BerandaTradisinesia
Sabtu, 17 Jul 2026 11:31

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

Ilustrasi kalender Jawa-Islam; sebagian masyarakat Jawa masih menggunakan sistem penanggalan Aboge untuk menentukan awal bulan dan hari-hari besar keagamaan. (Chatgpt AI)

Kalender Aboge merupakan sistem penanggalan Jawa-Islam dengan siklus delapan tahun yang masih digunakan sebagian masyarakat Jawa untuk menentukan hari-hari besar keagamaan.

Inibaru.id - Ketika pemerintah menetapkan awal Ramadan, Idulfitri, atau Iduladha melalui sidang isbat, sebagian masyarakat Jawa justru terkadang memulai ibadah pada hari yang berbeda. Perbedaan ini bukan tanpa alasan. Mereka masih berpegang pada sistem penanggalan Jawa-Islam yang dikenal sebagai Kalender Aboge.

Meski terdengar kuno, sistem penanggalan ini masih digunakan oleh sejumlah komunitas di Jawa dan diwariskan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Lantas, apa sebenarnya Kalender Aboge dan bagaimana cara kerjanya?

Aboge merupakan singkatan dari "Alif Rebo Wage". Nama tersebut merujuk pada ketentuan bahwa tanggal 1 Suro pada tahun Alif atau tahun pertama dalam siklus kalender jatuh pada hari Rabu Wage.

Kalender Aboge merupakan perpaduan antara tradisi Jawa dengan kalender Islam. Sistem ini menjadi salah satu bentuk akulturasi budaya yang lahir ketika Islam masuk ke Tanah Jawa dan berinteraksi dengan tradisi yang telah lebih dulu berkembang di masyarakat.

Karena memadukan unsur Islam dan budaya lokal, kalender ini juga menjadi bagian dari apa yang dikenal sebagai Islam lokal atau sinkretisme budaya Jawa-Islam.

Menggunakan Siklus Delapan Tahun

Berbeda dengan kalender Hijriah yang menggunakan siklus 30 tahun, Kalender Aboge menggunakan sistem sewindu atau siklus delapan tahun. Delapan tahun tersebut terdiri atas Alip, Ehe, Jimawal, Ze, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir.

Setelah memasuki tahun kedelapan, perhitungan akan kembali ke tahun pertama dan pola yang sama akan terus berulang.

Sistem yang lebih sederhana ini dianggap lebih mudah dipahami masyarakat Jawa pada masa lalu. Karena siklusnya tetap, masyarakat tidak perlu melakukan pengamatan hilal atau perhitungan astronomi untuk menentukan awal tahun dan hari-hari besar keagamaan.

Dalam satu siklus delapan tahun, Kalender Aboge memiliki tiga tahun kabisat, yakni pada tahun Ehe, Dal, dan Jimakir. Pada tahun-tahun tersebut, terdapat tambahan satu hari yang ditempatkan pada bulan terakhir, yakni bulan Besar.

Rata-rata jumlah hari dalam satu tahun kalender Aboge mencapai 354,375 hari. Angka ini sedikit berbeda dengan kalender Hijriah yang rata-rata memiliki 354,367 hari.

Perbedaan yang tampak kecil tersebut ternyata menimbulkan selisih waktu sekitar satu hari setiap 120 tahun. Karena itu, dikenal pula sistem kurup atau siklus 120 tahun yang digunakan untuk menyelaraskan kembali kalender Aboge dengan kalender Hijriah.

Nama-nama bulan dalam Kalender Aboge pada dasarnya mengadopsi kalender Hijriah, tetapi dengan pelafalan khas Jawa. Beberapa di antaranya adalah Suro, Sapar, Mulud, Ba'da Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Apit, dan Besar.

Masyarakat pengguna Kalender Aboge juga menggunakan kombinasi hari dan pasaran Jawa untuk menentukan awal bulan. Karena pola perhitungannya telah baku, mereka dapat mengetahui berbagai hari penting beberapa tahun ke depan tanpa perlu melakukan perhitungan ulang.

Salah satu ciri khas komunitas Islam Aboge adalah tetap menggunakan Kalender Aboge untuk menentukan awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Hal inilah yang menyebabkan waktu pelaksanaan ibadah puasa maupun hari raya terkadang berbeda dengan keputusan pemerintah yang didasarkan pada hasil rukyatul hilal dan sidang isbat.

Meski demikian, perbedaan tersebut merupakan bagian dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dijaga oleh sejumlah komunitas di Jawa hingga saat ini.

Kalender Aboge pun menjadi bukti bahwa perpaduan antara budaya Jawa dan ajaran Islam telah melahirkan sistem penanggalan unik yang tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat yang masih bertahan di tengah perkembangan zaman. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Tabung CNG 3 Kg Segera Diuji, Diklaim Lebih Aman dari LPG

3 Jul 2026

Pemerintah Siapkan 39 Bandara Baru, Total Bandar Udara di Indonesia Bakal Jadi 296

4 Jul 2026

Belajar Langsung dari Mbah Atemo, Belasan Anak Muda Lestarikan Mainan Tradisional Berbahan Kertas Bekas

6 Jul 2026

Mengenal Bunga Edelweiss Jawa, Si "Bunga Abadi" yang Justru Terancam Punah

6 Jul 2026

Dikira Bahasa Gaul, "Anjir" Justru Kosakata Lama Nelayan Pantura

7 Jul 2026

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan, Ini Dasar Pertimbangannya

10 Jul 2026

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

13 Jul 2026

Indonesia dan India Berkolaborasi Konservasi Candi Prambanan, Perkuat Pariwisata Budaya Kelas Dunia

14 Jul 2026

Warisan Sejarah Indonesia Kembali, Dua Arca Buddha Kuno Dipulangkan dari AS

14 Jul 2026

4 Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Makanan Berbahan Tepung Tapioka Terbaik 2026 Versi Taste Atlas

15 Jul 2026

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: