Inibaru.id - Saat daratan bersiap menghadapi musim kemarau yang lebih ekstrem, perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara justru diprediksi mengalami lonjakan kesuburan laut. Di tengah tantangan kekeringan, gagal panen, hingga suhu panas yang makin menyengat di daratan, perairan selatan Jawa sampai Nusa Tenggara diprediksi mengalami lonjakan kesuburan laut yang bisa membawa berkah besar bagi nelayan.
Fenomena ini berkaitan dengan proses alami yang disebut upwelling. Sederhananya, saat musim kemarau datang, angin timuran mendorong air laut hangat di permukaan menjauh dari pantai. Kekosongan itu kemudian digantikan oleh air laut dari lapisan bawah yang lebih dingin dan kaya nutrien.
Nah, air dari dasar laut inilah yang menjadi “pupuk alami” bagi laut. Nutrien seperti nitrat dan fosfat yang terangkat ke permukaan membuat fitoplankton berkembang pesat. Fitoplankton sendiri merupakan makanan utama berbagai biota laut kecil yang kemudian menarik ikan-ikan besar datang ke wilayah tersebut. Efek domino inilah yang membuat kawasan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara menjadi lebih produktif saat musim kemarau.
Mengutip dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), fenomena upwelling di selatan Jawa memiliki potensi besar bagi sektor perikanan karena mampu meningkatkan kesuburan perairan secara signifikan.
“Fenomena ini ibarat memompa pupuk alami dari laut dalam ke permukaan, tetapi dampaknya terhadap kelimpahan ikan tidak terjadi seketika, namun ada jeda waktu sekitar satu hingga dua bulan,” jelas Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, dikutip dalam keterangan resminya.
BRIN menyebut fenomena ini berpotensi semakin kuat ketika El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif terjadi bersamaan. Dinukil dari Medcom.id, penelitian BRIN mengenai dinamika Arus Pesisir Selatan Jawa (South Java Coastal Current/SJCC) menunjukkan bahwa El Nino dapat memperkuat intensitas upwelling di kawasan selatan Jawa.
Artinya, ketika daratan menghadapi ancaman kekeringan panjang, laut justru sedang mengalami lonjakan produktivitas.
Beberapa jenis ikan yang diprediksi meningkat populasinya antara lain tuna, cakalang, hingga lemuru. Mengutip dari RRI, BRIN memprediksi perairan seperti Selat Bali bahkan disebut berpotensi mengalami peningkatan tangkapan ikan lemuru yang cukup signifikan selama fenomena upwelling berlangsung.
Pola Upwelling Musiman
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Indonesia, khususnya wilayah selatan Jawa, memang dikenal memiliki pola upwelling musiman yang kuat. Dalam kajian yang dipublikasikan Jurnal Kelautan Nasional milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), peneliti menemukan bahwa intensitas upwelling meningkat selama periode El Niño dan IOD positif. Hal ini ditandai dengan turunnya suhu permukaan laut dan meningkatnya konsentrasi klorofil-a yang menjadi indikator tingginya produktivitas fitoplankton.
Meski begitu, kondisi ini tetap perlu disikapi dengan bijak. Laut yang lebih produktif bukan berarti boleh dieksploitasi berlebihan. Para peneliti mengingatkan pentingnya pengelolaan perikanan yang berkelanjutan agar lonjakan stok ikan tidak justru berujung pada kerusakan ekosistem laut.
Selain itu, kondisi cuaca ekstrem akibat El Nino juga tetap berisiko bagi nelayan. Gelombang tinggi, perubahan arus, hingga cuaca yang tidak menentu masih menjadi ancaman yang perlu diwaspadai.
Di tengah ancaman krisis pangan akibat kekeringan di daratan, fenomena ini menjadi pengingat bahwa laut Indonesia menyimpan potensi besar sebagai penyangga ketahanan pangan nasional. Ketika sawah menghadapi ancaman puso (gagal panen), laut justru bisa menjadi “ladang” alternatif yang memberi harapan.
Jadi, kalau stok seafood beberapa bulan ke depan terasa makin melimpah, bisa jadi laut memang sedang berpesta. (Ike/E01)
