BerandaHits
Selasa, 6 Jul 2026 15:43

Mengenal Bunga Edelweiss Jawa, Si "Bunga Abadi" yang Justru Terancam Punah

Hamparan bunga Edelweiss Jawa tumbuh di kawasan pegunungan sebagai tanaman endemik yang dilindungi karena populasinya terus menurun akibat pemetikan liar dan perubahan habitat. (Bibit Online)

Dijuluki sebagai Bunga Abadi karena mampu bertahan hingga bertahun-tahun, Edelweiss Jawa justru semakin terancam punah akibat pemetikan liar sehingga kini menjadi tanaman yang dilindungi pemerintah.

Inibaru.id - Bagi para pendaki gunung, hamparan bunga edelweiss sering menjadi pemandangan yang paling dinantikan saat mencapai kawasan puncak. Bunga berwarna putih keperakan ini memang memiliki pesona tersendiri hingga dijuluki sebagai Bunga Abadi.

Namun, di balik julukan tersebut tersimpan ironi. Sebutan "abadi" justru membuat banyak orang tergoda memetiknya sebagai kenang-kenangan. Akibatnya, populasi Edelweiss Jawa kini terus mengalami penurunan dan keberadaannya semakin terancam.

Edelweiss Jawa memiliki nama ilmiah Anaphalis javanica. Tanaman ini merupakan spesies endemik Indonesia yang tumbuh di kawasan pegunungan dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.

Bunga ini pertama kali didokumentasikan di lereng Gunung Gede, Jawa Barat, oleh ilmuwan asal Jerman, Caspar Georg Carl Reinwardt. Penelitian lebih lanjut kemudian dilakukan oleh Carl Heinrich Schultz pada 1819.

Nama edelweiss sendiri berasal dari bahasa Jerman, yaitu edel yang berarti mulia dan weiss yang berarti putih.

Meski umumnya hanya tumbuh setinggi sekitar satu meter, dalam kondisi tertentu tanaman ini dapat mencapai tinggi hingga delapan meter dengan batang berukuran besar.

Habitat alaminya berada di kawasan pegunungan vulkanik terbuka, seperti Alun-alun Surya Kencana di Gunung Gede, Tegal Alun Gunung Papandayan, Alun-alun Mandalawangi Gunung Pangrango, hingga Plawangan Sembalun di Gunung Rinjani.

Julukan Bunga Abadi bukan muncul karena bunga ini hanya mekar sekali dalam puluhan tahun, melainkan karena kemampuannya mempertahankan bentuk bunganya dalam waktu sangat lama.

Hal itu terjadi berkat kandungan hormon etilen yang membantu memperlambat proses kerontokan kelopak bunga. Bahkan, bunga edelweiss dapat bertahan hingga sekitar 10 tahun, bahkan lebih lama pada kondisi tertentu.

Meski demikian, anggapan bahwa Edelweiss hanya mekar setiap 10 tahun sebenarnya merupakan mitos. Secara ilmiah, tanaman ini dapat berbunga hampir sepanjang tahun, meski pertumbuhannya memang sangat lambat sehingga hamparan bunga lebat membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terbentuk.

Mitos yang Berujung Ancaman Kepunahan

Di kalangan pendaki, Edelweiss kerap dianggap sebagai simbol cinta abadi. Tak sedikit orang yang memetiknya untuk dijadikan suvenir atau diberikan kepada pasangan dengan harapan hubungan mereka akan langgeng.

Padahal, kebiasaan tersebut menjadi salah satu penyebab utama menurunnya populasi Edelweiss di alam liar.

Selain pemetikan ilegal, perubahan iklim serta pemanfaatan yang berlebihan juga menjadi ancaman bagi kelestarian tanaman ini. Bahkan, di beberapa jalur pendakian seperti Gunung Semeru, Edelweiss dilaporkan semakin sulit ditemukan.

Karena populasinya terus menurun, Edelweiss Jawa telah ditetapkan sebagai tumbuhan yang dilindungi pemerintah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/2018.

Sebelumnya, perlindungan terhadap habitat tanaman ini juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Artinya, memetik Edelweiss di kawasan konservasi bukan hanya merusak alam, tetapi juga dapat dikenai sanksi sesuai peraturan yang berlaku.

Meski menghadapi berbagai ancaman, upaya pelestarian terus dilakukan. Salah satunya melalui budidaya Edelweiss oleh Kelompok Tani Hulun Hyang di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Desa yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru itu kini dikenal sebagai Desa Wisata Edelweiss. Warga Suku Tengger memperoleh izin resmi untuk membudidayakan Edelweiss sebagai bagian dari pelestarian sekaligus memenuhi kebutuhan bunga untuk ritual adat tanpa harus mengambilnya dari alam.

Melalui budidaya tersebut, wisatawan juga dapat membeli bunga Edelweiss hasil penangkaran secara legal, sehingga tidak lagi terdorong memetik bunga yang tumbuh di habitat alaminya.

Pada akhirnya, Edelweiss mengajarkan bahwa keabadian bukan berarti tidak bisa punah. Justru bunga ini hanya akan benar-benar "abadi" jika manusia bersedia menjaga dan melestarikannya, bukan membawanya pulang sebagai kenang-kenangan. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Kemenkeu Ambil Alih 60% Saham KCIC untuk Restrukturisasi Utang Whoosh

6 Agu 2026

CoreWeave Investasi Miliaran Dolar AS, Bangun Tiga Pusat Data AI Pertama di Indonesia

7 Agu 2026

Wayang Beber, Wayang Tertua di Nusantara yang Masih Bertahan hingga Kini

8 Agu 2026

Desa Giyombong Pernah Jadi Ibu Kota Jawa Tengah pada 1948, Ini Kisahnya

10 Agu 2026

Tari Lengger Banyumas: Warisan Budaya Penuh Makna yang Tetap Menari Melintasi Zaman

11 Agu 2026

AI Factory Terbesar di Asia Tenggara Bakal Dibangun di Indonesia, Kapasitas Capai 1 GW

12 Agu 2026

Pelajar SD-SMP di Yogyakarta Bakal Wajib Berbahasa Jawa Krama Inggil Sehari dalam Sepekan

13 Agu 2026

Temuan Situs Bongal Geser Linimasa Masuknya Islam ke Nusantara hingga Tujuh Abad

14 Agu 2026

HUT ke-81 RI, KAI Beri Diskon Tiket 17 Persen

14 Agu 2026

Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Masuk Kelompok Ini?

15 Agu 2026

Rerie Dorong Situs Patiayam Terus Dijaga sebagai Warisan Peradaban

16 Agu 2026

Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang Sampah

17 Agu 2026

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik, Pemerintah Siapkan Skema Baru

18 Agu 2026

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

19 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: