Inibaru.id - Pesatnya perkembangan kereta api saat ini seharusnya membuat warga Kota Semarang berbangga diri, karena di kota itulah transportasi massal tersebut lahir, besar, dan menjadi jaringan yang meluas hingga seantero Jawa sampai sekarang.
Jejaknya masih ada, tercatat dalam buku sejarah, bahkan bukti-buktinya masih dapat ditemukan dengan mudah. Namun, mungkin karena nggak banyak orang yang mendengungkannya, kisah itu nyaris terlupakan dan seolah tenggelam di tengah ingar bingar kehidupan modern masyarakatnya.
Bukti paling nyata dari fakta ini bisa kamu temukan di ruas jalur kereta Semarang-Tanggung. Jalur tersebut merupakan lintasan kereta api pertama yang dibuka di Tanah Air. Jalur itu dibangun Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), salah satu pelopor perkeretaapian pada masa Hindia Belanda.
Titik awal lintasan kereta api ini berada di Kampung Sporlan, Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur. Dari kawasan itulah konon kali pertama jalur kereta dibangun; dibentangkan hingga Stasiun Tanggung di Grobogan, yang sekaligus menandai babak baru dalam sejarah transportasi massal di Nusantara.
Hampir Nggak Bersisa
Berbeda dengan Stasiun Tanggung yang masih berfungsi, titik awal lintasan yakni Stasiun Samarang NIS hampir sepenuhnya hilang. Kompleks stasiun tersebut sudah hampir nggak terlihat lagi, telah berganti rupa menjadi perkampungan. Kisah tentang bangunan bersejarah itu pun jadi angin lalu yang dilupakan.
Wawan Purwanto, Ketua RT 02 RW 03 Kampung Sporlan, bahkan tampak ragu-ragu saat diminta menunjukkan jejak bangunan Stasiun Samarang NIS. Gedung bekas stasiunnya memang tersembunyi, tertutup hunian warga. Belum lagi, permukaan tanah di permukiman itu juga terus mengalami penurunan.
"Bentuk fisik (Stasiun Samarang NIS) sudah tidak ada," kata Wawan saat ditemui Inibaru.id, belum lama ini. "Berubahnya jadi permukiman sejak kapan, saya kurang tahu. Orang-orang tua cuma bilang, kampung kami adalah bekas stasiun NIS pertama."
Wawan mengungkapkan, sebagian besar warga Kampung Sporlan adalah pensiunan pegawai kereta api, termasuk orang tuanya. Sampai sekarang, dia masih berusaha mengingat setiap warisan cerita dari orang tuanya tentang Stasiun Samarang NIS itu karena nggak sedikit yang datang bertanya.
"Saya masih simpan ornamen besi melengkung yang diyakini orang sebagai satu-satunya peninggalan sejarah dari stasiun pertama itu," sebutnya.
Lenyap Ditelan Bumi
Selain bercerita tentang ornamen besi melengkung di rumahnya tersebut, saat menjelaskan tentang stasiun NIS pertama, Wawan juga biasa bercerita tentang balok-balok kayu yang menjadi penyangga rumahnya, yang diyakini warga setempat sebagai bagian dari bekas bangunan salah satu stasiun tertua di Indonesia tersebut.
"Saya kelahiran 1978. Dulu, waktu masih remaja, saya masih bisa melihat jejak stasiun berupa bangunan pintu besar dengan tinggi sekitar 16 meter. Sekarang sudah hilang, terdampak penurunan muka tanah," terangnya.
Pegiat sejarah perkeretaapian Nusantara asal Kota Semarang, Tjahjono Rahardjo membenarkan fakta itu. Dia mengatakan, Stasiun Samarang NIS berada pada ketinggian 1,8 mdpl, sehingga sisa-sisa rel kereta di kawasan itu telah lenyap ditelan bumi,
"Moda darat berbasis rel di Indonesia bermula di Semarang pada 10 Agustus 1867, dengan pengoperasian rute Semarang-Tanggung menjadi tonggak lahirnya perkeretaapian nasional. Sayang, bukti itu tenggelam akibat rob dan penurunan muka tanah," terangnya kepada Inibaru.id di kawasan Kota Lama, Jumat (23/1/2026).
Dibangun selama Tiga Tahun
Mantan dosen arsitektur di Soegijapranata Catholic University (SCU) ini mengatakan, pembangunan stasiun itu dimulai pada 1864 dan selesai tiga tahun setelahnya. Namun, karena sempat menghadapi kendala keuangan, ruas rel baru terbangun sejauh 25 kilometer saja, yakni sampai Tanggung.
Agar jalur kereta api dapat diselesaikan sesuai rencana awal yakni rute Semarang-Solo-Yogyakarta, pemerintah Hindia-Belanda kemudian turun tangan dengan memberikan bantuan pendanaan, mengingat tujuan utama pembangunan jalur ini adalah untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi.
"Tujuan utama rute ini adalah untuk mengangkut hasil bumi dari selatan ke Pelabuhan Tanjung Mas," tutur Tjahjono. "Karena itu, Stasiun Samarang NIS ini campur, untuk penumpang dan barang. Sebelah selatan penumpang, utara barang; dengan bentuk bangunan seperti huruf U."
Pertumbuhan ekonomi yang berkembang pesat, lanjutnya, kemudian memicu pembangunan Stasiun NIS baru di Kampung Tawang pada 1914; yang kini dikenal luas sebagai Stasiun Semarang Tawang, salah satu bangunan ikonik sekaligus landmark penting di Kota Lunpia.
Perlu Ada Penanda
Karena bekas bangunan dan rel sudah raib, Tjahjono menilai, diperlukan adanya semacam penanda atau tugu di kawasan bekas Stasiun Samarang NIS tersebut untuk menunjukkan menegaskan jejak sejarah, bahwa Kampung Sporlan punya nilai sejarah yang kuat.
"Perlu ada penanda, mungkin semacam tugu, untuk menunjukkan bahwa kampung itu pernah menjadi lokasi stasiun pertama di Indonesia," paparnya.
Tujuannya, Tjahjono menambahkan, agar masyarakat menyadari bahwa Semarang merupakan episentrum lahirnya transportasi kereta api di Indonesia. Memberikan penanda, dia mengatakan, jauh lebih memungkinkan ketimbang mengembalikan lagi jalur tersebut.
"Kalau dikembalikan lagi sulit. Jadi, penanda saja. Kami di Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Semarang sempat membuat beberapa MMT berisi informasi bahwa di sini pernah berdiri stasiun pertama, tapi sekarang mungkin sudah nggak ada," tandasnya.
Ingatan manusia sangatlah terbatas, maka penanda di Kampung Sporlan akan lebih mudah diwariskan ketimbang narasi lisan tentang jejak Stasiun Samarang NIS yang mungkin sudah jarang didengungkan. KAI Daop 4 atau Pemkot Semarang, silakan tunjukkan pesonamu! Ha-ha. (Sundara/E10)
