BerandaInspirasi Indonesia
Selasa, 27 Jan 2026 13:01

Perjalanan Tjahjono Rahardjo Melacak Stasiun Kereta Pertama di Indonesia

Penulis:

Perjalanan Tjahjono Rahardjo Melacak Stasiun Kereta Pertama di IndonesiaSundara
Perjalanan Tjahjono Rahardjo Melacak Stasiun Kereta Pertama di Indonesia

Sosok Tjahjono Rahardjo, mantan dosen SCU Semarang yang menyukai sejarah pereketaapian Indonesia. (Inibaru.id/ Sundara)

Tjahjono Rahardjo menelusuri jejak stasiun pertama Indonesia di Semarang, mengungkap sejarah jalur Semarang-Tanggung dan peran NIS dalam sejarah dunia perkeretaapian nasional.

Inibaru.id - Mengakrabi lengking nyaring peluit lokomotif dan hiruk pikuk aktivitas peron tiap kali ayahnya mengajak "berlibur gratis" di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta membuat Tjahjono Rahardjo kecil begitu familiar dengan kereta api.

Kebiasaan itulah yang kemudian membawa lelaki bersahaja itu begitu menggemari dunia perkeretaapian Nusantara, hingga pada 2009 dia mulai betul-betul menelusuri sejarah si ular besi tersebut melalui arsip-arsip yang tersimpan hingga turun langsung ke lapangan.

Salah satu yang paling menarik minatnya adalah informasi yang simpang siur mengenai titik awal jaringan kereta api di Tanah Air, yang diyakini berada di Kota Semarang. Tjahjono mengatakan, yang menjadi perdebatan dalam historiografi perkeretaapian nasional adalah di mana titik pastinya?

"Semua sudah sepakat bahwa stasiun pertama yang didirikan pada zaman Hindia Belanda ada di Semarang. Namun, persisnya di mana masih banyak menuai perdebatan," ujar mantan dosen arsitektur Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang itu kepada Inibaru.id belum lama ini.

Perdebatan Awal Lokasi Stasiun Pertama

Tjahjono nggak memiliki latar belakang ilmu sejarah, tapi minatnya pada dunia perkeretaapian pada masa kolonialisme yang begitu besar berhasil membawanya begitu jauh ke masa lalu. Nggak hanya di dunia perkeretaapian, dia juga banyak terlibat dalam pelestarian bangunan bersejarah di Kota Lunpia.

Minatnya pada sejarah salah satunya tercermin dari keterlibatannya sebagai Anggota Badan Pengelola Kawasan Kota Lama Semarang pada 2013-2017 serta menjadi Tim Ahli Cagar Budaya Kota Semarang periode 2013-2014.

Dengan latar belakangnya sebagai ahli arsitek, Tjahjono banyak meneliti bangunan bersejarah, termasuk stasiun-stasiun peninggalan kolonialisme yang masih tersisa di Kota ATLAS. Berdasarkan hasil penelusurannya, dia justru menyangsikan anggapan banyak orang bahwa Stasiun Kemijen adalah yang pertama.

"Saya termasuk orang yang tidak percaya kalau Stasiun Kemijen itu stasiun pertama di Indonesia. Nama stasiun pertama kok memakai nama satu wilayah, bukan kota?" lontarnya, mempertanyakan lokasi stasiun pertama yang dibangun Belanda.

Perdebatan awal itu pun membawanya kepada perbedaan informasi lain. Dia mengatakan, ada buku sejarah yang menyebut Stasiun Semarang Gudang sebagai stasiun pertama. Sementara, keterangan di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) justru menunjuk pada Stasiun Kemijen.

"Saya tidak sepakat. Dari segi arsitektur, kedua stasiun tidak memenuhi spesifikasi sebagai stasiun besar pada masanya. Jadi, saya menyangsikan keduanya sebagai stasiun pertama," sebut Tjahjono.

NIS sebagai Jaringan Stasiun Pertama

Menurut Tjahjono, lokasi Stasiun Kemijen berdekatan dengan Stasiun Semarang Gudang yang bangunannya masih tersisa hingga sekarang. Stasiun ini berada di jalur Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), perusahaan yang datang setelah Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Sedikit informasi, SJS adalah perusahaan kereta penumpang dan barang swasta penyedia jaringan sepanjang 417 kilometer di Hindia Belanda mulai 1879. Sementara, NIS mulai mengembangkan jalur kereta api rute Semarang-Tanggung pada 1864, tapi baru beroperasi pada 10 Agustus 1867.

"Bentuk Stasiun Kemijen seperti halte atau tempat penghentian kereta api yang dilengkapi rumah sinyal, tapi sekarang bekas bangunannya sudah hilang," terangnya.

Bangunan bekas Stasiun Gudang yang masih berdiri di Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur. (Inibaru.id/ Sundara) 
Bangunan bekas Stasiun Gudang yang masih berdiri di Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur. (Inibaru.id/ Sundara)

Argumen Tjahjono itu kemudian bergulir ke berbagai ruang diskusi, termasuk di Komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) yang diikutinya. Dalam perdebatan itu, mereka sepakat bahwa NIS menjadi pihak yang membangun jalur kereta api pertama di Indonesia.

Tjahjono bersama dua rekannya, Deddy Herlambang dan Karyadi Baskoro, kemudian menindaklanjuti penelusuran itu secara serius untuk mencari lokasi stasiun pertama yang dibangun NIS. Berbekal buku serta peta-peta kuno, mereka menyisir kawasan Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur.

Stasiun yang Hilang di Kampung Sporlan

Penelusuran itu kemudian membawa mereka ke Kampung Sporlan untuk bertemu tokoh masyarakat setempat bernama Ramlan. Dari penelusuran itu, mereka menyimpulkan bahwa titik pertama jaringan stasiun di Kota Lunpia kemungkinan bukan Semarang Gudang atau Kemijen, tapi stasiun yang hilang di Kampung Sporlan.

"Kami menemukan bekas-bekas bangunan seperti pintu, lubang ventilasi, dan elemen lainnya. Setelah dicocokkan dengan gambar lama, kami menyimpulkan bahwa titik koordinat stasiun pertama, yakni Stasiun Samarang NIS ada di Kampung Sporlan," ungkapnya.

Berdasarkan catatan sejarah, jalur Semarang-Tanggung merupakan perlintasan pertama yang dibangun oleh NIS. Jalur ini menjadi tonggak awal sejarah transportasi kereta api di Indonesia, dari titik ini jaringan rel kereta api berkembang ke berbagai wilayah lain di seluruh Pulau Jawa.

"Semula, rute ini dirancang memanjang hingga Surakarta dan Yogyakarta. Namun, keterbatasan biaya membuat pembangunan awal hanya mencapai sekitar 25 kilometer, berhenti di Tanggung, Grobogan," terang Tjahjono, menjelaskan alasan mengapa jalur Semarang-Tanggung menjadi lintasan pertama.

Dia menambahkan, jalur tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan ekonomi. Semarang diposisikan sebagai gerbang ekspor di pesisir utara Jawa melalui Pelabuhan Tanjung Emas. Sementara itu, Tanggung berada di wilayah agraris yang subur sehingga sesuai untuk menjadi titik pengumpulan komoditas dari pedalaman Jawa.

"Jaringan kereta yang dibangun pertama bukan ke Batavia (Jakarta), tapi (dari Semarang) ke Surakara-Yogyakarta (Vorstenlanden) karena wilayah itu banyak perkebunan. Mereka butuh transportasi ke pelabuhan untuk memuat hasil perkebunan yang jadi kebutuhan konsumsi orang-orang Eropa," simpul Tjahjono.

Mengapa Dibangun Pihak Swasta?

Meski tujuan utama pembangunan jaringan rel di Jawa ditujukan untuk mendukung kebutuhan ekonomi pemerintah kolonial Hindia Belanda, Tjahjono mengungkapkan, proses pembangunannya nggak serta merta mereka kerjakan sendiri.

"Ada keraguan dari pemerintah Hindia Belanda terhadap prospek keuntungan, sehingga proyek perkeretaapian pertama kala itu diserahkan kepada pihak swasta," paparnya. "Waktu itu mereka memilih bersikap hati-hati karena ada kekhawatiran, pembangunan akan membebani kas negara."

Saat itulah datang proposal dari NV Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij yang kemudian lebih dikenal sebagai NIS atau NISM. Perusahaan ini berpusat di Den Haag, tapi sebagian besar kegiatan administratif dilakukan di gedung yang kini dikenal sebagai Lawang Sewu.

"NIS (mengajukan proposal) untuk membangun jalur tersebut, tapi pada akhirnya pemerintah Hindia Belanda tetap turun tangan karena mereka menghadapi kesulitan keuangan," bebernya. "Namun, proyek ini tetap dianggap sebagai keberhasilan, sehingga membuka jalan dari keterlibatan pemerintah kolonial."

Setelah jalur Semarang-Tanggung dinilai menguntungkan, Tjahjono menambahkan, pemerintah Hindia Belanda mulai membangun lintasan-lintasan baru, termasuk rute menuju Cirebon dan Surabaya yang erat kaitannya dengan distribusi hasil industri gula.

Penelusuran Tjahjono yang berawal dari kecintaannya pada kereta api telah membawa kita pada sejarah panjang jaringan kereta api Nusantara yang ternyata berasal dari Kampung Sporlan, kawasan yang kini terancam rob dan penurunan muka tanah.

Stasiun pertama yang sudah hilang nggak menghilangkan fakta bahwa dari situlah jalur perdagangan di Jawa bermula. Untuk kamu yang tinggal di Kota Semarang, berbangga hatilah dan jangan lupakan fakta sejarah itu ya! (Sundara/E10)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved