Inibaru.id - Temuan arkeologi di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, berpotensi menggeser pemahaman mengenai kapan Islam mulai hadir di Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan adanya indikasi aktivitas pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, jauh lebih awal dibandingkan periode yang selama ini banyak dikaitkan dengan berkembangnya Islam sebagai kekuatan politik di Nusantara.
Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Irfan Mahmud mengatakan temuan tersebut menjadi salah satu petunjuk penting dalam mengungkap sejarah awal kedatangan Islam di wilayah Nusantara.
Hal itu disampaikan Irfan dalam Webinar Series Forum Kebhinekaan Seri #38 di Jakarta, Rabu.
"Tim menemukan satu temuan penting tentang momen kedatangan Islam yang lebih awal dari yang diduga sebelumnya, abad 7 dan 8," ujar Irfan.
Menurutnya, temuan tersebut membuka peluang untuk menguji kembali berbagai hipotesis mengenai awal kedatangan dan perkembangan Islam di Nusantara melalui bukti-bukti arkeologis.
Baca Juga:
Kawal Mimpi Situs Patiayam ke Level Nasional, Lestari Moerdijat: Secara Keilmuan Sudah Sangat Layak!Selama ini, narasi sejarah mengenai perkembangan Islam di Nusantara kerap dikaitkan dengan munculnya kerajaan atau kekuatan politik Islam pada sekitar abad ke-13 hingga ke-15 Masehi.
Namun, temuan di Situs Bongal mengindikasikan adanya aktivitas yang berkaitan dengan Islam sejak abad ke-7 hingga ke-8. Jika temuan tersebut terus diperkuat melalui penelitian, maka terdapat rentang sekitar tujuh abad yang perlu ditinjau kembali dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara.
Rentang waktu tersebut bukan periode singkat. Justru, menurut Irfan, tujuh abad itu menjadi bagian penting yang selama ini masih menyimpan banyak pertanyaan.
"Ini tujuh abad bukan rentang yang pendek dan banyak lokasi-lokasi. Saya kira dengan penemuan kawan-kawan tersebut akan membuka kesempatan dan upaya-upaya untuk menemukan hal-hal yang baru," katanya.
Artinya, sejarah Islam di Nusantara kemungkinan tidak bermula ketika kerajaan-kerajaan Islam mulai berdiri. Ada kemungkinan proses kedatangan, interaksi, dan penyebaran Islam telah berlangsung jauh sebelumnya di tengah masyarakat.
Bukan Hanya Soal Kerajaan
Irfan menilai temuan Situs Bongal juga mendorong perubahan cara pandang dalam mempelajari sejarah Islam. Penelitian tidak semestinya hanya berfokus pada pusat kerajaan dan kehidupan kaum bangsawan.
Jejak masyarakat biasa justru perlu ditelusuri untuk mengetahui bagaimana Islam hadir dan berinteraksi dengan kehidupan masyarakat Nusantara pada masa awal.
Pendekatan inilah yang menurut Irfan dapat memperluas kajian mengenai arkeologi Islam akar rumput. Melalui bukti arkeologis, para peneliti dapat mencoba merekonstruksi kehidupan masyarakat yang hidup jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam.
Meski berpotensi mengubah linimasa sejarah, temuan Situs Bongal tetap membutuhkan penelitian lebih lanjut. Penafsiran mengenai sejarah masa lalu harus didasarkan pada bukti yang dapat diuji secara ilmiah.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra (Arbastra) BRIN Herry Yogaswara mengatakan perbedaan pendapat mengenai temuan tersebut merupakan bagian dari dinamika penelitian.
"Saya kira di dalam dunia riset perdebatan itu tidak ada masalah sepanjang berdasarkan evident (bukti) ya," ujarnya.
Karena itu, BRIN berencana mendorong penelitian berskala besar dan jangka panjang di kawasan Bongal maupun pesisir barat Sumatera. Riset tersebut diharapkan dapat memperkuat data arkeologis sekaligus memastikan konteks berbagai artefak yang ditemukan.
Jika bukti-bukti lanjutan semakin menguat, Situs Bongal dapat menjadi salah satu kunci untuk memahami periode awal hubungan Nusantara dengan dunia Islam. Bukan tidak mungkin, sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang selama ini dikenal perlu dilihat kembali dengan linimasa yang jauh lebih panjang. (Ning/E01)
