BerandaHits
Rabu, 22 Sep 2026 13:47

Prabowo Ungkap Rencana Bikin Bensin dari Batu Bara, Ini Tantangannya

Presiden Prabowo Subianto mengungkap rencana pemerintah mengembangkan bensin berbahan baku batu bara sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. (Chatgpt AI)

Rencana pemerintah memproduksi bensin dari batu bara melalui teknologi coal-to-liquid (CTL) bukan perkara teknologi, melainkan investasi dan keekonomian yang perlu diperhitungkan.

Inibaru.id - Presiden Prabowo Subianto mengungkap rencana pemerintah memproduksi bensin dari batu bara. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi sekaligus memanfaatkan sumber daya dalam negeri.

Rencana itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, dia menyebut pengembangan bahan bakar berbasis sumber daya domestik terus dilakukan, termasuk pemanfaatan kelapa sawit untuk biodiesel.

“Profesor dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit, dan nanti kita juga akan bikin bensin dari batu bara,” ujar Prabowo, seperti dilansir dari Bisnis.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kemudian memastikan rencana tersebut akan ditindaklanjuti. Menurutnya, batu bara menjadi salah satu sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

“Sekarang teknologinya itu sudah canggih, di mana batu bara yang kalori rendah itu bisa menghasilkan gas maupun minyak,” kata Bahlil di Jakarta, Senin (21/9/2026), mengutip dari Bisnis.

Produksi bahan bakar cair dari batu bara bukan teknologi baru. Proses tersebut dikenal sebagai coal-to-liquid (CTL), yakni teknologi yang mengubah batu bara menjadi bahan bakar cair seperti bensin maupun diesel.

Dalam salah satu proses CTL, batu bara terlebih dahulu diubah menjadi synthetic gas (syngas) melalui proses gasifikasi. Syngas yang terdiri atas karbon monoksida dan hidrogen kemudian dapat diolah lebih lanjut menjadi metanol dan produk bahan bakar cair.

Teknologi serupa telah dikembangkan di sejumlah negara. Afrika Selatan, misalnya, telah lama mengembangkan teknologi pencairan batu bara melalui Sasol.

Namun, tersedianya teknologi tidak otomatis membuat proyek tersebut mudah diwujudkan. Persoalan utama justru berada pada besarnya investasi dan biaya operasional.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy menilai tantangan utama CTL di Indonesia adalah aspek keekonomian.

“Permasalahan utamanya bukan mengenai teknologi. Namun, lebih kepada keekonomian,” ujar Sudirman, seperti dilansir dari Bisnis.

Menurut dia, pembangunan fasilitas CTL membutuhkan capital expenditure (capex) besar dan biaya operasional yang relatif tinggi. Kondisi tersebut dapat membuat proyek kurang menarik bagi investor swasta jika tidak disertai dukungan kebijakan dan kepastian keekonomian.

Lebih Kompleks daripada DME

Tantangan CTL juga dinilai lebih besar jika dibandingkan dengan proyek pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME).

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar mengatakan teknologi CTL memang sudah lama dikembangkan, tetapi prosesnya lebih kompleks dibandingkan pengolahan batu bara menjadi DME.

“Kalau dibandingkan dengan DME, proyek CTL memang jauh lebih kompleks,” ujar Bisman, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, Selasa (22/9/2026).

Dalam proses CTL, batu bara dapat melalui tahap gasifikasi menjadi syngas sebelum diproses melalui reaksi Fischer-Tropsch untuk menghasilkan bahan bakar cair. Proses tersebut membutuhkan pengendalian suhu dan tekanan serta fasilitas dengan skala investasi besar.

Bisman juga menyebut CTL membutuhkan konsumsi air yang lebih tinggi dan memiliki kebutuhan energi yang besar. Sebagai perbandingan, pengolahan batu bara menjadi DME memiliki alur proses yang relatif lebih pendek.

Data yang dikutip dari Bloomberg Technoz menyebut produksi satu ton DME membutuhkan sekitar 2,5–3 ton batu bara. Sementara itu, produksi satu ton produk minyak cair melalui CTL membutuhkan sekitar 4–5 ton batu bara.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar juga menilai CTL lebih kompleks dibandingkan pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME).

“Kalau dibandingkan dengan DME, proyek CTL memang jauh lebih kompleks,” ujar Bisman, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, Selasa (22/9/2026).

Proses CTL membutuhkan pengendalian suhu dan tekanan, konsumsi air yang lebih tinggi, serta investasi besar. Bloomberg Technoz mencatat produksi satu ton produk minyak cair melalui CTL membutuhkan sekitar 4–5 ton batu bara, sedangkan satu ton DME membutuhkan sekitar 2,5–3 ton batu bara.

Bagi pemerintah, pengembangan CTL diarahkan untuk memanfaatkan sumber daya domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM. Namun, apakah batu bara dapat benar-benar menjadi bahan baku bensin yang layak secara komersial masih akan sangat bergantung pada hasil kajian teknis dan keekonomiannya. (Ning/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Asal-usul Warmindo, Warung Mi Instan yang Berawal dari Burjo

31 Okt 2026

Jejak Upeti Pesisir Jawa yang Menguatkan Kerajaan Mataram

2 Nov 2026

Film Pendek Indonesia Golden Island Raih Penghargaan di Festival Film Singapura

3 Nov 2026

Gunung Tidar, Paku Tanah Jawa yang Menyimpan Filosofi Keseimbangan

4 Nov 2026

Menteri UMKM Pastikan Tukang Cukur hingga Warteg Beromzet Kecil Bebas PPh

5 Nov 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: