Inibaru.id - Ketika pemerintah menetapkan awal Ramadan, Idulfitri, atau Iduladha melalui sidang isbat, sebagian masyarakat Jawa justru terkadang memulai ibadah pada hari yang berbeda. Perbedaan ini bukan tanpa alasan. Mereka masih berpegang pada sistem penanggalan Jawa-Islam yang dikenal sebagai Kalender Aboge.
Meski terdengar kuno, sistem penanggalan ini masih digunakan oleh sejumlah komunitas di Jawa dan diwariskan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Lantas, apa sebenarnya Kalender Aboge dan bagaimana cara kerjanya?
Aboge merupakan singkatan dari "Alif Rebo Wage". Nama tersebut merujuk pada ketentuan bahwa tanggal 1 Suro pada tahun Alif atau tahun pertama dalam siklus kalender jatuh pada hari Rabu Wage.
Kalender Aboge merupakan perpaduan antara tradisi Jawa dengan kalender Islam. Sistem ini menjadi salah satu bentuk akulturasi budaya yang lahir ketika Islam masuk ke Tanah Jawa dan berinteraksi dengan tradisi yang telah lebih dulu berkembang di masyarakat.
Karena memadukan unsur Islam dan budaya lokal, kalender ini juga menjadi bagian dari apa yang dikenal sebagai Islam lokal atau sinkretisme budaya Jawa-Islam.
Menggunakan Siklus Delapan Tahun
Berbeda dengan kalender Hijriah yang menggunakan siklus 30 tahun, Kalender Aboge menggunakan sistem sewindu atau siklus delapan tahun. Delapan tahun tersebut terdiri atas Alip, Ehe, Jimawal, Ze, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir.
Setelah memasuki tahun kedelapan, perhitungan akan kembali ke tahun pertama dan pola yang sama akan terus berulang.
Sistem yang lebih sederhana ini dianggap lebih mudah dipahami masyarakat Jawa pada masa lalu. Karena siklusnya tetap, masyarakat tidak perlu melakukan pengamatan hilal atau perhitungan astronomi untuk menentukan awal tahun dan hari-hari besar keagamaan.
Dalam satu siklus delapan tahun, Kalender Aboge memiliki tiga tahun kabisat, yakni pada tahun Ehe, Dal, dan Jimakir. Pada tahun-tahun tersebut, terdapat tambahan satu hari yang ditempatkan pada bulan terakhir, yakni bulan Besar.
Rata-rata jumlah hari dalam satu tahun kalender Aboge mencapai 354,375 hari. Angka ini sedikit berbeda dengan kalender Hijriah yang rata-rata memiliki 354,367 hari.
Perbedaan yang tampak kecil tersebut ternyata menimbulkan selisih waktu sekitar satu hari setiap 120 tahun. Karena itu, dikenal pula sistem kurup atau siklus 120 tahun yang digunakan untuk menyelaraskan kembali kalender Aboge dengan kalender Hijriah.
Baca Juga:
"Bada Perlon", Iduladha Khas Anak PutuNama-nama bulan dalam Kalender Aboge pada dasarnya mengadopsi kalender Hijriah, tetapi dengan pelafalan khas Jawa. Beberapa di antaranya adalah Suro, Sapar, Mulud, Ba'da Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Apit, dan Besar.
Masyarakat pengguna Kalender Aboge juga menggunakan kombinasi hari dan pasaran Jawa untuk menentukan awal bulan. Karena pola perhitungannya telah baku, mereka dapat mengetahui berbagai hari penting beberapa tahun ke depan tanpa perlu melakukan perhitungan ulang.
Salah satu ciri khas komunitas Islam Aboge adalah tetap menggunakan Kalender Aboge untuk menentukan awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Hal inilah yang menyebabkan waktu pelaksanaan ibadah puasa maupun hari raya terkadang berbeda dengan keputusan pemerintah yang didasarkan pada hasil rukyatul hilal dan sidang isbat.
Meski demikian, perbedaan tersebut merupakan bagian dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dijaga oleh sejumlah komunitas di Jawa hingga saat ini.
Kalender Aboge pun menjadi bukti bahwa perpaduan antara budaya Jawa dan ajaran Islam telah melahirkan sistem penanggalan unik yang tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat yang masih bertahan di tengah perkembangan zaman. (Ike/E01)
