BerandaHits
Kamis, 20 Mei 2026 09:32

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

Marketplace masih ramai, tetapi banyak seller kini mulai mencari cara agar bisnis tetap untung di tengah biaya digital yang terus meningkat. (Chatgpt AI)

Meningkatnya biaya platform, logistik, dan promosi membuat banyak UMKM serta brand mulai mengurangi ketergantungan pada marketplace dan membangun kanal penjualan mandiri.

Inibaru.id – Dulu, marketplace menjadi jalan pintas paling mudah bagi banyak pelaku usaha untuk menjual produk secara online. Tinggal membuka toko digital, memasang foto produk, lalu menunggu pembeli datang. Namun memasuki 2026, situasinya mulai berubah. Satu per satu pelaku UMKM hingga brand besar mulai mengurangi ketergantungan mereka pada platform e-commerce.

Fenomena ini ramai diperbincangkan di media sosial maupun forum komunitas seller online. Banyak penjual mengeluhkan potongan biaya yang terus bertambah, mulai dari komisi platform, program gratis ongkir, biaya iklan, affiliate, hingga ongkir retur. Tidak sedikit seller mengaku keuntungan mereka semakin tipis meski transaksi tetap ramai.

Founder & CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi, mengatakan bahwa fenomena tersebut sebenarnya bukan sekadar “eksodus” besar-besaran dari marketplace, melainkan perubahan strategi bisnis para pelaku usaha.

“Yang terjadi sebenarnya adalah pergeseran strategi kanal penjualan. UMKM mulai mencari keseimbangan antara marketplace, media sosial, WhatsApp, toko offline, reseller, dan kanal mandiri agar tidak terlalu bergantung pada satu platform,” ujarnya seperti dikutip dari CNBC Indonesia.

Menurutnya, persoalan utama bukan hanya kenaikan ongkos kirim, tetapi meningkatnya total biaya berjualan di marketplace. Biaya tersebut mencakup komisi platform, biaya layanan, program promosi, iklan, affiliate, hingga biaya retur dan logistik.

Kondisi ini membuat banyak seller mulai mempertanyakan apakah marketplace masih benar-benar menguntungkan. Sebab di tengah persaingan yang semakin ketat, margin keuntungan bisnis terus tergerus.

Fenomena tersebut terutama dirasakan brand yang memiliki volume penjualan besar. Sebuah produk yang dijual Rp200 ribu misalnya, bisa kehilangan sebagian besar marginnya setelah dipotong berbagai biaya platform dan promosi. Akibatnya, banyak brand mulai melirik strategi direct-to-consumer (D2C) dengan membangun website atau aplikasi resmi sendiri.

Selain persoalan biaya, seller juga mulai mengeluhkan sistem visibilitas produk di marketplace. Jika dulu produk masih bisa muncul secara organik lewat pencarian atau rekomendasi algoritma, kini banyak seller merasa harus memasang iklan agar toko mereka tetap terlihat.

Mal Digital Berbayar

Di media sosial bahkan muncul anggapan bahwa marketplace kini berubah menjadi “mal digital berbayar”. Penjual bukan hanya membayar biaya platform, tetapi juga harus membayar agar produknya muncul di hadapan calon pembeli.

Tidak hanya itu, sejumlah brand premium juga mulai mempertimbangkan faktor citra merek. Di marketplace, toko resmi sering muncul berdampingan dengan produk tiruan atau barang murah dengan kualitas tidak jelas. Situasi ini dinilai dapat memengaruhi persepsi konsumen terhadap brand.

Karena itu, beberapa brand mulai serius membangun website sendiri dengan tampilan yang lebih eksklusif dan pengalaman belanja yang lebih personal. Melalui website resmi, brand dapat mengatur harga, promo, hingga program loyalitas pelanggan secara lebih fleksibel.

Meski begitu, marketplace dinilai masih memiliki kekuatan besar dari sisi traffic dan kemudahan transaksi. Banyak brand saat ini tetap menggunakan marketplace sebagai etalase untuk mencari konsumen baru, tetapi perlahan mengarahkan pelanggan agar berbelanja langsung melalui website, aplikasi, atau kanal komunitas mereka sendiri.

Setijadi menilai solusi atas persoalan ini tidak cukup hanya dengan menekan tarif ongkir. Menurutnya, yang lebih penting adalah menciptakan struktur biaya e-commerce yang lebih transparan dan berkelanjutan bagi UMKM.

“Marketplace perlu memberikan kejelasan komponen biaya agar seller dapat menghitung margin secara rasional. UMKM juga perlu meningkatkan kemampuan menghitung harga pokok, margin, biaya kanal, dan efektivitas promosi,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memperkuat efisiensi logistik nasional serta membangun ekosistem digital yang sehat agar pelaku usaha tidak hanya ramai transaksi, tetapi juga tetap memperoleh keuntungan yang berkelanjutan.

Di tengah perubahan lanskap bisnis digital itu, pola perdagangan online di Indonesia tampaknya memang sedang memasuki babak baru. Marketplace tidak lagi menjadi satu-satunya pusat penjualan, melainkan bagian dari strategi yang lebih luas. Bagi banyak brand dan UMKM, tantangannya kini bukan sekadar mencari pembeli, tetapi bagaimana tetap bertahan dan tumbuh di tengah biaya digital yang semakin mahal. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Naik Lima Kali Lipat, Biaya Lepas Status WNI Resmi Naik Jadi Rp5 Juta, Ini Alasannya

5 Agu 2026

Kemenkeu Ambil Alih 60% Saham KCIC untuk Restrukturisasi Utang Whoosh

6 Agu 2026

CoreWeave Investasi Miliaran Dolar AS, Bangun Tiga Pusat Data AI Pertama di Indonesia

7 Agu 2026

Wayang Beber, Wayang Tertua di Nusantara yang Masih Bertahan hingga Kini

8 Agu 2026

Desa Giyombong Pernah Jadi Ibu Kota Jawa Tengah pada 1948, Ini Kisahnya

10 Agu 2026

Tari Lengger Banyumas: Warisan Budaya Penuh Makna yang Tetap Menari Melintasi Zaman

11 Agu 2026

AI Factory Terbesar di Asia Tenggara Bakal Dibangun di Indonesia, Kapasitas Capai 1 GW

12 Agu 2026

Pelajar SD-SMP di Yogyakarta Bakal Wajib Berbahasa Jawa Krama Inggil Sehari dalam Sepekan

13 Agu 2026

Temuan Situs Bongal Geser Linimasa Masuknya Islam ke Nusantara hingga Tujuh Abad

14 Agu 2026

HUT ke-81 RI, KAI Beri Diskon Tiket 17 Persen

14 Agu 2026

Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Masuk Kelompok Ini?

15 Agu 2026

Rerie Dorong Situs Patiayam Terus Dijaga sebagai Warisan Peradaban

16 Agu 2026

Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang Sampah

17 Agu 2026

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik, Pemerintah Siapkan Skema Baru

18 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: