BerandaKulinary
Rabu, 26 Mei 2026 14:05

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

Aneka pangan lokal Nusantara seperti sagu, sorgum, dan umbi-umbian yang dulu menjadi makanan utama leluhur kini kembali dilirik sebagai alternatif pangan masa depan. (Chatgpt AI)

Leluhur Nusantara sebenarnya hidup dengan beragam pangan lokal seperti sagu, sorgum, singkong, dan umbi-umbian, namun budaya makan modern membuat masyarakat Indonesia semakin bergantung pada nasi di tengah ancaman krisis pangan dan perubahan iklim.

Inibaru.id - Di banyak rumah di Indonesia, ada satu kalimat yang begitu akrab terdengar: “Belum makan kalau belum makan nasi.” Kalimat itu seolah menjadi standar bahwa rasa kenyang harus selalu identik dengan sepiring nasi putih. Padahal, jika menengok sejarah Nusantara lebih jauh, leluhur kita sebenarnya tidak selalu bergantung pada beras.

Sebelum Revolusi Hijau mengubah wajah pertanian Indonesia pada era Orde Baru, masyarakat di berbagai daerah hidup dengan pangan lokal yang beragam. Orang Papua dan Maluku terbiasa mengonsumsi sagu. Masyarakat di wilayah kering seperti Flores menanam sorgum. Sementara di Jawa dan Sunda, umbi-umbian seperti singkong, talas, hingga ubi menjadi bagian penting dalam makanan sehari-hari.

Dengan kata lain, nenek moyang Nusantara bukan “pecandu nasi”. Mereka hidup berdampingan dengan alam dan menyesuaikan jenis pangan berdasarkan kondisi geografis wilayah masing-masing.

Namun, pola makan itu perlahan berubah. Revolusi Hijau yang mulai dijalankan pemerintah sejak akhir 1960-an mendorong produksi padi besar-besaran demi mencapai swasembada pangan. Sejak saat itu, nasi semakin ditempatkan sebagai makanan pokok utama masyarakat Indonesia.

Akibatnya, beras kini menjadi pusat konsumsi nasional. Ketika produksi terganggu akibat cuaca ekstrem atau gagal panen, Indonesia ikut terdampak besar.

Seperti dilansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirangkum oleh GoodStats, Indonesia mengimpor sekitar 4,52 juta ton beras sepanjang 2024. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 3,06 juta ton. Thailand menjadi pemasok terbesar, disusul Vietnam, Myanmar, Pakistan, dan India.

Ironisnya, di tengah ketergantungan tinggi terhadap beras, banyak pangan lokal justru dianggap sebagai makanan “kampung” atau simbol keterbelakangan. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan pangan tradisional Nusantara memiliki nilai gizi yang baik sekaligus lebih ramah lingkungan.

Mengutip penelitian dalam Jurnal Teknologi dan Industri Pangan IPB, sagu memiliki indeks glikemik sekitar 40–48, lebih rendah dibanding nasi putih yang bisa mencapai 70–89. Artinya, sagu dicerna tubuh lebih lambat sehingga membantu menjaga kestabilan gula darah dan membuat rasa kenyang bertahan lebih lama.

Tak cuma itu, ubi ungu juga diketahui mengandung antosianin, senyawa antioksidan yang bermanfaat membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan dan menurunkan risiko penyakit degeneratif. Sementara sorgum dikenal sebagai tanaman yang tahan terhadap kekeringan dan tetap bisa tumbuh di lahan minim air.

Dalam konteks perubahan iklim, pangan seperti sorgum dan singkong bahkan mulai dilirik sebagai alternatif masa depan. Seperti yang ditulis di laporan prosiding PITNAS Widyaiswara 2024, kedua tanaman tersebut relatif tahan terhadap cuaca ekstrem dan membutuhkan air lebih sedikit dibanding padi.

Diversifikasi Pangan Bukan Gagasan Baru

Diversifikasi pangan sebenarnya bukan gagasan baru. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan juga telah lama mendorong masyarakat untuk tidak bergantung pada satu jenis makanan pokok saja. Namun dalam praktiknya, budaya konsumsi nasi masih sangat dominan.

Fenomena itu juga banyak dibahas warganet di media sosial dan forum internet. Dalam salah satu diskusi di Reddit, sejumlah pengguna menyoroti bagaimana masyarakat Indonesia sering merasa belum makan meski sudah menyantap mi, kentang, atau makanan lain tanpa nasi. Ada pula yang mengaitkannya dengan warisan kebijakan Revolusi Hijau yang terlalu berfokus pada padi.

Padahal, leluhur Nusantara sudah memberi contoh bahwa ketahanan pangan tidak harus bergantung pada satu komoditas. Mereka hidup dengan keberagaman pangan yang disesuaikan dengan alam sekitar.

Mungkin yang perlu kita lakukan hari ini bukan sekadar “kembali ke masa lalu”, melainkan belajar lagi membaca tanah seperti para leluhur: memahami bahwa sagu, sorgum, singkong, jagung, dan umbi-umbian bukan makanan kelas dua, melainkan bagian penting dari masa depan pangan Indonesia. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Tari Lengger Banyumas: Warisan Budaya Penuh Makna yang Tetap Menari Melintasi Zaman

11 Agu 2026

AI Factory Terbesar di Asia Tenggara Bakal Dibangun di Indonesia, Kapasitas Capai 1 GW

12 Agu 2026

Pelajar SD-SMP di Yogyakarta Bakal Wajib Berbahasa Jawa Krama Inggil Sehari dalam Sepekan

13 Agu 2026

Temuan Situs Bongal Geser Linimasa Masuknya Islam ke Nusantara hingga Tujuh Abad

14 Agu 2026

HUT ke-81 RI, KAI Beri Diskon Tiket 17 Persen

14 Agu 2026

Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Masuk Kelompok Ini?

15 Agu 2026

Rerie Dorong Situs Patiayam Terus Dijaga sebagai Warisan Peradaban

16 Agu 2026

Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang Sampah

17 Agu 2026

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik, Pemerintah Siapkan Skema Baru

18 Agu 2026

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

19 Agu 2026

Negara Pertama yang Mengakui Indonesia Merdeka

20 Agu 2026

Sinewara, Bioskop BUMN Besutan PFN Siap Meluncur 2027

21 Agu 2026

Garuda Indonesia Uji Internet Cepat di Udara, Video Call dari Ketinggian 30 Ribu Kaki

22 Agu 2026

Mulai 1 Oktober, Semua Merchant Bisa Nikmati Transaksi QRIS Bebas Biaya

24 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: