BerandaInspirasi Indonesia
Selasa, 6 Jul 2026 09:33

Belajar Langsung dari Mbah Atemo, Belasan Anak Muda Lestarikan Mainan Tradisional Berbahan Kertas Bekas

Peserta belajar langsung membuat mainan tradisional berbahan kertas bekas bersama Mbah Atemo dalam lokakarya Dolan Mbah Atemo di Kalurahan Panggungharjo, Bantul, Minggu (5/7/2026). (Dok. Istimewa)

Sebanyak 15 generasi muda mengikuti Dolan Mbah Atemo, lokakarya selama dua hari di Bantul untuk belajar langsung membuat dan melestarikan mainan tradisional anak bersama maestro Mbah Atemo.

Inibaru.id - Di tengah gempuran gim digital dan berbagai hiburan modern, masih ada sekelompok anak muda yang memilih menghabiskan akhir pekannya dengan melipat, menggunting, dan merakit mainan tradisional dari kertas bekas. Mereka belajar langsung dari Mbah Atemo, seorang maestro sekaligus pelestari mainan tradisional anak yang telah puluhan tahun menjaga warisan budaya tersebut.

Sebanyak 15 peserta mengikuti Dolan Mbah Atemo: Lokakarya Bersama Maestro Mainan Tradisional Anak yang digelar pada 4–5 Juli 2026 di Kalurahan Panggungharjo, Kabupaten Bantul. Selama dua hari, peserta tidak hanya diajak mengenal sejarah permainan tradisional, tetapi juga mempraktikkan langsung cara membuatnya sebagai bagian dari upaya melestarikan Objek Pemajuan Kebudayaan.

Mbah Atemo dikenal sebagai perajin mainan tradisional berbahan sederhana, terutama kertas bekas. Di tangannya, bahan yang sering dianggap limbah itu dapat disulap menjadi berbagai mainan yang dahulu akrab menemani masa kecil anak-anak Indonesia.

Lokakarya diawali dengan sesi diskusi bersama Mbah Atemo yang didampingi putranya, Tugiman. Dalam suasana santai dan interaktif, peserta mendengarkan kisah perjalanan Mbah Atemo menekuni pembuatan mainan tradisional, proses pewarisan pengetahuan kepada keluarga, hingga tantangan menjaga eksistensi permainan tradisional di era digital.

Berbagai pertanyaan pun mengalir dari peserta. Mulai dari sejarah lahirnya sejumlah mainan tradisional, filosofi di balik bentuk dan warnanya, hingga bagaimana cara mengenalkan kembali permainan tersebut kepada anak-anak masa kini.

Memasuki sesi workshop, peserta diajak membuat berbagai jenis mainan tradisional, seperti kitiran, payung, wayang, dan manukan. Seluruh proses dilakukan menggunakan bahan sederhana, terutama kertas bekas, sehingga selain belajar keterampilan membuat mainan, peserta juga memahami pentingnya memanfaatkan kembali barang yang masih memiliki nilai guna.

Di bawah pendampingan langsung Mbah Atemo, mereka mempelajari setiap tahapan dengan teliti, mulai dari membuat pola, merakit bagian demi bagian, hingga menghasilkan mainan yang benar-benar dapat dimainkan.

Sebagai penutup, seluruh peserta menyusun karya tulis bertema Mbah Atemo dan Mainan Tradisional Anak. Tulisan tersebut menjadi ruang refleksi atas pengalaman selama mengikuti lokakarya sekaligus media untuk mendokumentasikan pengetahuan mengenai warisan budaya yang mereka pelajari.

Kegiatan ini turut dihadiri Ernawati Purwaningsih dari Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia mengapresiasi penyelenggaraan lokakarya yang menempatkan maestro sebagai sumber utama pewarisan pengetahuan budaya.

Menurutnya, model pembelajaran semacam ini memberi kesempatan kepada generasi muda untuk tidak hanya mengenal budaya secara teoritis, tetapi juga mempraktikkan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun.

Mbah Atemo berfoto bersama peserta Dolan Mbah Atemo usai lokakarya pelestarian mainan tradisional anak di Kalurahan Panggungharjo, Bantul. (Dok. Istimewa)

Ketua kegiatan, Septian Adira, mengatakan lokakarya tersebut memang dirancang sebagai ruang belajar lintas generasi. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memahami sejarah, filosofi, hingga fungsi sosial mainan tradisional sekaligus merasakan langsung proses kreatif pembuatannya.

"Melalui lokakarya ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai sejarah, filosofi, dan fungsi sosial mainan tradisional, tetapi juga diajak untuk terlibat langsung dalam proses pembuatannya, khususnya yang berbahan kertas bekas," ujarnya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Salah satunya Dita Vitria asal Bantul yang mengaku baru pertama kali belajar membuat mainan tradisional secara langsung.

"Saya baru tahu ternyata membuat mainan tradisional tidak semudah yang dibayangkan. Prosesnya membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan ketelatenan agar hasilnya bisa dimainkan dengan baik," katanya.

Hal serupa dirasakan Pradipta Anindya, peserta asal Magelang. Baginya, lokakarya tersebut membangkitkan kembali kenangan masa kecil ketika permainan tradisional masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

"Selain mengingatkan pada masa kecil, kegiatan ini juga mengajarkan bahwa barang-barang bekas di sekitar kita masih dapat dimanfaatkan menjadi mainan yang menarik. Ini menjadi cara yang kreatif untuk melestarikan budaya sekaligus mengurangi limbah," ungkapnya.

Melalui Dolan Mbah Atemo, penyelenggara berharap semakin banyak generasi muda yang mengenal, mempraktikkan, dan meneruskan tradisi pembuatan mainan tradisional anak. Sebab, di balik setiap kitiran yang berputar atau wayang kertas yang dimainkan, tersimpan nilai kreativitas, gotong royong, serta kearifan lokal yang patut terus diwariskan kepada generasi mendatang. (Ning/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Jejak Yerusalem dalam Nama Kudus hingga Dijuluki Yerusalem van Java

21 Sep 2026

Prabowo Ungkap Rencana Bikin Bensin dari Batu Bara, Ini Tantangannya

22 Sep 2026

BDx Bangun Pusat Data AI 640 MW di Jatiluhur

23 Sep 2026

Dari Kuliner Perantauan hingga Jadi Identitas Daerah, Ini Fakta Menarik Mi Ayam Wonogiri

24 Sep 2026

SKCK Bakal Bisa Dicetak Sendiri, Tak Perlu Lagi ke Kantor Polisi

25 Sep 2026

670 Penari Bawa Tari Lajur Caping Kalo Kudus Pecahkan Rekor MURI

26 Sep 2026

67 Juta Orang Gunakan QRIS, Apakah Masyarakat Mulai Tinggalkan Uang Tunai?

28 Sep 2026

Dari Gunung hingga Tokoh Wayang, Ini Inspirasi Nama Kereta Api di Indonesia

29 Sep 2026

Antrean Haji Dipangkas, dari 49 Tahun Kini Jadi 14 Tahun

29 Sep 2026

Vaksin Hewan Buatan Indonesia Perdana Diekspor ke Afrika

30 Sep 2026

STNK Digital Resmi Diluncurkan, Dokumen Kendaraan Bisa Diakses dari Ponsel

1 Okt 2026

Terapi TBC Dikembangkan Lebih Singkat untuk Cegah Putus Obat

2 Okt 2026

Kios SIM Hadir, Perpanjang SIM A dan C Bisa Cetak Mandiri

3 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: