BerandaInspirasi Indonesia
Selasa, 14 Sep 2026 09:24

Mengulik Asal-usul Nama Pekalongan, dari Joko Bau hingga Naskah Sunda Kuno

Pekalongan tak hanya dikenal sebagai Kota Batik, tetapi juga menyimpan beragam kisah di balik asal-usul namanya. (CJIP Jatengprov)

Asal-usul nama Pekalongan memiliki beberapa versi, mulai dari kisah Joko Bau dan topo ngalong, makna kata pek dan along, hingga jejak penyebutannya dalam naskah Sunda kuno abad ke-16.

Inibaru.id - Pekalongan selama ini dikenal sebagai salah satu sentra batik di Indonesia. Kota di pesisir utara Jawa Tengah ini bahkan mendapat julukan Kota Batik karena tradisi membatik yang telah berkembang dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakatnya.

Namun, tahukah kamu dari mana nama Pekalongan berasal?

Ternyata, ada beberapa versi yang berkembang mengenai asal-usul nama kota tersebut. Salah satunya berkaitan dengan kisah Joko Bau, putra Kyai Cempaluk yang dikenal sebagai salah satu tokoh dalam sejarah kawasan Pekalongan.

Mengutip buku Asal Usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe karya Zaenuddin HM, Joko Bau merupakan tokoh yang mengabdi kepada Sultan Agung, Raja Mataram. Ia kemudian mendapat tugas untuk memboyong Putri Ratansari dari Kalisalak, Batang, ke istana.

Dalam perjalanan, Joko Bau justru jatuh cinta kepada sang putri. Mengetahui hal tersebut, Sultan Agung memberikan hukuman kepada Joko Bau. Ia kemudian diperintahkan pergi ke wilayah pesisir untuk mengamankan daerah tersebut dari serangan bajak laut.

Joko Bau lalu melakukan semedi di sebuah hutan bernama Gambiran. Dalam pertapaannya, ia melakukan topo ngalong, yakni bertapa dengan posisi bergelantungan seperti kelelawar atau kalong.

Konon, tempat Joko Bau melakukan pertapaan itulah yang kemudian dikenal sebagai Pekalongan.

Versi lain menyebut nama Pekalongan berasal dari kata pek dan along. Pek diartikan sebagai teratas, sedangkan along atau halong bermakna banyak.

Gabungan kedua kata tersebut kemudian menjadi pekalong, yang merujuk pada sebuah daerah tempat para nelayan mendapatkan hasil laut yang melimpah.

Ada pula pendapat yang mengaitkan kata along dengan kalong. Istilah tersebut dipercaya merujuk pada kebiasaan para nelayan yang mencari ikan pada malam hari, sebagaimana kalong yang keluar pada malam hari.

Disebut dalam Naskah Sunda Kuno

Asal-usul nama Pekalongan juga dikaitkan dengan naskah kuno Sunda dari abad ke-16. Dalam naskah yang kini menjadi koleksi Perpustakaan Bodleian di Inggris tersebut, disebut sebuah wilayah bernama Pou-Kia-Loung.

Nama itu muncul dalam kisah perjalanan Bujangga Manik, seorang tokoh terpelajar dari Sunda yang melakukan perjalanan menyusuri Pulau Jawa. Dalam perjalanannya, Bujangga Manik singgah di sejumlah daerah, antara lain Brebes, Pemalang, Batang, hingga wilayah yang kini dikenal sebagai Pekalongan.

Nama yang tercatat dalam naskah tersebut kemudian disebut-sebut sebagai salah satu jejak awal penyebutan Pekalongan.

Terlepas dari beragam versi asal-usul namanya, keberadaan Pekalongan telah tercatat sejak awal abad ke-16. Saat itu, wilayah tersebut menjadi salah satu daerah yang disinggahi orang-orang dari Kerajaan Demak dan Cirebon.

Memasuki abad ke-17, Pekalongan menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Mataram Islam di bawah pemerintahan Sultan Agung. Ketika Mataram menyerang Batavia pada 1628, Pekalongan memiliki peran penting sebagai salah satu lumbung perbekalan karena lokasinya berada di jalur Pantura sekaligus jalur perdagangan laut.

Pada masa berikutnya, pengaruh VOC semakin kuat di wilayah Pekalongan. Sejak abad ke-19 hingga 1942, wilayah tersebut berada dalam administrasi Pemerintah Hindia Belanda.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, masyarakat Pekalongan turut berjuang merebut kekuasaan dari Jepang. Pada 3 Oktober 1945, rakyat berhasil merebut markas Tentara Jepang dan pada 7 Oktober 1945 Pekalongan dinyatakan bebas dari pendudukan Jepang.

Kini, Pekalongan berkembang sebagai salah satu kota penting di Jawa Tengah sekaligus salah satu pusat kebudayaan batik. Kota ini juga memiliki berbagai destinasi wisata, seperti Museum Batik yang menyimpan lebih dari 1.000 motif kain batik, Pantai Pasir Kencana, hingga Curug Cinde yang berada di kawasan hutan.

Jadi, di balik nama Pekalongan yang akrab sebagai Kota Batik, tersimpan berbagai kisah yang mempertemukan legenda, naskah kuno, dan perjalanan panjang sejarah pesisir utara Jawa. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: