BerandaTradisinesia
Senin, 21 Sep 2026 12:46

Jejak Yerusalem dalam Nama Kudus hingga Dijuluki Yerusalem van Java

Penulis:

Jejak Yerusalem dalam Nama Kudus hingga Dijuluki Yerusalem van JavaAdministrator
Jejak Yerusalem dalam Nama Kudus hingga Dijuluki Yerusalem van Java

Masjid Menara Kudus menjadi salah satu jejak sejarah Sunan Kudus sekaligus simbol akulturasi budaya Islam dan Hindu di Kudus. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Nama Kudus dipercaya berkaitan dengan Al-Quds, salah satu nama Yerusalem, melalui jejak perjalanan Sunan Kudus dalam menyebarkan Islam di Jawa.

Inibaru.id - Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dikenal sebagai Kota Kretek sekaligus Kota Santri. Di balik dua julukan tersebut, Kudus menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan Islam di Jawa dan sosok Sunan Kudus atau Ja’far Shoddiq.

Menariknya, nama Kudus dipercaya memiliki kaitan dengan Al-Quds, salah satu nama yang digunakan untuk menyebut Yerusalem. Karena hubungan sejarah dan budayanya dengan kota tersebut, Kudus juga dikenal dengan julukan “Jerusalem van Java”.

Kisah asal-usul nama Kudus tidak dapat dilepaskan dari perjalanan Sunan Kudus. Dikutip dari Kompas.com, Ja’far Shoddiq dikenal memiliki pengetahuan luas dan kemampuan diplomasi. Ia juga pernah mendapat kepercayaan untuk memimpin jemaah haji sehingga memperoleh gelar Amir Haji.

Dalam perjalanan mendalami ajaran Islam, Sunan Kudus disebut pernah menetap di Baitul Maqdis atau Yerusalem. Saat itu, wilayah tersebut tengah dilanda wabah penyakit. Ja’far Shoddiq kemudian membantu mengatasi wabah tersebut hingga berhasil ditangani.

Atas jasanya, Amir Palestina memberikan Ja’far Shoddiq sebuah ijazah wilayah, yaitu pemberian wewenang atas suatu daerah di Palestina. Namun, Sunan Kudus kemudian meminta agar wewenang tersebut dipindahkan ke Pulau Jawa. Permintaan itu pun dikabulkan.

Jejak kisah tersebut kemudian diabadikan melalui tulisan berhuruf Arab kuno yang hingga kini disebut masih dapat ditemukan di bagian atas mihrab Masjid Menara Kudus.

Setelah kembali ke Jawa, Sunan Kudus mendirikan masjid pada 956 Hijriah atau sekitar 1548 Masehi. Masjid tersebut awalnya direncanakan menggunakan nama Al-Manar atau Masjid Al-Aqsha, merujuk pada tempat suci di Yerusalem.

Yerusalem sendiri dikenal dengan sejumlah nama, termasuk Baitul Maqdis dan Al-Quds. Dari nama Al-Quds inilah kemudian muncul nama Kudus yang digunakan hingga sekarang.

Sebelum dikenal sebagai Kudus, kawasan tersebut juga memiliki sejumlah nama dalam berbagai sumber, salah satunya Tajug. Nama tersebut berkaitan dengan banyaknya bangunan beratap tajug yang digunakan untuk kepentingan keagamaan.

Masjid yang didirikan Sunan Kudus kemudian dikenal sebagai Masjid Menara Kudus. Seiring berkembangnya permukiman masyarakat muslim di sekitar masjid, kawasan tersebut dikenal sebagai Kauman.

Jerusalem van Java

Hubungan Kudus dengan Sunan Kudus tidak hanya terlihat dari sejarah namanya. Pengaruh dakwah sang wali juga masih dapat ditemukan dalam tradisi masyarakat hingga sekarang.

Salah satunya adalah tradisi tidak menyembelih sapi. Dalam penyebaran Islam di Kudus, Sunan Kudus disebut menggunakan sapi sebagai sarana untuk menarik masyarakat datang dan mendengarkan dakwahnya.

Dalam buku Mengenal Sembilan Wali (2018), Susilarini menjelaskan bahwa Sunan Kudus mengajarkan masyarakat untuk menggunakan kerbau sebagai hewan kurban, alih-alih sapi. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat Hindu yang memandang sapi sebagai hewan yang disucikan.

Tradisi tersebut kemudian mengakar dalam kehidupan masyarakat Kudus. Salah satu jejaknya bahkan dapat ditemukan dalam kuliner khas daerah tersebut, yakni soto Kudus yang secara tradisional menggunakan daging kerbau.

Selain tradisi kuliner, pesan toleransi juga tampak pada Masjid Menara Kudus. Bangunan tersebut memperlihatkan perpaduan unsur Islam dan budaya Hindu-Jawa, terutama pada bentuk menaranya yang memiliki karakter arsitektur khas bangunan kuno di Jawa.

Kudus hari ini memang lebih sering dikenal sebagai Kota Kretek dan Kota Santri. Di wilayah ini juga terdapat makam dua tokoh Wali Songo, yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Namun, julukan “Jerusalem van Java” menunjukkan sisi lain dari identitas Kudus. Nama tersebut tidak sekadar merujuk pada kemiripan nama dengan Al-Quds, tetapi juga pada jejak sejarah yang menghubungkan perjalanan Sunan Kudus dengan Yerusalem.

Warisan Sunan Kudus juga memperlihatkan bagaimana penyebaran Islam di Jawa berlangsung melalui pendekatan budaya dan penghormatan terhadap keberagaman masyarakat. Jejak itu masih dapat dilihat melalui arsitektur, tradisi, hingga kuliner yang bertahan di Kudus sampai sekarang. (Ike/E01)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved