BerandaHits
Selasa, 28 Sep 2026 12:55

67 Juta Orang Gunakan QRIS, Apakah Masyarakat Mulai Tinggalkan Uang Tunai?

QRIS makin akrab dengan keseharian masyarakat, termasuk di pasar tradisional, meski begitu uang tunai masih tetap dibutuhkan di sejumlah wilayah Indonesia. (Chatgpt AI)

Pengguna QRIS telah mencapai 67 juta orang dan transaksi digital terus tumbuh pesat, tetapi uang tunai masih dibutuhkan karena peredaran uang kartal tetap meningkat dan akses digital belum merata di seluruh Indonesia.

Inibaru.id - Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) semakin meluas dan perlahan mengubah kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi. Pembayaran yang sebelumnya identik dengan uang tunai kini semakin sering dilakukan secara digital, termasuk di pasar tradisional dan berbagai usaha kecil.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan jumlah pengguna QRIS kini telah mencapai 67 juta orang atau sekitar seperempat dari penduduk Indonesia.

“QRIS kalau kita lihat sekarang penggunanya sudah 67 juta. Artinya sudah seperempat dari penduduk Indonesia yang menggunakan QRIS,” kata Destry dalam acara di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Menurut Destry, semakin luasnya penggunaan pembayaran digital turut membuat penggunaan uang tunai mulai melambat. Masyarakat di wilayah yang memiliki akses internet dan infrastruktur digital memadai kini semakin terbiasa menggunakan pembayaran nontunai.

“Jadi tentu saja kalau kita lihat, karena banyak menggunakan sistem digital, sehingga penggunaan cash kan terbatas. Nah, jadi kita bisa lihat di beberapa event kalau kita sekarang belanja di pasar itu mereka lebih suka pakai QRIS kan ketimbang menggunakan cash,” ujarnya.

Meski pembayaran digital semakin populer, uang tunai belum bisa sepenuhnya ditinggalkan. Indonesia memiliki wilayah yang luas dengan kondisi infrastruktur digital yang belum merata.

Destry mengatakan uang tunai masih dibutuhkan masyarakat di wilayah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T), terutama karena masih terdapat daerah yang mengalami keterbatasan jaringan atau blank spot.

“Kalau kita lihat, memang masih tumbuh tapi mulai terus melambat. Kenapa? Karena Indonesia ini kan sangat luas. Dan wilayahnya kan sangat pulau-pulau kita ada daerah-daerah yang terdepan, terluar gitu kan. Tentunya ini kan mereka juga masih butuh uang-uang cash. Mungkin juga ada, mungkin sinyal masih belum semuanya kan juga masih ada beberapa yang di blank spot,” kata Destry.

Artinya, pertumbuhan pembayaran digital tidak serta-merta membuat uang fisik hilang dari peredaran. Keduanya masih digunakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

BI juga menegaskan bahwa masyarakat tetap memiliki pilihan untuk menggunakan uang tunai maupun pembayaran digital. Uang Rupiah fisik masih merupakan alat pembayaran yang sah di Indonesia.

Karena itu, pelaku usaha dan merchant tetap perlu menerima pembayaran menggunakan uang tunai.

“Kita tetap tidak melarang orang kalau menggunakan cash, karena tetap bahwa payment di kita ini kan ada digital atau melalui cash. Jadi, buat para merchant juga walaupun ada yang memang mereka ingin bayar cash ya mereka harus bisa menerima. Tapi faktanya preferensi masyarakat memang sekarang mengarah kepada digital payment,” tutur Destry.

Dengan 67 juta pengguna, QRIS menunjukkan bahwa pembayaran digital semakin menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun, kondisi tersebut belum berarti uang tunai ditinggalkan sepenuhnya, terutama di wilayah yang akses digitalnya masih terbatas. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Asal-usul Nama Pekalongan, dari Joko Bau hingga Naskah Sunda Kuno

14 Sep 2026

Purbaya Dicopot, Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru

15 Sep 2026

25.000 Tahun Lalu, Manusia Purba Sulawesi Redakan Sakit Gigi dengan Pinang

16 Sep 2026

Film Empat Musim Pertiwi Jadi Wakil Indonesia di Oscar 2027

17 Sep 2026

Giuseppe Garibaldi, Kapal Induk Pertama Indonesia Tiba di Tanjung Priok

18 Sep 2026

Gatot, Jajanan Gunungkidul yang Konon Berasal dari Gaplek “Gagal Total”

19 Sep 2026

Jejak Yerusalem dalam Nama Kudus hingga Dijuluki Yerusalem van Java

21 Sep 2026

Prabowo Ungkap Rencana Bikin Bensin dari Batu Bara, Ini Tantangannya

22 Sep 2026

BDx Bangun Pusat Data AI 640 MW di Jatiluhur

23 Sep 2026

Dari Kuliner Perantauan hingga Jadi Identitas Daerah, Ini Fakta Menarik Mi Ayam Wonogiri

24 Sep 2026

SKCK Bakal Bisa Dicetak Sendiri, Tak Perlu Lagi ke Kantor Polisi

25 Sep 2026

670 Penari Bawa Tari Lajur Caping Kalo Kudus Pecahkan Rekor MURI

26 Sep 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: