Inibaru.id – Dulu, marketplace menjadi jalan pintas paling mudah bagi banyak pelaku usaha untuk menjual produk secara online. Tinggal membuka toko digital, memasang foto produk, lalu menunggu pembeli datang. Namun memasuki 2026, situasinya mulai berubah. Satu per satu pelaku UMKM hingga brand besar mulai mengurangi ketergantungan mereka pada platform e-commerce.
Fenomena ini ramai diperbincangkan di media sosial maupun forum komunitas seller online. Banyak penjual mengeluhkan potongan biaya yang terus bertambah, mulai dari komisi platform, program gratis ongkir, biaya iklan, affiliate, hingga ongkir retur. Tidak sedikit seller mengaku keuntungan mereka semakin tipis meski transaksi tetap ramai.
Founder & CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi, mengatakan bahwa fenomena tersebut sebenarnya bukan sekadar “eksodus” besar-besaran dari marketplace, melainkan perubahan strategi bisnis para pelaku usaha.
“Yang terjadi sebenarnya adalah pergeseran strategi kanal penjualan. UMKM mulai mencari keseimbangan antara marketplace, media sosial, WhatsApp, toko offline, reseller, dan kanal mandiri agar tidak terlalu bergantung pada satu platform,” ujarnya seperti dikutip dari CNBC Indonesia.
Menurutnya, persoalan utama bukan hanya kenaikan ongkos kirim, tetapi meningkatnya total biaya berjualan di marketplace. Biaya tersebut mencakup komisi platform, biaya layanan, program promosi, iklan, affiliate, hingga biaya retur dan logistik.
Kondisi ini membuat banyak seller mulai mempertanyakan apakah marketplace masih benar-benar menguntungkan. Sebab di tengah persaingan yang semakin ketat, margin keuntungan bisnis terus tergerus.
Fenomena tersebut terutama dirasakan brand yang memiliki volume penjualan besar. Sebuah produk yang dijual Rp200 ribu misalnya, bisa kehilangan sebagian besar marginnya setelah dipotong berbagai biaya platform dan promosi. Akibatnya, banyak brand mulai melirik strategi direct-to-consumer (D2C) dengan membangun website atau aplikasi resmi sendiri.
Selain persoalan biaya, seller juga mulai mengeluhkan sistem visibilitas produk di marketplace. Jika dulu produk masih bisa muncul secara organik lewat pencarian atau rekomendasi algoritma, kini banyak seller merasa harus memasang iklan agar toko mereka tetap terlihat.
Mal Digital Berbayar
Di media sosial bahkan muncul anggapan bahwa marketplace kini berubah menjadi “mal digital berbayar”. Penjual bukan hanya membayar biaya platform, tetapi juga harus membayar agar produknya muncul di hadapan calon pembeli.
Tidak hanya itu, sejumlah brand premium juga mulai mempertimbangkan faktor citra merek. Di marketplace, toko resmi sering muncul berdampingan dengan produk tiruan atau barang murah dengan kualitas tidak jelas. Situasi ini dinilai dapat memengaruhi persepsi konsumen terhadap brand.
Karena itu, beberapa brand mulai serius membangun website sendiri dengan tampilan yang lebih eksklusif dan pengalaman belanja yang lebih personal. Melalui website resmi, brand dapat mengatur harga, promo, hingga program loyalitas pelanggan secara lebih fleksibel.
Meski begitu, marketplace dinilai masih memiliki kekuatan besar dari sisi traffic dan kemudahan transaksi. Banyak brand saat ini tetap menggunakan marketplace sebagai etalase untuk mencari konsumen baru, tetapi perlahan mengarahkan pelanggan agar berbelanja langsung melalui website, aplikasi, atau kanal komunitas mereka sendiri.
Setijadi menilai solusi atas persoalan ini tidak cukup hanya dengan menekan tarif ongkir. Menurutnya, yang lebih penting adalah menciptakan struktur biaya e-commerce yang lebih transparan dan berkelanjutan bagi UMKM.
“Marketplace perlu memberikan kejelasan komponen biaya agar seller dapat menghitung margin secara rasional. UMKM juga perlu meningkatkan kemampuan menghitung harga pokok, margin, biaya kanal, dan efektivitas promosi,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memperkuat efisiensi logistik nasional serta membangun ekosistem digital yang sehat agar pelaku usaha tidak hanya ramai transaksi, tetapi juga tetap memperoleh keuntungan yang berkelanjutan.
Di tengah perubahan lanskap bisnis digital itu, pola perdagangan online di Indonesia tampaknya memang sedang memasuki babak baru. Marketplace tidak lagi menjadi satu-satunya pusat penjualan, melainkan bagian dari strategi yang lebih luas. Bagi banyak brand dan UMKM, tantangannya kini bukan sekadar mencari pembeli, tetapi bagaimana tetap bertahan dan tumbuh di tengah biaya digital yang semakin mahal. (Ike/E01)
