BerandaTradisinesia
Rabu, 25 Agu 2026 14:39

Mengenal Sekaten, Tradisi Maulid Nabi Warisan Dakwah Wali Songo

Sekaten merupakan tradisi tahunan Keraton Yogyakarta untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang telah berlangsung selama ratusan tahun. (Pariwisata Indonesia)

Sekaten bukan sekadar tradisi tahunan Keraton Yogyakarta. Berawal dari dakwah Wali Songo pada masa Kerajaan Demak, tradisi ini memadukan syiar Islam dengan budaya Jawa melalui gamelan, rangkaian ritual, dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Inibaru.id - Sekaten menjadi salah satu tradisi yang identik dengan Yogyakarta. Setiap tahun, tradisi yang digelar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW ini menghadirkan rangkaian upacara adat yang melibatkan gamelan pusaka Keraton, abdi dalem, hingga masyarakat.

Bagi sebagian orang, Sekaten mungkin lebih dikenal lewat suasana ramai pasar malam yang menyertainya. Namun, di balik kemeriahan tersebut, terdapat sejarah panjang tentang dakwah Islam, budaya Jawa, serta hubungan antara raja dan rakyat.

Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan diyakini bermula sejak masa Kerajaan Demak. Sekaten kemudian diteruskan oleh kerajaan-kerajaan Islam di Jawa hingga akhirnya menjadi bagian dari tradisi Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Ada beberapa pendapat mengenai asal-usul nama Sekaten. Salah satunya menyebut Sekaten berasal dari kata sekati, yakni nama seperangkat gamelan yang digunakan dalam rangkaian upacara tersebut.

Pendapat lain mengaitkannya dengan kata syahadatain, yakni dua kalimat syahadat yang menjadi bagian penting dalam ajaran Islam. Terlepas dari perbedaan tersebut, Sekaten memiliki kaitan erat dengan proses penyebaran Islam di Jawa.

Pada masa Kerajaan Demak, para Wali Sanga menggunakan pendekatan budaya sebagai bagian dari dakwah. Mereka memahami bahwa penyebaran agama tidak harus dilakukan dengan paksaan. Masyarakat justru diajak mendekat melalui sesuatu yang telah akrab dengan kehidupan mereka, salah satunya seni gamelan.

Gamelan Sekaten kemudian dibunyikan untuk menarik perhatian masyarakat agar datang mendekat ke masjid. Di sanalah dakwah dan pengajaran tentang Islam disampaikan.

Cara tersebut menunjukkan bagaimana proses Islamisasi di Jawa berlangsung melalui dialog dengan budaya setempat. Tradisi dan kesenian yang telah hidup di tengah masyarakat tidak serta-merta dihilangkan, tetapi digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan nilai-nilai baru.

Dalam pelaksanaan Sekaten di Yogyakarta, terdapat dua gamelan pusaka yang menjadi bagian penting dari tradisi tersebut, yakni Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga.

Kiai Gunturmadu merupakan gamelan yang diwariskan dari Kerajaan Mataram. Sementara itu, Kiai Nagawilaga merupakan putran atau duplikasi dari Kiai Guntursari milik Kasunanan Surakarta.

Pembagian gamelan tersebut berkaitan dengan Perjanjian Giyanti pada 1755, yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Kiai Guntursari diberikan kepada Kasunanan Surakarta, sedangkan Kiai Gunturmadu menjadi bagian dari Kasultanan Yogyakarta. Untuk melengkapi kembali seperangkat gamelan Sekaten, Keraton Yogyakarta kemudian membuat duplikasi Kiai Guntursari yang diberi nama Kiai Nagawilaga.

Kedua gamelan inilah yang hingga kini menjadi bagian utama dari rangkaian Sekaten di Yogyakarta.

Rangkaian Sekaten diawali dengan Miyos Gangsa, yakni prosesi keluarnya gamelan Sekaten dari tempat penyimpanannya di dalam Keraton.

Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga terlebih dahulu dibawa menuju Bangsal Pancaniti. Di tempat tersebut, gamelan pusaka kemudian ditabuh oleh Abdi Dalem Kridha Mardawa.

Sebelum menjalankan tugasnya, para abdi dalem yang bertugas melakukan tradisi bersuci secara lahir dan batin. Hal ini menjadi bagian dari persiapan sebelum menjalankan tugas yang dianggap sakral.

Gamelan kemudian dimainkan dengan sejumlah gendhing, di antaranya gendhing rambu, gendhing rangkung, dan gendhing andong-andong atau gendhing lunggadung.

Pada saat gamelan ditabuh, Sultan juga mengirimkan utusan untuk menyebarkan udhik-udhik kepada penabuh dan masyarakat yang hadir. Udhik-udhik berupa biji-bijian dan uang logam. Tradisi ini menjadi simbol sedekah sekaligus doa keselamatan dan kesejahteraan dari raja kepada rakyatnya.

Setelah ditabuh hingga malam, kedua gamelan kemudian dibawa menuju Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Kiai Gunturmadu ditempatkan di Pagongan Kidul, sedangkan Kiai Nagawilaga berada di Pagongan Lor.

Tujuh Hari Gamelan Sekaten Ditabuh

Setelah berada di kompleks Masjid Gedhe, gamelan Sekaten ditabuh selama beberapa hari dalam rangkaian Sekaten. Gamelan dimainkan tiga kali sehari, yakni pada pagi, siang, dan malam hari. Namun, terdapat waktu tertentu ketika gamelan tidak dimainkan, yakni mulai Kamis petang hingga selepas salat Jumat.

Bagi masyarakat, bunyi gamelan Sekaten menjadi salah satu penanda yang paling khas dari tradisi ini. Suara gamelan pusaka tersebut bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan bagian dari ritual yang telah diwariskan lintas generasi.

Rangkaian Sekaten juga berlanjut dengan Numplak Wajik. Upacara ini menjadi penanda dimulainya pembuatan Gunungan Wadon atau Gunungan Putri yang akan digunakan dalam Garebeg Mulud.

Numplak Wajik dilaksanakan di Panti Pareden, kawasan Kamagangan Keraton. Dalam prosesi tersebut, wajik yang terbuat dari beras ketan dan gula kelapa menjadi salah satu unsur penting. Lesung dan alu juga digunakan dalam prosesi ini. Bunyi tumbukan lesung dengan irama tertentu menjadi bagian khas dari Numplak Wajik.

Selain Gunungan Wadon, sejumlah gunungan lain juga dipersiapkan untuk Garebeg Mulud, yakni Gunungan Lanang, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan. Gunungan-gunungan tersebut nantinya menjadi bagian dari puncak rangkaian peringatan Maulid Nabi di Keraton Yogyakarta.

Menjelang akhir rangkaian Sekaten, Sultan kembali hadir di Masjid Gedhe untuk melaksanakan prosesi penyebaran udhik-udhik. Udhik-udhik disebarkan di sejumlah tempat, termasuk Pagongan Kidul, Pagongan Lor, dan bagian dalam Masjid Gedhe. Momen tersebut menjadi salah satu bentuk simbolis hubungan antara raja dan rakyat. Setelah itu, Sultan mengikuti pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di serambi Masjid Gedhe.

Ada satu bagian yang menarik dalam prosesi tersebut. Ketika pembacaan sampai pada bagian asrokal, yakni bagian yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW, Sultan menerima Sumping Melati, hiasan telinga dari bunga melati.

Sumping tersebut memiliki makna simbolis bahwa seorang raja harus senantiasa mendengarkan aspirasi, pendapat, dan harapan rakyatnya. Pesan tersebut terasa relevan hingga kini: kekuasaan bukan hanya tentang memimpin, tetapi juga tentang kesediaan untuk mendengar.

Setelah seluruh rangkaian selesai, gamelan Sekaten kembali diangkut dari Masjid Gedhe menuju Keraton. Prosesi ini dikenal sebagai Kondur Gangsa.

Para abdi dalem dan prajurit Keraton turut mengawal perjalanan kedua gamelan pusaka tersebut. Sesampainya di Keraton, Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga kembali disemayamkan di tempat penyimpanannya.

Kondur Gangsa sekaligus menandai berakhirnya rangkaian Sekaten. Setelah itu, tradisi dilanjutkan dengan Garebeg Mulud sebagai puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bertahan selama ratusan tahun membuat Sekaten menjadi salah satu warisan budaya penting di Yogyakarta. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana agama dan budaya dapat berjalan berdampingan. Pada masa lalu, gamelan digunakan sebagai pintu masuk dakwah. Kini, rangkaian ritualnya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Yogyakarta.

Karena itu, Sekaten sebenarnya jauh lebih luas daripada pasar malam yang biasanya hadir bersamaan dengan perayaan tersebut.

Di balik suara gamelan, keramaian masyarakat, gunungan, dan berbagai aktivitas yang menyertainya, tersimpan sejarah tentang bagaimana nilai-nilai Islam disampaikan melalui budaya lokal.

Sekaten juga mengingatkan bahwa tradisi bukan sekadar sesuatu yang diwariskan untuk dilestarikan. Di dalamnya terdapat cerita tentang cara masyarakat masa lalu beradaptasi, berdialog, dan menemukan jalan untuk mempertahankan kebudayaan sekaligus menjalankan keyakinannya.

Itulah sebabnya, setiap kali gamelan Sekaten kembali ditabuh, yang terdengar bukan hanya bunyi alat musik pusaka. Ada sejarah panjang yang ikut bergema di dalamnya. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Tari Lengger Banyumas: Warisan Budaya Penuh Makna yang Tetap Menari Melintasi Zaman

11 Agu 2026

AI Factory Terbesar di Asia Tenggara Bakal Dibangun di Indonesia, Kapasitas Capai 1 GW

12 Agu 2026

Pelajar SD-SMP di Yogyakarta Bakal Wajib Berbahasa Jawa Krama Inggil Sehari dalam Sepekan

13 Agu 2026

Temuan Situs Bongal Geser Linimasa Masuknya Islam ke Nusantara hingga Tujuh Abad

14 Agu 2026

HUT ke-81 RI, KAI Beri Diskon Tiket 17 Persen

14 Agu 2026

Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Masuk Kelompok Ini?

15 Agu 2026

Rerie Dorong Situs Patiayam Terus Dijaga sebagai Warisan Peradaban

16 Agu 2026

Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang Sampah

17 Agu 2026

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik, Pemerintah Siapkan Skema Baru

18 Agu 2026

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

19 Agu 2026

Negara Pertama yang Mengakui Indonesia Merdeka

20 Agu 2026

Sinewara, Bioskop BUMN Besutan PFN Siap Meluncur 2027

21 Agu 2026

Garuda Indonesia Uji Internet Cepat di Udara, Video Call dari Ketinggian 30 Ribu Kaki

22 Agu 2026

Mulai 1 Oktober, Semua Merchant Bisa Nikmati Transaksi QRIS Bebas Biaya

24 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: