Inibaru.id – Di sebuah ruang pamer yang tenang, kain-kain batik Kudus menggantung seperti lembaran ingatan yang dibuka kembali. Aroma kain baru bercampur dengan kesan tua yang seolah datang dari masa silam. Garis-garis malam yang membentuk bunga seruni, merak panjang, kupu-kupu, hingga motif ganggengan tampak hidup di bawah cahaya lampu. Tak sekadar dipamerkan sebagai benda estetik, kain-kain itu menghadirkan kembali cerita tentang kampung, perempuan pembatik, dan tradisi panjang masyarakat Kudus.
Pameran bertajuk Nyandhang Tradisi yang digelar oleh Komunitas Cerita Kudus Tuwa (CKT) menjadi ruang untuk membaca kembali perjalanan Batik Kudus sebagai warisan budaya yang terus bergerak mengikuti zaman. Pada 9 – 10 Mei 2026 lalu sebanyak 12 batik tulis Kudus yang terdiri dari 5 sarung dan 7 kain panjang atau jarik, serta 5 batik cap Kudus berupa 3 sarung dan 2 kain panjang dipamerkan dalam kegiatan tersebut. Seluruh koleksi berasal dari Omah Batik Kudus dengan rentang produksi tahun 2020–2025.
Di antara pengunjung yang datang silih berganti, sosok Yusak Maulana tampak beberapa kali berhenti di depan kain-kain tertentu. Ia memperhatikan detail motif dengan saksama, seolah sedang membaca kembali jejak sejarah yang tertinggal di permukaan kain. Selain dikenal sebagai desainer, Yusak juga merupakan pegiat wastra di Kudus yang selama ini aktif mengkaji dan menghidupkan kembali tradisi batik pesisir.
Menurut Yusak, pameran ini bukan sekadar menghadirkan batik sebagai produk sandang, melainkan memperlihatkan bagaimana tradisi bekerja melalui ingatan dan keberlanjutan.
“Batik Kudus itu punya kekuatan pada detail-detail kecilnya. Dari isen-isen seperti beras kecer, ganggengan, sampai buketan bunganya, semuanya memperlihatkan ketelatenan pembatik Kudus tempo dulu. Itu yang ingin dimunculkan kembali dalam pameran ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar motif yang dipamerkan merupakan pengembangan dari batik Kudus era 1940-an hingga 1990-an. Motif lama tidak dihadirkan sebagai bentuk nostalgia semata, tetapi diterjemahkan ulang agar tetap relevan dengan masyarakat hari ini.
“Tradisi tidak bisa hidup kalau hanya disimpan. Ia harus dipakai, disentuh, dan dikenakan kembali. Karena itu kami mencoba menghadirkan warna dan bentuk yang lebih lentur supaya batik Kudus bisa masuk ke kehidupan sehari-hari generasi sekarang,” kata Yusak.
Dalam pameran tersebut, pengunjung dapat melihat bagaimana motif-motif khas Kudus kembali dimunculkan dengan pendekatan baru. Buketan bunga seruni tampil lebih segar, merak panjang tanpa sayap tetap dipertahankan sebagai ciri khas, sementara warna-warna sogan tanahan berpadu dengan warna tribusono kelir khas Kedungpaso percampuran hijau, ungu, dan biru yang dulu populer di lingkungan batik Kudus pesisir.
Bagi Yusak, warna-warna itu bukan sekadar pilihan estetika, melainkan penanda perjalanan sosial masyarakat Kudus.
“Batik Kudus sejak awal memang terbuka pada pengaruh luar karena tumbuh di wilayah perdagangan. Maka warna-warnanya juga berani. Tapi di situ justru menariknya, karena meskipun berubah, akar tradisinya masih bisa dikenali,” tuturnya.
Selain pameran kain, kegiatan ini juga menghadirkan walking tour Kampung Batik Kedungpaso sebagai upaya mengenalkan kembali jejak sejarah batik Kudus langsung dari lingkungan tempat tradisi itu tumbuh. Peserta diajak melihat kampung batik, mendengar cerita para pengrajin, hingga memahami bagaimana batik menjadi bagian dari denyut sosial masyarakat Kudus sejak masa lalu.
Yusak percaya, langkah-langkah kecil seperti ini penting dilakukan agar generasi muda tidak kehilangan hubungan dengan tradisi mereka sendiri.
“Kadang orang mengenal batik hanya sebagai pakaian resmi. Padahal di balik itu ada sejarah keluarga, kampung, bahkan cara hidup masyarakat. Lewat kegiatan seperti ini kami ingin mengajak orang kembali dekat dengan batik, bukan hanya membeli, tetapi juga memahami ceritanya,” katanya.
Di tengah arus mode yang terus berubah cepat, Nyandhang Tradisi seolah mengingatkan bahwa batik bukan sekadar kain yang selesai setelah dikenakan. Ia adalah ruang ingatan yang terus hidup selama masih ada tangan yang membatik, tubuh yang mengenakan, dan orang-orang yang bersedia menceritakannya kembali.
Sejarah batik Kudus ternyata juga menyimpan lapisan cerita yang jauh lebih kompleks: tentang buruh perempuan, kemunduran industri, hingga perubahan besar masyarakat Kudus pada awal abad ke-20.
Sisi lain itulah yang coba dibaca kembali oleh Nova David, arsiparis Komunitas Cerita Kudus Tuwa (CKT), melalui sejumlah dokumen kolonial yang merekam kondisi industri batik Kudus pada akhir dekade 1920-an.
Nova membuka salinan laporan tua berjudul Batikrapport, deel II Midden Java karya P. de Kat Angelino. Laporan yang disusun pemerintah kolonial Hindia Belanda itu menjadi salah satu catatan penting mengenai kondisi industri batik di wilayah Jawa Tengah, termasuk Kudus yang saat itu dikenal sebagai kota batik pesisir.
“Dokumen kolonial ini memperlihatkan sisi lain yang jarang dibicarakan: bagaimana industri batik juga dibangun di atas relasi kerja yang keras dan perubahan sosial yang besar,” ujar Nova.
Menurutnya, pada awal abad ke-20 Kudus merupakan salah satu pusat industri batik penting di pesisir utara Jawa. Industri ini banyak dikuasai pengusaha Tionghoa dengan jaringan perdagangan yang luas. Dalam laporan tersebut tercatat sekitar 26 perusahaan batik milik pengusaha Tionghoa dan 13 perusahaan milik pribumi.
Kegiatan produksi tersebar di sejumlah kampung seperti Demakan, Demangan, Barongan, hingga Panjunan. Mayoritas perusahaan masih mengandalkan batik tulis, sementara batik cap ketika itu belum berkembang pesat di Kudus.
Namun yang menarik perhatian Nova bukan hanya angka-angka industri itu, melainkan kisah para pekerja di baliknya.
“Sebagian besar pembatik ternyata bukan orang Kudus asli. Banyak buruh datang dari Rembang, Pekalongan, Demak, bahkan wilayah Vorstenlanden. Mereka datang karena Kudus waktu itu dianggap menjanjikan pekerjaan,” katanya.
Di dalam laporan kolonial itu pula ditemukan catatan mengenai kehidupan para buruh perempuan atau pengobeng yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar. Banyak di antara mereka tinggal di lingkungan pabrik dan terikat sistem uang muka yang membuat mereka sulit keluar dari pekerjaan.
“Ada praktik pengawasan ketat bahkan kekerasan di beberapa tempat. Ini menunjukkan bahwa sejarah batik tidak selalu romantis. Ada tubuh-tubuh perempuan yang bekerja sangat keras di balik keindahan kain yang sekarang kita kagumi,” ujar Nova.
Baginya, arsip kolonial penting dibaca bukan untuk meruntuhkan kebanggaan terhadap batik Kudus, melainkan untuk memahami sejarahnya secara lebih utuh.
“Kalau kita hanya melihat hasil akhirnya, kita mudah terjebak nostalgia. Padahal di balik satu kain batik ada sejarah sosial, ekonomi, bahkan relasi kuasa yang panjang,” katanya.
Nova menjelaskan bahwa memasuki akhir 1920-an, industri batik Kudus mulai mengalami tekanan besar. Persaingan dengan Pekalongan dan Lasem semakin kuat, terutama setelah batik cap berkembang sebagai metode produksi yang lebih cepat dan murah. Sementara banyak pengusaha Kudus justru mulai meninggalkan batik dan beralih ke industri kretek yang sedang tumbuh pesat.
“Asap kretek mulai menggantikan aroma malam batik. Itu sebenarnya simbol perubahan ekonomi Kudus waktu itu,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Selain faktor industri, perubahan selera pasar juga mempercepat kemunduran batik Kudus. Motif-motif Kudus yang cenderung mempertahankan pola lama dianggap kalah bersaing dengan desain yang lebih modern dan variatif dari daerah lain.
Meski begitu, Nova melihat masa tersebut bukan sekadar periode kemunduran, melainkan fase transisi penting dalam sejarah Kudus.
“Di saat industri batik mulai melemah, masyarakat Kudus juga sedang berubah. Ada pendidikan modern, organisasi-organisasi baru, rencana elektrifikasi kota, dan tumbuhnya ekonomi kretek. Jadi kota ini sebenarnya sedang bergerak menuju zaman baru,” jelasnya.
Baginya, membaca arsip kolonial sama pentingnya dengan merawat kain batik itu sendiri. Sebab keduanya sama-sama menyimpan ingatan. Di tengah perubahan zaman, tradisi itu akan tetap hidup selama masih ada orang-orang yang menjaga, mengenakan, dan menceritakannya kembali. (Imam Khanafi/E01)
