Inibaru.id – Ajining raga ana ing busana. Falsafah Jawa yang kurang lebih berarti kehormatan ditentukan oleh busana yang kita kenakan ini bukanlah sekadar isapan jempol, khususnya di kalangan "kelas atas" pada zaman dulu; nggak terkecuali di Kabupaten Kudus.
“Bagi para saudagar di Kudus, busana bukan semata perkara gaya, tapi juga etika; cara mereka menempatkan diri di hadapan orang lain,” ujar Yusak Maulana, pegiat Cerita Kudus Tuwa saat menaja (menginisiasi) walking tour bertema Wastra Sodagaran di Kota Kretek pada pertengahan Desember 2025 lalu.
Di kota dagang seperti Kudus, kain berbicara lebih dulu sebelum mulut membuka percakapan. Berbeda dengan priyayi yang memperoleh kewibawaan dari struktur kekuasaan, saudagar Kudus membangun martabat melalui reputasi dan kepercayaan.
"Dunia dagang menuntut keterbacaan sikap, dan salah satu cara paling awal untuk membacanya adalah dari penampilan," lanjutnya.
Antara Jas dan Sarung
Foto-foto lama keluarga saudagar sepeti M Nitisemito, H Hasan Sjoekoer, hingga H Muzaid Dahlan memperlihatkan satu benang merah: jas tutup berkerah tinggi berpadu dengan sarung batik halus, dan peci atau iket yang terpasang tanpa kesan berlebihan. Rapi, elegan, tapi nggak mencolok.
“Saudagar Kudus ingin tampak pantas di mana pun ia berada. Di rumah, di pabrik, di masjid, maupun saat bertemu relasi dagang Eropa,” kata Yusak. "Dalam konteks ini, berpakaian adalah bagian dari kerja. Ia adalah modal sosial, sekaligus investasi kepercayaan."
Wastra Sodagaran memperlihatkan satu hal penting yaitu kosmopolitanisme nggak selalu berarti meninggalkan tradisi. Justru sebaliknya, di Kudus pengaruh Eropa dipeluk dan dijahit ulang agar menyatu dengan akar lokal yang familiar di kalangan bumiputera.
Jas Eropa hadir berdampingan dengan sarung dan peci; sebuah perjumpaan yang, pada pandangan pertama, tampak bertentangan. Namun, di situlah Kudus menemukan gayanya sendiri.
Fesyen yang Akulturatif
Saudagar Kudus hidup dalam pusaran dunia global. Mereka berhubungan dengan pedagang Belanda, Tiongkok, dan Arab. Namun, identitas Islam dan Jawa pesisiran tetap menjadi pijakan.
“Ini cara mereka berkata bahwa kami modern tapi tidak tercerabut!” jelas Yusak sambil menunjuk foto seorang saudagar dengan jas gelap dan sarung batik bermotif pesisiran.
Busana menjadi pernyataan diam-diam; tentang posisi, sikap, dan keberpihakan kultural. Perhatian Wastra Sodagaran nggak berhenti pada busana laki-laki, karena para istri saudagar juga menempati peran penting dalam representasi keluarga.
Foto-foto lama memperlihatkan perempuan Kudus tampil anggun dalam kebaya bordir, jarik batik pesisiran, dan perhiasan yang sepertinya dipilih dengan cermat. Yusak mengatakan, kalung kerek, liontin koin ukon, hingga berlian yang tersemat di rasukan mereka bukanlah semata hiasan.
“Ia (hiasan pada pakaian) adalah penanda ekonomi dan kehormatan keluarga,” tutur Yusak.
Nggak Selalu Mewah
Dalam tatanan sosial itu, perempuan tampil tertutup, tapi percaya diri. Alasannya, karena keberadaan mereka bukan sekadar untuk menemani, tapi juga mewakili keberhasilan suami dan ketertiban rumah tangga. Martabat keluarga dijaga, antara lain, lewat kain yang melekat di tubuh perempuan.
Namun, Yusak menambahkan, bukan berarti dandanan para saudagar selalu semewah itu. Dalam aktivitas kerja, lurik yang sederhana tapi fungsional dan terkenal awet menjadi pilihan mereka. Kesederhanaan lurik bukan tanda penghematan semata, melainkan cerminan etos dagang.
Dalam dunia niaga, kepercayaan dibangun dari konsistensi. Pakaian yang bersih dan pantas menciptakan kesan dapat dipercaya.
“Saudagar Kudus sangat berhitung," papar Yusak sebelum tersenyum, “termasuk dalam berpakaian.”
Busana kala itu, dia menambahkan, menjadi bagian dari strategi sosial yang mengatur jarak, membangun citra, sekaligus menjaga keseimbangan antara hemat dan pantas. Dia berharap, walking tour ini membuat peserta menyadari bahwa kota adalah arsip hidup dengan foto-foto lama itu sebagai kepingan informasinya.
Busana sebagai Bagian dari Budaya
Setiap titik perhentian dalam walking tour yang dipusatkan di Kudus Kulon itu menyimpan kisah: bagaimana kain dibeli, dijahit, dikenakan, lalu diwariskan. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, busana menyimpan ingatan tentang cara hidup, cara bekerja, dan cara menjaga martabat.
Wastra Sodagaran membuka kesadaran bahwa pakaian bukan sekadar benda, melainkan dokumen sejarah yang melekat di tubuh manusia. Di akhir perjalanan, satu kesimpulan mengemuka: busana saudagar Kudus adalah bahasa kebudayaan.
Kesimpulannya, budaya Kudus sangat mengedepankan kerapian, sopan, adaptif, dan sarat akan makna. Cerita Kudus Tuwa nggak sedang berusaha meromantisasi masa lalu, tapi mengajak para peserta memahami gimana orang Kudus dahulu menempatkan diri dalam kehidupan sosial melalui apa yang mereka kenakan.
Busana, pada akhirnya, bukan sekadar kain, tapi cara orang Kudus berbicara tentang martabat, identitas, dan etika hidup di tengah arus zaman. (Imam Khanafi/E10)
