BerandaInspirasi Indonesia
Sabtu, 14 Agu 2026 13:24

Temuan Situs Bongal Geser Linimasa Masuknya Islam ke Nusantara hingga Tujuh Abad

Situs Bongal di Tapanuli Tengah menjadi lokasi penting penelitian arkeologi yang berpotensi mengungkap jejak awal kedatangan Islam di Nusantara. (Dok.Sultanate Institute)

Temuan arkeologi di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, mengindikasikan adanya aktivitas Islam sejak abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, berpotensi menggeser linimasa sejarah masuknya Islam ke Nusantara hingga tujuh abad lebih awal.

Inibaru.id - Temuan arkeologi di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, berpotensi menggeser pemahaman mengenai kapan Islam mulai hadir di Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan adanya indikasi aktivitas pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, jauh lebih awal dibandingkan periode yang selama ini banyak dikaitkan dengan berkembangnya Islam sebagai kekuatan politik di Nusantara.

Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Irfan Mahmud mengatakan temuan tersebut menjadi salah satu petunjuk penting dalam mengungkap sejarah awal kedatangan Islam di wilayah Nusantara.

Hal itu disampaikan Irfan dalam Webinar Series Forum Kebhinekaan Seri #38 di Jakarta, Rabu.

"Tim menemukan satu temuan penting tentang momen kedatangan Islam yang lebih awal dari yang diduga sebelumnya, abad 7 dan 8," ujar Irfan.

Menurutnya, temuan tersebut membuka peluang untuk menguji kembali berbagai hipotesis mengenai awal kedatangan dan perkembangan Islam di Nusantara melalui bukti-bukti arkeologis.

Selama ini, narasi sejarah mengenai perkembangan Islam di Nusantara kerap dikaitkan dengan munculnya kerajaan atau kekuatan politik Islam pada sekitar abad ke-13 hingga ke-15 Masehi.

Namun, temuan di Situs Bongal mengindikasikan adanya aktivitas yang berkaitan dengan Islam sejak abad ke-7 hingga ke-8. Jika temuan tersebut terus diperkuat melalui penelitian, maka terdapat rentang sekitar tujuh abad yang perlu ditinjau kembali dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara.

Rentang waktu tersebut bukan periode singkat. Justru, menurut Irfan, tujuh abad itu menjadi bagian penting yang selama ini masih menyimpan banyak pertanyaan.

"Ini tujuh abad bukan rentang yang pendek dan banyak lokasi-lokasi. Saya kira dengan penemuan kawan-kawan tersebut akan membuka kesempatan dan upaya-upaya untuk menemukan hal-hal yang baru," katanya.

Artinya, sejarah Islam di Nusantara kemungkinan tidak bermula ketika kerajaan-kerajaan Islam mulai berdiri. Ada kemungkinan proses kedatangan, interaksi, dan penyebaran Islam telah berlangsung jauh sebelumnya di tengah masyarakat.

Bukan Hanya Soal Kerajaan

Irfan menilai temuan Situs Bongal juga mendorong perubahan cara pandang dalam mempelajari sejarah Islam. Penelitian tidak semestinya hanya berfokus pada pusat kerajaan dan kehidupan kaum bangsawan.

Jejak masyarakat biasa justru perlu ditelusuri untuk mengetahui bagaimana Islam hadir dan berinteraksi dengan kehidupan masyarakat Nusantara pada masa awal.

Pendekatan inilah yang menurut Irfan dapat memperluas kajian mengenai arkeologi Islam akar rumput. Melalui bukti arkeologis, para peneliti dapat mencoba merekonstruksi kehidupan masyarakat yang hidup jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam.

Meski berpotensi mengubah linimasa sejarah, temuan Situs Bongal tetap membutuhkan penelitian lebih lanjut. Penafsiran mengenai sejarah masa lalu harus didasarkan pada bukti yang dapat diuji secara ilmiah.

Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra (Arbastra) BRIN Herry Yogaswara mengatakan perbedaan pendapat mengenai temuan tersebut merupakan bagian dari dinamika penelitian.

"Saya kira di dalam dunia riset perdebatan itu tidak ada masalah sepanjang berdasarkan evident (bukti) ya," ujarnya.

Karena itu, BRIN berencana mendorong penelitian berskala besar dan jangka panjang di kawasan Bongal maupun pesisir barat Sumatera. Riset tersebut diharapkan dapat memperkuat data arkeologis sekaligus memastikan konteks berbagai artefak yang ditemukan.

Jika bukti-bukti lanjutan semakin menguat, Situs Bongal dapat menjadi salah satu kunci untuk memahami periode awal hubungan Nusantara dengan dunia Islam. Bukan tidak mungkin, sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang selama ini dikenal perlu dilihat kembali dengan linimasa yang jauh lebih panjang. (Ning/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Purbaya Dicopot, Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru

15 Sep 2026

25.000 Tahun Lalu, Manusia Purba Sulawesi Redakan Sakit Gigi dengan Pinang

16 Sep 2026

Film Empat Musim Pertiwi Jadi Wakil Indonesia di Oscar 2027

17 Sep 2026

Giuseppe Garibaldi, Kapal Induk Pertama Indonesia Tiba di Tanjung Priok

18 Sep 2026

Gatot, Jajanan Gunungkidul yang Konon Berasal dari Gaplek “Gagal Total”

19 Sep 2026

Jejak Yerusalem dalam Nama Kudus hingga Dijuluki Yerusalem van Java

21 Sep 2026

Prabowo Ungkap Rencana Bikin Bensin dari Batu Bara, Ini Tantangannya

22 Sep 2026

BDx Bangun Pusat Data AI 640 MW di Jatiluhur

23 Sep 2026

Dari Kuliner Perantauan hingga Jadi Identitas Daerah, Ini Fakta Menarik Mi Ayam Wonogiri

24 Sep 2026

SKCK Bakal Bisa Dicetak Sendiri, Tak Perlu Lagi ke Kantor Polisi

25 Sep 2026

670 Penari Bawa Tari Lajur Caping Kalo Kudus Pecahkan Rekor MURI

26 Sep 2026

67 Juta Orang Gunakan QRIS, Apakah Masyarakat Mulai Tinggalkan Uang Tunai?

28 Sep 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: