BerandaTradisinesia
Rabu, 2 Jun 2026 10:38

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

Ornamen naga dalam budaya Jawa kerap ditemukan di bangunan sakral sebagai simbol pelindung, kesuburan, dan penjaga keseimbangan alam. (Chatgpt AI)

Dalam budaya Jawa, naga bukan sekadar makhluk mitologi, melainkan simbol kekuatan, kesuburan, pelindung, dan penjaga keseimbangan alam yang jejaknya masih terlihat pada candi, gerbang, hingga berbagai ornamen tradisional Nusantara.

Inibaru.id - Kalau mendengar kata naga, sebagian orang mungkin langsung membayangkan makhluk raksasa dalam cerita fantasi atau film-film Tiongkok. Namun bagi masyarakat Jawa, naga bukan sekadar makhluk mitologi. Sosok ini punya makna filosofis yang sangat dalam dan telah hidup dalam budaya Nusantara sejak ratusan tahun lalu.

Dalam tradisi Jawa, naga sering dipandang sebagai simbol kekuatan, pelindung, sekaligus penjaga keseimbangan alam. Karena itu, ornamen naga kerap ditemukan di berbagai bangunan sakral seperti candi, gerbang, tangga, hingga pintu masuk kawasan suci.

Bentuk naga Jawa pun cukup berbeda dibanding naga Asia Timur. Naga Jawa biasanya digambarkan menyerupai ular raksasa dengan tubuh panjang melingkar, terkadang memakai mahkota atau hiasan emas di kepalanya. Sosok ini sudah dikenal sejak masa kerajaan Hindu-Buddha, terutama era Majapahit.

Dilansir dari National Geographic Indonesia, naga dalam budaya Jawa banyak dikaitkan dengan sosok Sang Hyang Antaboga atau Anantaboga, dewa naga dalam mitologi Jawa dan Bali. Antaboga dipercaya sebagai penyangga bumi sekaligus penguasa dunia bawah.

Dalam kosmologi Jawa kuno, dunia dipercaya terbagi menjadi dua kekuatan besar: dunia atas dan dunia bawah. Dunia atas identik dengan cahaya, langit, matahari, serta burung garuda. Sementara dunia bawah dilambangkan dengan air, tanah, dan naga.

Karena berkaitan dengan air dan bumi, naga juga dianggap sebagai simbol kesuburan. Kepercayaan itu muncul karena air menjadi sumber utama kehidupan dan pertanian masyarakat agraris Jawa. Tak heran jika naga sering diasosiasikan dengan keberkahan dan kemakmuran.

Mengutip dari detikNews, pakar budaya Jawa dari Universitas Indonesia, Darmoko, menjelaskan bahwa Antaboga dipercaya sebagai penguasa Saptapratala atau lapisan bumi ketujuh dalam mitologi Jawa.

Sosok naga juga muncul dalam banyak kisah kuno Nusantara. Salah satu yang terkenal adalah kisah Garudeya, cerita pertarungan dan hubungan antara Garuda dan naga dalam pewayangan. Selain itu ada pula kisah Samudramanthana atau pengadukan lautan dalam mitologi Hindu yang turut memunculkan simbol naga sebagai kekuatan kosmis.

Pengaruh naga dalam budaya Jawa bahkan masih bertahan hingga sekarang. Ornamen naga masih banyak ditemukan pada ukiran keris, gamelan, relief candi, hingga dekorasi bangunan tradisional Jawa dan Bali.

Menariknya, simbol naga di Nusantara tidak selalu dimaknai sebagai sosok jahat seperti dalam banyak cerita Barat. Dalam budaya Jawa, naga justru lebih sering dipandang sebagai penjaga dan pelindung.

Itulah sebabnya, masyarakat Jawa kuno kerap menempatkan ornamen naga di area gerbang atau pintu masuk bangunan suci. Simbol itu dipercaya menjadi penjaga kawasan sakral sekaligus penyeimbang antara dunia manusia dan alam gaib.

Di tengah modernisasi, kisah tentang naga Jawa mungkin terdengar seperti legenda lama. Namun di balik cerita mitologinya, tersimpan filosofi tentang hubungan manusia dengan alam, keseimbangan hidup, dan penghormatan terhadap kekuatan semesta yang sejak dulu dijaga masyarakat Nusantara. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Pemerintah Siapkan 39 Bandara Baru, Total Bandar Udara di Indonesia Bakal Jadi 296

4 Jul 2026

Belajar Langsung dari Mbah Atemo, Belasan Anak Muda Lestarikan Mainan Tradisional Berbahan Kertas Bekas

6 Jul 2026

Mengenal Bunga Edelweiss Jawa, Si "Bunga Abadi" yang Justru Terancam Punah

6 Jul 2026

Dikira Bahasa Gaul, "Anjir" Justru Kosakata Lama Nelayan Pantura

7 Jul 2026

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan, Ini Dasar Pertimbangannya

10 Jul 2026

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

13 Jul 2026

Indonesia dan India Berkolaborasi Konservasi Candi Prambanan, Perkuat Pariwisata Budaya Kelas Dunia

14 Jul 2026

Warisan Sejarah Indonesia Kembali, Dua Arca Buddha Kuno Dipulangkan dari AS

14 Jul 2026

4 Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Makanan Berbahan Tepung Tapioka Terbaik 2026 Versi Taste Atlas

15 Jul 2026

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: