BerandaAdventurial
Selasa, 27 Jan 2026 15:33

Membaca Sejarah Kudus dalam Balutan Busana Warisan

Penulis:

Membaca Sejarah Kudus dalam Balutan Busana WarisanImam Khanafi
Membaca Sejarah Kudus dalam Balutan Busana Warisan

Selain walking tour Cerita Kudus Tuwa juga memamerkan beberapa wastra atau kain di akhir perjalanan. (Dok Cerita Kudus Tuwa)

Mengangkat tema Wastra Sodagaran, walking tour Cerita Kudus Tuwa mencoba membaca sejarah Kudus melalui balutan busana warisan yang dipengaruhi oleh pelbagai budaya.

Inibaru.id – Wastra Sodagaran; sebuah aktivitas walking tour Cerita Kudus Tuwa yang saya ikuti sekitar medio Desember 2025 lalu. Sudah berlalu lebih dari sebulan lalu, bahkan sekarang sudah berganti tahun, tapi saya sulit move on dari perjalanan yang memantik begitu banyak pertanyaan tersebut.

Minggu pagi, saat aktivitas masyarakat belum begitu ramai, kami sudah menyusuri gang-gang tua di kawasan Kudus Kulon, "Kota Lama"-nya Kabupaten Kudus; melewati rumah-rumah bercat pudar, dinding tinggi yang menyimpan cerita, dan halaman yang dulu menjadi saksi lalu lintas niaga kretek.

Dalam bahasa Sanskerta, "wastra" berarti kain. Jadi, tema dari walking tour hari itu adalah untuk mencoba membaca ulang Kudus lewat busana para saudagarnya. Pameran kecil kain, foto-foto lama, dan narasi lisan menjadi medium untuk memahami satu hal penting: sejarah tidak selalu hadir dalam arsip tertulis.

“Sejarah itu hidup di tubuh. Ia melekat pada pakaian yang pernah dipakai manusia,” ujar Yusak Maulana, peneliti budaya sekaligus narator utama kegiatan tersebut.

Yusak Maulana dalam acara walking tour Cerita Kudus Tuwa sedang menjelakan beberapa wastra atau kain dalam perjalanan. (Dok Cerita Kudus Tuwa)
Yusak Maulana dalam acara walking tour Cerita Kudus Tuwa sedang menjelakan beberapa wastra atau kain dalam perjalanan. (Dok Cerita Kudus Tuwa)

Di Kudus, wastra kain, jas, sarung, kebaya, dan perhiasan bukan sekadar penutup badan. Ia menjadi bahasa sosial. Penanda etika. Simbol iman. Ia juga sekaligus alat negosiasi antara tradisi lokal dan dunia modern yang datang bersama kolonialisme dan industri rokok.

Walking tour ini nggak sedang menawarkan nostalgia romantik, tapi mencoba membuka lapisan-lapisan pertanyaan seperti: Bagaimana saudagar Kudus menampilkan diri? Mengapa kesalehan tidak pernah dilepaskan dari kesuksesan? Bagaimana kota menyimpan ingatan itu dalam lipatan kain?

Untuk yang belum tahu, keunikan Kudus terletak pada satu pertemuan yang jarang dibicarakan secara serius, yakni santri dan saudagar. Sejak abad ke-19, banyak pengusaha rokok kretek Kudus berasal dari lingkungan pesantren atau setidaknya tumbuh dalam kultur Islam yang kuat.

Mereka berdagang, tetapi tetap menjaga batas kesopanan. Mereka kaya, tapi nggak sepenuhnya meniru gaya hidup elite kolonial. Sarung, peci, jas, dan sepatu kulit, bukanlah sebuah kontradiksi, tapi satu kesatuan; identitas ganda yang dinegosiasikan dengan sadar.

“Di sini, saleh dan sukses tidak harus saling meniadakan. Justru kesuksesan harus terlihat saleh,” kata Yusak.

Peserta walking tour Cerita Kudus Tuwa (Dok Cerita Kudus Tuwa)
Peserta walking tour Cerita Kudus Tuwa (Dok Cerita Kudus Tuwa)

Busana menjadi cara paling halus untuk menyampaikan pesan itu. Nggak berlebihan, tetapi jelas terbaca oleh sesama saudagar. Nggak menantang norma agama, tapi cukup modern untuk menunjukkan keterbukaan pada dunia luar.

Dalam foto-foto lama yang ditunjukkan kepada kami, terlihat para saudagar Kudus berbusana rapi, bersih, dan sopan. Nggak lusuh, tapi jauh dari gaya flamboyan ala elite kolonial Eropa. Sederhana. Seimbang. Etika inilah yang menjadikan saudagar Kudus mempunyai ciri khas saat bersama pedagang kota lain di Jawa kala itu.

Batik Kudus yang Nyaris Tungkus

Berbicara tentang kain di Jawa tentu saja nggak lepas dari keberadaan batik, nggak terkecuali di Kudus. Di tengah perjalanan, Yusak sempat memperlihatkan motif-motif batik lama khas Kudus seperti Buketan Seruni, Tiga Negeri Kudus, dan Gendara-gendiri.

"Motif-motif ini nyaris tak lagi dikenal publik," lontarnya.

Batik Kudus memang nyaris tungkus (tenggelam). Motif-motif yang diperlihatkan tersebut, dia melanjutkan, kini lebih banyak hidup dalam fragmen koleksi pribadi, foto hitam putih, atau lemari kuno warisan keluarga. Yang lebih ironis, baju adat Kudusan modern justru memakai Batik Lasem, bukan motif asli Kudus.

Yusak Maulana dalam acara walking tour Cerita Kudus Tuwa sedang menjelakan beberapa wastra atau kain dalam perjalanan. (Dok Cerita Kudus Tuwa)
Yusak Maulana dalam acara walking tour Cerita Kudus Tuwa sedang menjelakan beberapa wastra atau kain dalam perjalanan. (Dok Cerita Kudus Tuwa)

Saya paham, Yusak mengatakan hal itu di depan kami bukan tengah mencoba berpolemik. Wastra Sodagaran, dia menegaskan, dibuat untuk membuka diskusi kritis tentang kehilangan dan pengganti; bahwa identitas visual yang menjadi ciri khas pun bisa perlahan tergerus tanpa disadari.

“Yang kita pakai sekarang seringkali bukan yang kita miliki dulu, kan?” ujar Yusak lirih.

Mengenal motif batik lokal, dia mengungkapkan, sebetulnya sangatlah penting, karena bagi suatu daerah, batik bukan sekadar kain. Ia juga menyimpan jejak kosmopolitanisme lama. Batik Kudus, misalnya, terpengaruh budaya tionghoa, pesisir, pedalaman, dan Islam.

"Ketika motif itu menghilang, yang hilang bukan hanya estetika, tetapi cara pandang terhadap dunia," tegasnya.

Peserta sedang mengabadikan kain batik dalam acara walking tour Cerita Kudus Tuwa. (Dok Cerita Kudus Tuwa)
Peserta sedang mengabadikan kain batik dalam acara walking tour Cerita Kudus Tuwa. (Dok Cerita Kudus Tuwa)

Oya, sebagaimana orang kaya pada umumnya, fesyen para saudagar Kudus juga dilengkapi aksesori seperti kalung, cincin, bros, dan jam saku. Dalam foto-foto lama yang ditunjukkan panitia, perhiasan-perhiasan itu tampak nggak dipasang asal-asalan. Patut dan komposisinya pas.

Menurut saya, keberadaan perhiasan yang melengkapi busana para saudagar itu nggak menunjukkan kesombongan. Bukan pamer, tapi mungkin semacam kode. Cincin bertahta batu tertentu, bros di kebaya, atau jam saku di jas, adalah bahasa yang halus yang mungkin hanya dipahami sesama saudagar.

"Di tengah masyarakat Kudus yang religius, pamer kekayaan secara vulgar dianggap tidak etis. Karena itu, simbol status harus halus, terbaca hanya oleh mereka yang paham," kata Yusak. “Ini politik penampilan dan bahasa visual yang sopan tapi tegas.”

Menikai Baju Adat Kudusan

Berjalan di gang-gang sempit untuk menelusuri bangunan mewah bekas para saudagar dan pabrik rokok yang melambungkan harta mereka membuat saya bertanya, apakah fesyen mereka selalu sama di tiap situasi? Yusak mengatakan, tentu saja tidak!

"Di setiap ruang, busana menemukan konteksnya. Rumah besar dengan halaman luas membutuhkan pakaian yang mencerminkan wibawa tuan rumah. Sementara, ruang kerja pabrik memerlukan busana yang lebih praktis, tapi tetap rapi," jelasnya.

Menurut Yusak, bisana kita nggak bisa dilepaskan dari ruang hidup. Ia dibentuk oleh arsitektur, kerja, dan relasi sosial. Nah, busana pada saudagar di Kudus juga lahir dari kehidupan sehari-hari, bukan panggung seremoni.

Dari sinilah diskusi justru kembali mengarah pada baju adat Kudusan yang nggak sesuai dengan busana saudagar masa lalu. Namun, Yusak menegaskan bahwa baju adat memang acapkali bukanlah warisan baku masa lalu, tapi hasil dari negosiasi modern untuk kebutuhan visual, pariwisata, dan representasi.

Salah satu motif batik lama Kudus yang ditunjukan dalam acara walking tour Cerita Kudus Tuwa (Dok Cerita Kudus Tuwa)
Salah satu motif batik lama Kudus yang ditunjukan dalam acara walking tour Cerita Kudus Tuwa (Dok Cerita Kudus Tuwa)

"Masalah muncul ketika baju adat diperlakukan seolah-olah autentik tanpa pemahaman sejarah. Sebab, tanpa riset, ia mudah menjadi kostum kosong yang indah tapi kehilangan kedalaman makna," ujarnya.

Namun, dia dengan tegas mengatakan bahwa Wastra Sodagaran nggak dibuat untuk menentang busana adat Kudus itu. Dia hanya mencoba mengajak kami untuk memahaminya secara kritis. Cerita Kudus Tuwa berusaha membuka arsip alternatif dengan menampilkan foto dan kain yang relevan sebagai bukti sejarah.

"Dalam konteks kota yang arsip tertulisnya terbatas, pendekatan ini menjadi penting. Sejarah tidak harus selalu dibaca di ruang museum atau perpustakaan, tapi juga melalui lipatan sarung, jahitan jas, dan motif kebaya," tutup Yusak.

Perjalanan "Wastra Sodagaran" memang bukan untuk bernostalgia, tapi berbagi tanggung jawab sekaligus merawat ingatan agar tanah lahir kami nggak kehilangan arah. Sejarah memang bukan benda mati; ia hidup selama kita mau membacanya! (Imam Khanafi/E10)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved