BerandaInspirasi Indonesia
Selasa, 3 Agu 2026 12:13

Sejarah Marga Kolopaking, Trah Bangsawan Kebumen yang Berasal dari Kisah Kelapa Aking

Ilustrasi seorang tumenggung Jawa pada era Mataram Islam yang menggambarkan cikal bakal lahirnya trah Kolopaking. (Chatgpt)

Marga Kolopaking merupakan trah bangsawan asal Kebumen yang berakar dari Kerajaan Mataram Islam dan memiliki peran penting dalam sejarah Jawa serta perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Inibaru.id - Nama Kolopaking mungkin sudah tidak asing bagi sebagian masyarakat Indonesia. Selain dikenal lewat aktris senior Novia Kolopaking, nama tersebut juga melekat pada sejumlah tokoh penting hingga sebuah hotel di Kebumen, Jawa Tengah, yakni Grand Kolopaking.

Namun, di balik nama itu tersimpan sejarah panjang yang berakar pada masa Kerajaan Mataram Islam. Kolopaking bukan sekadar nama keluarga, melainkan gelar yang kemudian berkembang menjadi trah bangsawan yang berpengaruh di wilayah Kebumen selama berabad-abad.

Asal-usul nama Kolopaking berkaitan dengan kisah pelarian Raja Mataram Islam, Amangkurat I, saat terjadi Pemberontakan Trunojoyo pada akhir abad ke-17.

Dalam pelariannya, Amangkurat I yang sedang sakit singgah di kediaman Kiai Bagus Kertawangsa di wilayah Panjer, yang kini menjadi Kabupaten Kebumen. Menurut kisah yang berkembang, Kertawangsa bermaksud menyuguhkan air kelapa muda. Namun karena kondisi malam yang gelap dan hujan, ia justru mengambil kelapa tua atau kelapa aking.

Di luar dugaan, setelah meminum air kelapa tersebut, kondisi Amangkurat I berangsur pulih. Sebagai bentuk penghargaan atas pertolongan itu, sang raja menganugerahkan gelar Tumenggung Kelapa Aking kepada Kiai Bagus Kertawangsa sebagai penguasa wilayah Panjer.

Seiring berjalannya waktu, penyebutan "Kelapa Aking" berubah menjadi Kolopaking, yang kemudian diwariskan secara turun-temurun kepada keturunannya.

Keturunan Kiai Bagus Kertawangsa kemudian menjadi salah satu keluarga paling berpengaruh di Kebumen.

Secara turun-temurun, jabatan Tumenggung hingga Adipati Kebumen diwariskan kepada keluarga Kolopaking, mulai dari Kolopaking I hingga Kolopaking IV. Dalam rentang sekitar 156 tahun, trah ini memimpin wilayah Kebumen dan memiliki pengaruh besar terhadap pemerintahan lokal.

Tak heran jika nama Kolopaking hingga kini masih identik dengan sejarah Kebumen.

Selain dikenal sebagai keluarga bangsawan, trah Kolopaking juga memiliki rekam jejak dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Salah satu tokohnya, Tumenggung Kolopaking IV, diketahui memberikan dukungan kepada perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830). Keberpihakan tersebut membuat keluarga Kolopaking menjadi sasaran pemerintah kolonial setelah perang berakhir.

Belanda kemudian mencabut kekuasaan keluarga Kolopaking di Kebumen. Berbagai simbol yang berkaitan dengan Kolopaking juga berusaha dihilangkan dari pemerintahan. Meski demikian, semangat perjuangan keluarga ini tidak ikut padam.

Salah satu keturunan Kolopaking yang dikenal luas adalah Soemitro Kolopaking.

Ia pernah menempuh pendidikan di Belanda dan menjadi salah satu pendiri Perhimpunan Indonesia, organisasi yang berperan penting dalam membangun semangat kebangsaan di kalangan pelajar Indonesia di luar negeri.

Sekembalinya ke Hindia Belanda, Soemitro sempat bekerja di berbagai bidang sebelum menjadi perwira polisi. Dalam kariernya, ia dikenal berhasil mengungkap kasus kriminal yang melibatkan sosok legendaris bernama Patra Kutang, yang kerap dijuluki sebagai "Robin Hood" dari Jawa.

Perjalanan hidup Soemitro menunjukkan bahwa keluarga Kolopaking tidak hanya berpengaruh dalam pemerintahan tradisional, tetapi juga turut berkontribusi pada perkembangan bangsa di masa modern.

Jejak sejarah keluarga Kolopaking juga dapat ditemukan di kompleks makam keluarga yang berada di Desa Kalijirek, Kabupaten Kebumen.

Kompleks makam tersebut berada di area yang lebih tinggi dan dapat dicapai dengan menaiki sekitar sebelas anak tangga. Di dalamnya terdapat makam para tokoh keluarga Kolopaking, termasuk Tumenggung Kolopaking I dan penerusnya.

Beberapa nisan juga memperlihatkan perpaduan aksara Arab dan Jawa, menjadi penanda kuat perpaduan budaya dan tradisi pada masa itu. Hingga kini, kompleks makam tersebut masih terawat dengan baik dan dijaga oleh seorang juru kunci.

Meski kekuasaan politik keluarga Kolopaking telah berakhir sejak masa kolonial, nama mereka masih hidup hingga sekarang.

Selain dikenang melalui berbagai tokoh nasional, nama Kolopaking juga diabadikan dalam berbagai tempat di Kebumen, termasuk Grand Kolopaking Hotel. Keberadaan trah ini menjadi bukti bahwa sejarah daerah menyimpan banyak kisah penting yang ikut membentuk perjalanan bangsa Indonesia.

Dari kisah sederhana tentang kelapa aking, lahirlah sebuah nama yang kemudian menjadi simbol kepemimpinan, perjuangan, dan warisan sejarah di tanah Jawa. (Ning/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Asal-usul Warmindo, Warung Mi Instan yang Berawal dari Burjo

31 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: