BerandaInspirasi Indonesia
Minggu, 26 Sep 2026 13:07

670 Penari Bawa Tari Lajur Caping Kalo Kudus Pecahkan Rekor MURI

Sebanyak 670 penari membawakan Tari Lajur Caping Kalo di Halaman Pendapa Kabupaten Kudus, Sabtu (26/9/2026). (Dok. Dinkominfo Kab Kudus)

Sebanyak 670 penari mengantarkan Tari Lajur Caping Kalo mencetak rekor dunia MURI sekaligus memperkenalkan Caping Kalo sebagai warisan budaya Kudus.

Inibaru.id - Caping Kalo, salah satu penanda identitas budaya Kudus, hadir dalam sebuah pertunjukan kolosal di Halaman Pendapa Kabupaten Kudus, Sabtu (26/9/2026). Sebanyak 670 penari membawakan Tari Lajur Caping Kalo hingga berhasil mengantarkan kesenian tersebut mencatatkan rekor dunia di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

Pertunjukan massal ini menjadi salah satu cara masyarakat Kudus merawat warisan leluhur. Bukan hanya diperkenalkan sebagai benda budaya, Caping Kalo juga diangkat menjadi bagian dari karya seni yang melibatkan ratusan orang.

Pencapaian tersebut turut menandai peringatan Hari Jadi ke-477 Kota Kudus. Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dan Ketua TP PKK Kabupaten Kudus Endhah Sam’ani Intakoris ikut menari bersama para peserta. Hadir pula Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha, perwakilan MURI wilayah Semarang dan Jawa Tengah Ari Ardiyani, perwakilan PT Nojorono dan YKB Nojorono, serta jajaran Forkopimda Kabupaten Kudus.

Bupati Sam’ani mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam menyukseskan pertunjukan tersebut. Baginya, pencatatan rekor MURI menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Kudus sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap warisan daerah.

“Terima kasih dan apresiasi kepada PT Nojorono, YKB Nojorono, para penari, dan seluruh pihak yang telah mendukung pelestarian budaya Kudus. Hari ini kita menunjukkan bahwa Caping Kalo bukan hanya benda budaya, tetapi juga memiliki nilai seni dan sejarah yang perlu terus kita jaga,” ujar Bupati Sam’ani.

Tantangan pelestarian Caping Kalo nggak hanya berkaitan dengan bagaimana menjaga tradisi pembuatannya, tetapi juga memastikan kerajinan tersebut tetap memiliki keberlanjutan. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Kudus berupaya mengembangkan keterampilan para perajin sekaligus memperluas peluang pemasarannya.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengadakan pelatihan pembuatan Caping Kalo melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Kudus. Program tersebut dilengkapi dengan pelatihan pemasaran agar para perajin nggak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga mempunyai bekal untuk mengembangkannya sebagai sumber penghasilan.

“Pelestarian harus berjalan beriringan dengan pengembangan. Karena itu, selain keterampilan membuat Caping Kalo, pemasaran juga perlu diperkuat agar keberadaannya tetap hidup dan tidak punah,” jelasnya.

Pengenalan budaya Kudus juga dilakukan melalui kebijakan penggunaan busana adat setiap tanggal 23. Kebijakan ini diharapkan dapat mendekatkan masyarakat, khususnya generasi muda, dengan kekayaan budaya daerah, termasuk Caping Kalo.

Warisan Budaya Takbenda Nasional

Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha turut memberikan perhatian terhadap keberadaan Caping Kalo. Ia mengaku terkesan melihat perlengkapan tradisional tersebut berpadu dengan busana adat Kudus dalam pertunjukan Tari Lajur Caping Kalo.

“Saya terkesima dengan Caping Kalo dan busana adat Kudus. Mendengar aspirasi bahwa Caping Kalo terancam punah, hari ini kita melihat bagaimana masyarakat Kudus menjadikannya bagian dari sebuah karya seni yang luar biasa,” ungkap Giring.

Menurut Giring, pertunjukan tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan pelestarian Caping Kalo. Ia berharap pengakuan melalui rekor MURI dapat menjadi langkah awal untuk memperluas pengakuan terhadap warisan budaya tersebut.

“Caping Kalo dalam bentuk tari yang dicatat dalam rekor MURI, teman-teman, menjadi bagian dari sejarah. Saya melihat masa depan Caping Kalo akan cerah setelah rekor MURI ini. Kita akan mengupayakan Caping Kalo menjadi Warisan Budaya Takbenda nasional,” katanya.

Giring juga menyoroti peran anak muda dalam memperkenalkan kebudayaan daerah. Menurutnya, media sosial bisa dimanfaatkan untuk menjangkau audiens yang lebih luas sehingga kesenian tradisional nggak hanya dikenal di lingkungan asalnya.

“Saya mengajak anak-anak muda untuk melestarikan budaya ini. Silakan bagikan melalui semua media sosial agar Tari Lajur Caping Kalo dan budaya Kudus bisa dikenal dan mendunia,” ajaknya.

Selain membahas pelestarian Caping Kalo, Giring menyampaikan rencana perbaikan Museum Kretek dan Museum Patiayam di Jawa Tengah. Pembenahan kedua museum tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan ruang edukasi sekaligus memperkuat pelestarian budaya di Kudus.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris bersama jajaran menunjukkan sertifikat penghargaan MURI atas pencapaian Tari Lajur Caping Kalo sebagai rekor dunia. (Dok. Dinkominfo Kab Kudus)

Penetapan Tari Lajur Caping Kalo sebagai rekor dunia dilakukan setelah proses verifikasi oleh MURI. Kepala atau Senior Representative MURI Wilayah Semarang dan Jawa Tengah, Ari Andriani, menyebut Kudus sebelumnya juga pernah mencatatkan prestasi di lembaga tersebut.

“Untuk Kabupaten Kudus, ini bukan yang pertama kali. Pada kesempatan ini MURI kembali hadir untuk memberikan apresiasi terhadap semangat pelestarian budaya yang sungguh luar biasa,” kata Ari.

Ari menjelaskan, jumlah peserta yang diajukan pada awalnya sebanyak 477 orang. Namun, setelah proses verifikasi dilakukan, terdapat 670 penari yang memenuhi ketentuan pencatatan.

“Dari 477 peserta yang diusulkan, setelah kami verifikasi ada 670 penari. Mereka tidak hanya menari, tetapi juga menunjukkan seni budaya warisan leluhur melalui gerakan yang indah dan selaras,” jelasnya.

MURI kemudian menetapkan pencapaian tersebut sebagai rekor dunia, bukan sekadar rekor nasional. Keputusan itu didasarkan pada Tari Lajur Caping Kalo yang dinilai merepresentasikan simbol budaya Kabupaten Kudus.

“Mengingat tarian ini merupakan tarian yang menceritakan simbol budaya Kudus, maka oleh Ketua Umum MURI capaian ini tidak hanya dicatatkan sebagai rekor nasional, tetapi dibukukan sebagai rekor dunia,” tegasnya.

Ari berharap pencapaian tersebut dapat mendorong masyarakat untuk terus memperkenalkan kebudayaan daerah kepada khalayak yang lebih luas.

“Semoga capaian ini menjadi pemantik semangat untuk mengenalkan kebudayaan kita,” pungkas Ari.

Rekor yang ditorehkan 670 penari ini menjadi salah satu upaya membawa Caping Kalo lebih dekat dengan masyarakat. Melalui seni pertunjukan, warisan budaya Kudus tersebut mendapat ruang untuk terus diperkenalkan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Ike Purwaningsih/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

First Look Film Animasi Timun Mas Dirilis, Bawa Dongeng Jawa ke Animasi Modern

12 Sep 2026

Mengulik Asal-usul Nama Pekalongan, dari Joko Bau hingga Naskah Sunda Kuno

14 Sep 2026

Purbaya Dicopot, Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru

15 Sep 2026

25.000 Tahun Lalu, Manusia Purba Sulawesi Redakan Sakit Gigi dengan Pinang

16 Sep 2026

Film Empat Musim Pertiwi Jadi Wakil Indonesia di Oscar 2027

17 Sep 2026

Giuseppe Garibaldi, Kapal Induk Pertama Indonesia Tiba di Tanjung Priok

18 Sep 2026

Gatot, Jajanan Gunungkidul yang Konon Berasal dari Gaplek “Gagal Total”

19 Sep 2026

Jejak Yerusalem dalam Nama Kudus hingga Dijuluki Yerusalem van Java

21 Sep 2026

Prabowo Ungkap Rencana Bikin Bensin dari Batu Bara, Ini Tantangannya

22 Sep 2026

BDx Bangun Pusat Data AI 640 MW di Jatiluhur

23 Sep 2026

Dari Kuliner Perantauan hingga Jadi Identitas Daerah, Ini Fakta Menarik Mi Ayam Wonogiri

24 Sep 2026

SKCK Bakal Bisa Dicetak Sendiri, Tak Perlu Lagi ke Kantor Polisi

25 Sep 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: