BerandaInspirasi Indonesia
Kamis, 19 Agu 2026 11:14

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

Suara Bung Karno yang dikenal sebagai rekaman Proklamasi Kemerdekaan direkam ulang di studio RRI pada 1951. (Wikipedia)

Suara Bung Karno yang setiap 17 Agustus diperdengarkan sebagai rekaman Proklamasi ternyata bukan direkam pada 17 Agustus 1945, melainkan direkam ulang di studio RRI pada 1951.

Inibaru.id - Setiap 17 Agustus, suara Bung Karno membacakan teks Proklamasi hampir selalu diperdengarkan. Suara itu begitu lekat dengan ingatan masyarakat tentang detik-detik kemerdekaan Indonesia.

Namun, tahukah kamu bahwa suara yang selama ini kita dengarkan bukanlah rekaman asli saat Proklamasi Kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945?

Menteri Kebudayaan Fadli Zon kembali meluruskan fakta tersebut saat menghadiri kegiatan Tapak Tilas Proklamasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta, Minggu (16/8/2026).

Dalam sambutannya, Fadli menjelaskan bahwa pembacaan Proklamasi pada 17 Agustus 1945 tidak direkam. Rekaman suara Bung Karno yang kini dikenal luas justru dibuat beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.

“Kalau kita juga boleh jujur, suara pidato Bung Karno ketika itu, proklamasi juga direkam lima tahun kemudian,” kata Fadli seperti dikutip dari Kumparan, Minggu (16/8).

“Sehingga itu juga bukan rekaman pada hari H,” lanjutnya.

Pembacaan Proklamasi berlangsung di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, sekitar pukul 10.00 WIB. Upacara berlangsung sederhana tanpa protokol resmi.

Dilansir dari situs Kementerian Sekretariat Negara, ketika itu, pengeras suara disiapkan oleh Mr Wilopo, sementara tiang bendera bambu disiapkan Suhud. Setelah Soekarno menyampaikan pidato singkat, teks Proklamasi dibacakan dan dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih serta lagu Indonesia Raya.

Tidak ada rekaman audio yang mengabadikan suara Soekarno saat membacakan teks tersebut. Dokumentasi yang tersisa dari momen bersejarah itu terutama berupa foto, salah satunya hasil jepretan fotografer Frans Mendoer.

Fadli juga menceritakan bahwa sejumlah rombongan bahkan datang terlambat dan tidak sempat mendengar pembacaan Proklamasi secara langsung.

“Dan ada delegasi rombongan yang datang terlambat, kalau tidak salah termasuk Barisan Pelopor,” ujarnya.

Mereka kemudian meminta Soekarno mengulangi pembacaan teks Proklamasi. Namun, menurut Fadli, permintaan tersebut ditolak karena Proklamasi dianggap hanya diucapkan satu kali.

“Mereka meminta Bung Karno untuk membaca ulang, karena mereka tidak mendengar rasanya proklamasi itu. Tetapi kata Bung Hatta, proklamasi hanya diucapkan sekali saja,” kata Fadli.

Sikap tersebut juga menjadi alasan mengapa proses perekaman ulang suara Proklamasi baru dilakukan beberapa tahun kemudian.

Direkam Ulang di Studio RRI

Suara Soekarno yang selama ini kita dengarkan berasal dari rekaman ulang yang dibuat di studio Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta pada 1951.

Perekaman tersebut berlangsung atas prakarsa Jusuf Ronodipuro, salah satu pendiri RRI. Ia membujuk Soekarno untuk kembali membacakan teks Proklamasi agar suara Presiden pertama RI tersebut dapat diabadikan dan didengarkan oleh masyarakat.

Awalnya, Soekarno disebut sempat menolak permintaan tersebut. Baginya, Proklamasi Kemerdekaan merupakan peristiwa sakral yang hanya dibacakan sekali.

Namun, setelah dibujuk, Soekarno akhirnya bersedia membacakan kembali teks Proklamasi di studio RRI. Rekaman itulah yang kemudian menjadi suara ikonik yang setiap tahun diperdengarkan dalam berbagai peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.

Jadi, ketika mendengar suara Bung Karno mengucapkan “Proklamasi” setiap 17 Agustus, yang kita dengarkan bukanlah audio dari pagi bersejarah di Pegangsaan Timur pada 1945.

Suara tersebut adalah rekaman ulang yang dibuat sekitar enam tahun setelah Indonesia merdeka, tetapi tetap menjadi salah satu dokumentasi audio paling penting dalam sejarah perjalanan bangsa. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Gatot, Jajanan Gunungkidul yang Konon Berasal dari Gaplek “Gagal Total”

19 Sep 2026

Jejak Yerusalem dalam Nama Kudus hingga Dijuluki Yerusalem van Java

21 Sep 2026

Prabowo Ungkap Rencana Bikin Bensin dari Batu Bara, Ini Tantangannya

22 Sep 2026

BDx Bangun Pusat Data AI 640 MW di Jatiluhur

23 Sep 2026

Dari Kuliner Perantauan hingga Jadi Identitas Daerah, Ini Fakta Menarik Mi Ayam Wonogiri

24 Sep 2026

SKCK Bakal Bisa Dicetak Sendiri, Tak Perlu Lagi ke Kantor Polisi

25 Sep 2026

670 Penari Bawa Tari Lajur Caping Kalo Kudus Pecahkan Rekor MURI

26 Sep 2026

67 Juta Orang Gunakan QRIS, Apakah Masyarakat Mulai Tinggalkan Uang Tunai?

28 Sep 2026

Dari Gunung hingga Tokoh Wayang, Ini Inspirasi Nama Kereta Api di Indonesia

29 Sep 2026

Antrean Haji Dipangkas, dari 49 Tahun Kini Jadi 14 Tahun

29 Sep 2026

Vaksin Hewan Buatan Indonesia Perdana Diekspor ke Afrika

30 Sep 2026

STNK Digital Resmi Diluncurkan, Dokumen Kendaraan Bisa Diakses dari Ponsel

1 Okt 2026

Terapi TBC Dikembangkan Lebih Singkat untuk Cegah Putus Obat

2 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: