penelitian.
Namun, kekayaan Patiayam tidak berhenti pada fosil. Lapisan tanah di kawasan tersebut menyimpan rekam perubahan lingkungan dalam rentang waktu yang sangat panjang. Patiayam juga memberikan gambaran mengenai kehidupan fauna purba, keberadaan manusia purba, hingga perubahan bentang alam sejak kawasan tersebut masih berada di bawah laut sampai berkembang menjadi daratan.
Letaknya di lereng Gunung Muria dan di sekitar gunung api purba Patiayam turut membuat kawasan ini memiliki karakter geologi yang khas.
Karena itu, memahami Patiayam tidak cukup hanya dengan melihat temuan yang berhasil diangkat dari dalam tanah. Fosil, lapisan geologi, lingkungan, dan jejak kehidupan masa lalu perlu dibaca sebagai satu kesatuan. Pendekatan inilah yang kemudian dikembangkan melalui integrasi eko-arkeologi.
Rerie Dorong Warisan Patiayam Tetap Hidup
Pengembangan situs purbakala, dalam konteks tersebut, tidak berarti membuat Patiayam berhenti sebagai tempat penyimpanan tinggalan masa lalu. Pengetahuan yang tersimpan di dalamnya justru perlu dibuka melalui penelitian, pendidikan, dan pemanfaatan yang tetap memperhatikan kelestarian.
Patiayam diharapkan dapat berkembang sebagai ruang edukasi yang mempertemukan penelitian dengan masyarakat. Dengan begitu, keberadaan situs tidak hanya penting bagi kalangan peneliti, tetapi juga dapat dipahami dan dimanfaatkan secara lebih luas.
Lestari juga mendorong agar situs seperti Patiayam dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Pengembangan kawasan perlu dilakukan secara bersama dengan tetap menjaga lingkungan dan tinggalan purbakala yang ada.
Gagasan tersebut kemudian mendapat respons dari Pemerintah Kabupaten Kudus. Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menilai Patiayam memiliki potensi besar untuk dikembangkan tidak hanya sebagai situs sejarah dan arkeologi, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan pembelajaran.
“Patiayam ini sangat menarik karena Gunung Muria punya sejarah, terpisah dari Jawa dan di dalamnya ada beberapa keanekaragaman hayati, termasuk hampir 5.000 jenis hewan. Ini sangat menarik untuk edukasi, sebagai geopark, termasuk sebagai pembelajaran kita semuanya,” jelasnya.
Patiayam sendiri telah ditetapkan sebagai cagar budaya daerah pada Desember 2025. Setelah penetapan tersebut, Pemkab Kudus mengawal proses pengusulannya ke tingkat provinsi hingga nasional.
Sam’ani juga menegaskan Pemkab Kudus akan terus mendorong proses tersebut sebagai bagian dari komitmen melestarikan dan mengembangkan Situs Patiayam.
Untuk mendukung pengembangan kawasan, Pemkab Kudus juga berencana melakukan penataan di sekitar Museum Patiayam, termasuk jalan setapak dan lingkungan sekitar. Sementara perbaikan museum akan dikoordinasikan dengan Kementerian Kebudayaan.
Berakhirnya penggalian keempat bukan berarti penelitian di Patiayam selesai. Sebaliknya, berbagai temuan yang diperoleh selama ekskavasi menjadi bahan untuk menentukan arah penelitian dan pengelolaan kawasan berikutnya.
Sejak 2024, penelitian di Patiayam dilakukan secara konsisten oleh tim yang melibatkan berbagai bidang keahlian. Tim tersebut antara lain Prof. Dr. Truman Simanjuntak, Dr. Retno Handini, M.Si., Dr. Yuda Bagus Prajna Yogi, Dr. Harry Octavianus Sofian, Dr. Mirza Anshory, Dr. Wuryantari, Wakhyuningarsih, M.Sos., dan Anis Kurniasih.
Rangkaian penelitian tersebut semakin memperkuat pemahaman bahwa Patiayam memiliki nilai ilmiah yang besar. Pada saat yang sama, masih banyak pertanyaan mengenai manusia, fauna, lingkungan, dan perubahan alam masa lalu yang perlu dijawab melalui penelitian lanjutan.
Karena itu, pengembangan Patiayam diarahkan pada empat hal yang saling berkaitan, yakni penelitian, pelestarian, pemanfaatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Penelitian menjadi dasar untuk memperkuat pengetahuan mengenai Patiayam. Hasilnya kemudian digunakan untuk menjaga situs dan lingkungannya, sekaligus menentukan bagaimana kawasan dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan nilai arkeologisnya.
Masyarakat sekitar juga menjadi bagian penting dalam pendekatan tersebut. Keberadaan situs diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi dunia penelitian, tetapi juga membuka peluang edukasi dan manfaat sosial-ekonomi bagi masyarakat.
Menjaga Fosil Sekaligus Lingkungannya
Pendekatan eko-arkeologi menjadi semakin penting karena Patiayam tidak hanya menghadapi tantangan dalam penelitian, tetapi juga persoalan lingkungan.
Kerusakan vegetasi akibat penebangan liar pada masa lalu membuat kawasan lebih rentan terhadap erosi dan longsor. Pergerakan tanah dapat memindahkan fosil dari lapisan aslinya, merusak temuan, bahkan menghilangkan konteks penting yang dibutuhkan untuk memahami proses pembentukannya. Artinya, menjaga fosil tidak cukup dilakukan dengan menyelamatkan benda yang ditemukan.
Lingkungan tempat fosil tersebut berada juga perlu dirawat. Karena itu, penelitian arkeologi dan pengelolaan lingkungan perlu berjalan beriringan. Upaya pelestarian diharapkan tidak hanya melindungi temuan yang sudah ditemukan, tetapi juga menjaga kawasan agar tetap mampu menyimpan informasi bagi penelitian di masa mendatang.
Diskusi lapangan tersebut menghadirkan sejumlah ahli dari berbagai bidang, di antaranya Prof. Dr. Harry Widianto dari BRIN, Dr. Eng. Ir. Didit Hadi Baryanto, S.T., M.Si., IPM. dari Teknik Geologi UGM, Dr. Herry Yogaswara dan Dr. Marlon Nicolay Ramon Ririmasse dari BRIN, Prof. Dr. Ir. Sutikno Bronto selaku pakar geologi dan vulkanologi, serta Dr. Ferry Karwur dari Universitas Kristen Satya Wacana.
Setelah penggalian berakhir, pekerjaan berikutnya justru masih panjang. Temuan yang diperoleh perlu didokumentasikan, dianalisis, dirawat, dan dikembangkan menjadi pengetahuan yang dapat dipahami masyarakat.
Di sisi lain, Patiayam masih menyimpan banyak pertanyaan mengenai kehidupan masa lalu. Bagaimana lingkungan berubah? Bagaimana manusia dan fauna purba hidup di dalamnya? Serta bagaimana bentang alam kawasan tersebut terbentuk selama jutaan tahun?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat berakhirnya ekskavasi keempat bukan menjadi titik akhir, melainkan awal untuk memperluas penelitian.
Patiayam pada akhirnya bukan hanya tentang fosil yang berhasil ditemukan dari dalam tanah. Kawasan tersebut merupakan rekaman panjang perjalanan alam dan kehidupan yang dapat membantu manusia masa kini memahami masa lalu.
Tantangannya sekarang adalah memastikan warisan itu tidak sekadar ditemukan dan disimpan, tetapi terus diteliti, dilestarikan, dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
“Warisan masa lalu hanya akan bermakna apabila dirawat bersama dan dijadikan pijakan untuk membangun masa depan,” tegas Rerie.
Dengan begitu, Patiayam dapat tumbuh sebagai ruang yang mempertemukan ilmu pengetahuan, pelestarian lingkungan, pendidikan, dan masyarakat sekaligus menjadi warisan peradaban yang tetap hidup bagi generasi mendatang. (Ike/E01)
