BerandaHits
Sabtu, 2 Okt 2026 13:32

Terapi TBC Dikembangkan Lebih Singkat untuk Cegah Putus Obat

Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan sebagai bagian dari upaya penanganan tuberkulosis (TBC) di Indonesia. (Pinterest/ Ayushakti)

Kemenkes mengembangkan terapi TBC dengan durasi lebih singkat hingga satu bulan untuk regimen tertentu, sembari memperluas skrining dan terapi pencegahan guna menekan kasus.

Inibaru.id - Pengobatan tuberkulosis (TBC) yang selama ini membutuhkan waktu berbulan-bulan tengah dikembangkan menjadi lebih singkat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut terapi selama satu bulan telah dikembangkan untuk regimen tertentu.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan durasi pengobatan yang panjang menjadi salah satu tantangan dalam penanganan TBC. Pasien harus mengonsumsi obat secara rutin dalam waktu lama sehingga berisiko mengalami kejenuhan dan tidak menyelesaikan terapi.

“Yang menjadi masalah adalah obat TBC itu pengobatannya lama, compliance dan kepatuhan pasiennya itu jelek. Jadi akhirnya pasiennya banyak yang putus obat,” kata Dante dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Sebelumnya, pengobatan TBC dapat berlangsung selama enam hingga sembilan bulan. Dalam kondisi tertentu, pasien juga harus mengonsumsi beberapa jenis obat setiap hari.

Menurut Dante, pasien yang menghentikan pengobatan sebelum waktunya berisiko mengalami resistansi obat.

“Kalau putus obat dia resisten, enggak bisa diobati dan menyebabkan kematian,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah memanfaatkan hasil penelitian untuk mengembangkan terapi dengan durasi lebih singkat.

“Yang tadinya 6 sampai 9 bulan, kan bosan orang minum obat banyak begitu bisa sampai 9 tablet 1 hari, sekarang 1 bulan saja,” tutur Dante.

Meski demikian, terapi satu bulan tersebut ditujukan untuk regimen tertentu. Artinya, bukan berarti seluruh pasien TBC otomatis dapat menyelesaikan pengobatan hanya dalam waktu satu bulan.

Skrining TBC Diperluas

Selain mengembangkan pengobatan dengan durasi lebih singkat, Kemenkes memperkuat penemuan kasus TBC agar pasien dapat segera mendapatkan penanganan.

Skrining diperluas melalui puskesmas, CKG komunitas, CKG swasta, hingga layanan one stop service. Pada layanan tersebut, pemeriksaan seperti rontgen dan pemeriksaan dahak dapat dilakukan di satu tempat, terutama di wilayah yang memiliki kasus TBC tinggi.

Pemerintah juga melakukan investigasi kontak terhadap orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC. Anggota keluarga yang berisiko terpapar dapat diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) untuk mengurangi kemungkinan berkembangnya infeksi menjadi penyakit TBC.

Dante mengatakan anggota keluarga yang tinggal bersama pasien TBC dapat menjalani terapi pencegahan selama tiga bulan.

“Jadi kalau orang yang tinggal satu rumah, itu juga harus diobati. Ada lima orang, lima orang diobatin. Selama tiga bulan. Namanya terapi pencegahan tuberkulosis,” ujarnya.

Berbagai upaya tersebut dilakukan di tengah tingginya beban TBC di Indonesia. Dante menyebut Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TBC terbanyak kedua di dunia setelah India.

“Berita tidak baiknya adalah bahwa kita (Indonesia) sekarang nomor dua di seluruh dunia setelah India, angka tuberkulosisnya,” kata Dante.

Berdasarkan estimasi yang disampaikan Dante, jumlah kasus TBC di Indonesia turun dari sekitar 1,09 juta menjadi 1,08 juta pada 2026. Penurunan sekitar 10 ribu kasus tersebut disebut terjadi setelah pemerintah memperluas identifikasi dan pengobatan di berbagai daerah.

Selain skrining dan pengobatan, pemerintah mendorong pembentukan desa dan kelurahan Siaga Tuberkulosis. Program tersebut melibatkan masyarakat dan kader agar pencegahan serta penemuan kasus dapat dilakukan hingga tingkat komunitas.

Pemerintah pusat dan daerah juga melakukan pemantauan kasus secara berkala. Evaluasi dilakukan untuk melihat perkembangan kasus sekaligus memastikan berbagai upaya pengendalian TBC berjalan di daerah. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Giuseppe Garibaldi, Kapal Induk Pertama Indonesia Tiba di Tanjung Priok

18 Sep 2026

Gatot, Jajanan Gunungkidul yang Konon Berasal dari Gaplek “Gagal Total”

19 Sep 2026

Jejak Yerusalem dalam Nama Kudus hingga Dijuluki Yerusalem van Java

21 Sep 2026

Prabowo Ungkap Rencana Bikin Bensin dari Batu Bara, Ini Tantangannya

22 Sep 2026

BDx Bangun Pusat Data AI 640 MW di Jatiluhur

23 Sep 2026

Dari Kuliner Perantauan hingga Jadi Identitas Daerah, Ini Fakta Menarik Mi Ayam Wonogiri

24 Sep 2026

SKCK Bakal Bisa Dicetak Sendiri, Tak Perlu Lagi ke Kantor Polisi

25 Sep 2026

670 Penari Bawa Tari Lajur Caping Kalo Kudus Pecahkan Rekor MURI

26 Sep 2026

67 Juta Orang Gunakan QRIS, Apakah Masyarakat Mulai Tinggalkan Uang Tunai?

28 Sep 2026

Dari Gunung hingga Tokoh Wayang, Ini Inspirasi Nama Kereta Api di Indonesia

29 Sep 2026

Antrean Haji Dipangkas, dari 49 Tahun Kini Jadi 14 Tahun

29 Sep 2026

Vaksin Hewan Buatan Indonesia Perdana Diekspor ke Afrika

30 Sep 2026

STNK Digital Resmi Diluncurkan, Dokumen Kendaraan Bisa Diakses dari Ponsel

1 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: