Inibaru.id - Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan. Dalam beberapa hari terakhir, kurs dolar Amerika Serikat (AS) sempat menembus level Rp17.500 per dolar AS, mendekati titik terlemah sepanjang sejarah rupiah. Kondisi ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari tingginya suku bunga The Fed, konflik geopolitik Timur Tengah, hingga keluarnya modal asing dari pasar negara berkembang.
Bagi masyarakat, angka Rp17.500 mungkin terasa sekadar data ekonomi. Namun dalam praktiknya, pelemahan rupiah bisa menjalar ke berbagai sektor kehidupan sehari-hari, mulai dari harga bahan pokok hingga biaya langganan digital.
Lalu, sektor mana saja yang paling berpotensi terdampak ketika dolar AS terus menguat? Berikut beberapa di antaranya.
1. Harga Bahan Pokok Ikut Naik
Pelemahan rupiah dapat memengaruhi harga bahan pokok, terutama yang bergantung pada impor seperti gandum, kedelai, gula, hingga daging sapi.
Selain itu, biaya distribusi dan transportasi juga berpotensi meningkat sehingga harga barang kebutuhan sehari-hari ikut terdorong naik.
2. Naiknya Biaya Energi
Indonesia masih melakukan impor minyak dan LPG dalam jumlah besar. Ketika dolar menguat, biaya impor energi ikut meningkat karena transaksi dilakukan menggunakan dolar AS.
Jika tekanan berlangsung lama, kondisi ini bisa berdampak pada harga BBM nonsubsidi, LPG, maupun tarif transportasi.
3. Subscription Digital Jadi Lebih Mahal
Layanan digital seperti Netflix, Spotify, YouTube Premium, ChatGPT, Adobe, hingga iCloud banyak menggunakan sistem pembayaran berbasis dolar AS.
Ketika kurs dolar naik, biaya langganan layanan digital tersebut berpotensi ikut mengalami penyesuaian harga dalam rupiah.
4. Harga Obat-obatan Lebih Mahal
Lebih dari 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih diimpor. Ketika dolar AS menguat, biaya produksi obat ikut naik karena industri farmasi harus membeli bahan baku menggunakan mata uang dolar.
Akibatnya, harga sejumlah obat maupun alat kesehatan berpotensi mengalami kenaikan jika pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama.
5. Lonjakan Harga Barang Elektronik dan Liburan
Barang elektronik seperti laptop, smartphone, kamera, hingga konsol game sebagian besar masih bergantung pada komponen impor. Ketika kurs dolar naik, harga jual produk-produk tersebut juga ikut terdorong naik.
Tak hanya itu, biaya liburan ke luar negeri juga bisa menjadi lebih mahal karena tiket pesawat, hotel, dan transaksi internasional menggunakan dolar AS atau mata uang asing lainnya.
6. Investor Asing Berpotensi Cabut
Saat rupiah melemah tajam, sebagian investor asing cenderung menarik dananya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Mereka biasanya memilih aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS atau obligasi Amerika Serikat.
Jika hal ini terjadi dalam skala besar, pasar saham dan obligasi domestik dapat mengalami tekanan, termasuk penurunan IHSG.
7. Tingkat Suku Bunga Bisa Naik
Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan. Langkah ini biasa dilakukan untuk menahan arus keluar modal asing sekaligus menjaga daya tarik investasi di dalam negeri.
Dampaknya, bunga kredit seperti KPR, cicilan kendaraan, maupun pinjaman usaha bisa ikut naik.
Meski begitu, pelemahan rupiah tidak selalu berarti Indonesia berada di ambang krisis seperti 1998. Sejumlah ekonom menilai kondisi fundamental ekonomi nasional saat ini masih relatif lebih stabil, mulai dari cadangan devisa, sistem perbankan, hingga pengawasan sektor keuangan. Namun jika tekanan dolar AS terus berlangsung dalam waktu lama, masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga di berbagai sektor. Karena itu, penguatan daya beli, pengendalian inflasi, dan stabilitas ekonomi menjadi hal penting agar dampaknya tidak semakin meluas. (Ike/E01)
