BerandaInspirasi Indonesia
Rabu, 30 Jun 2026 12:11

Perusahaan Kereta Asal Swiss Lirik Indonesia sebagai Basis Produksi untuk Pasar Asia

Ilustrasi, fasilitas produksi kereta api PT Stadler INKA Indonesia di Banyuwangi menjadi bagian dari strategi Stadler Rail Management AG untuk mengembangkan manufaktur dan memperluas pasar perkeretaapian di kawasan Asia. (Chatgpt AI)

Perusahaan kereta api asal Swiss, Stadler Rail Management AG, menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis sekaligus kandidat basis produksi untuk memperkuat ekspansi bisnisnya di pasar Asia.

Inibaru.id - Indonesia kembali menjadi sorotan perusahaan global. Kali ini, perusahaan manufaktur kereta api asal Swiss, Stadler Rail Management AG (Stadler), menyatakan Indonesia memiliki peran strategis dalam rencana ekspansi bisnisnya di kawasan Asia.

Perusahaan yang membukukan pendapatan sebesar 3,7 miliar Franc Swiss atau sekitar Rp81,79 triliun itu menilai Indonesia memiliki potensi besar, baik dari sisi jumlah penduduk maupun arah pembangunan infrastruktur transportasi yang terus berkembang.

Area Marketing & Sales Director New Markets Stadler Rail Management AG, Stefan Rutishauser, mengatakan pihaknya melihat peluang kerja sama yang lebih erat dengan Indonesia.

"Selain populasi penduduk Indonesia yang besar, politik program pengembangan infrastruktur kereta api di Indonesia, mendorong kami berdiskusi lebih dalam," ujar Stefan saat berbincang dengan jurnalis Grup Media KOMPAS di kantor Stadler, Bussnang, Swiss, Rabu (24/6/2026).

Bagi Stadler, Indonesia bukanlah mitra baru. Sejak 2019, perusahaan tersebut telah menjalin kerja sama dengan PT Industri Kereta Api (INKA) melalui perusahaan patungan bernama PT Stadler INKA Indonesia.

Melalui kolaborasi tersebut, keduanya membangun fasilitas produksi kereta di Banyuwangi sebagai langkah memperkuat industri perkeretaapian nasional sekaligus menjadi pintu masuk ke pasar Asia.

Tak hanya membangun pabrik, Stadler dan INKA juga berkolaborasi mengembangkan sumber daya manusia melalui Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi).

Kampus vokasi tersebut menerapkan sistem pembelajaran dengan komposisi sekitar 60 persen praktik dan 40 persen teori. Kurikulumnya dirancang sesuai kebutuhan industri perkeretaapian modern sehingga lulusannya siap bekerja di sektor manufaktur berteknologi tinggi.

Model pendidikan serupa juga telah diterapkan Stadler di sejumlah negara lain, seperti Kazakhstan, Polandia, dan Amerika Serikat.

Indonesia Dipilih Jadi Basis Produksi

Stefan menegaskan Stadler tidak ingin hanya menjual produk jadi dari Eropa ke Asia. Menurutnya, strategi tersebut bukan model bisnis yang berkelanjutan.

"Itu bukan model bisnis yang berkelanjutan," tegas Stefan.

Karena itu, Stadler memilih membangun basis produksi di kawasan Asia, dan Indonesia menjadi salah satu negara yang dinilai paling potensial.

Strategi ini berbeda dengan banyak perusahaan asing yang hanya memasarkan produknya di Indonesia. Stadler justru membangun fasilitas manufaktur di dalam negeri sehingga proses produksi dapat dilakukan secara lokal sekaligus membuka peluang transfer teknologi dan peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia.

Sebelumnya, Chairman of the Board of Directors Stadler saat itu, Peter Spuhler, juga menyampaikan optimisme terhadap kerja sama tersebut.

"Lokasi produksi baru di Indonesia memperkuat masuknya Stadler ke pasar Asia dan menciptakan kondisi terbaik untuk mencapai pertumbuhan di kawasan ini," ujar Peter dalam siaran pers perusahaan pada 20 September 2019.

Ekspansi Stadler didukung oleh kinerja bisnis yang positif. Sepanjang 2025, pendapatan perusahaan tercatat tumbuh sekitar 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba bersih perusahaan hampir dua kali lipat hingga mencapai 100,7 juta Franc Swiss atau sekitar Rp2,23 triliun.

Dengan strategi membangun manufaktur lokal dan pengembangan sumber daya manusia, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pusat produksi kereta api Stadler untuk memenuhi kebutuhan pasar Asia di masa mendatang. (Ning/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Purbaya Dicopot, Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru

15 Sep 2026

25.000 Tahun Lalu, Manusia Purba Sulawesi Redakan Sakit Gigi dengan Pinang

16 Sep 2026

Film Empat Musim Pertiwi Jadi Wakil Indonesia di Oscar 2027

17 Sep 2026

Giuseppe Garibaldi, Kapal Induk Pertama Indonesia Tiba di Tanjung Priok

18 Sep 2026

Gatot, Jajanan Gunungkidul yang Konon Berasal dari Gaplek “Gagal Total”

19 Sep 2026

Jejak Yerusalem dalam Nama Kudus hingga Dijuluki Yerusalem van Java

21 Sep 2026

Prabowo Ungkap Rencana Bikin Bensin dari Batu Bara, Ini Tantangannya

22 Sep 2026

BDx Bangun Pusat Data AI 640 MW di Jatiluhur

23 Sep 2026

Dari Kuliner Perantauan hingga Jadi Identitas Daerah, Ini Fakta Menarik Mi Ayam Wonogiri

24 Sep 2026

SKCK Bakal Bisa Dicetak Sendiri, Tak Perlu Lagi ke Kantor Polisi

25 Sep 2026

670 Penari Bawa Tari Lajur Caping Kalo Kudus Pecahkan Rekor MURI

26 Sep 2026

67 Juta Orang Gunakan QRIS, Apakah Masyarakat Mulai Tinggalkan Uang Tunai?

28 Sep 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: