BerandaInspirasi Indonesia
Minggu, 8 Agu 2026 11:53

Wayang Beber, Wayang Tertua di Nusantara yang Masih Bertahan hingga Kini

Ilustrasi, seorang dalang membentangkan gulungan Wayang Beber saat menceritakan kisah Panji, tradisi pertunjukan yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad. (Chatgpt)

Wayang Beber merupakan kesenian wayang tertua di Nusantara yang berkembang sejak era Majapahit dan masih dilestarikan di Pacitan serta Gunungkidul.

Inibaru.id – Jika berbicara tentang wayang, sebagian besar orang mungkin langsung teringat pada wayang kulit. Padahal, jauh sebelum wayang kulit berkembang, Nusantara telah memiliki Wayang Beber yang diyakini sebagai jenis wayang tertua.

Kesenian tradisional ini telah ada sejak berabad-abad lalu dan hingga kini masih dilestarikan, terutama di Pacitan, Jawa Timur, serta Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keunikannya tak hanya terletak pada bentuk pertunjukannya, tetapi juga pada sejarah panjang yang mengiringi perkembangannya.

Sejarah Wayang Beber dipercaya bermula dari tradisi menceritakan kisah melalui relief-relief candi di Nusantara. Tradisi tersebut dikenal sebagai Wayang Watu, yang memanfaatkan gambar pada relief sebagai media penyampaian cerita sekaligus sarana penyebaran ajaran agama.

Pada masa Kerajaan Jenggala, Wayang Beber mulai berkembang. Memasuki era Kerajaan Pajajaran, media pertunjukannya mengalami perubahan. Cerita wayang mulai digambar di atas kertas yang terbuat dari kulit kayu daluang.

Kemudian pada masa Kerajaan Majapahit, gulungan gambar tersebut diberi tongkat kayu di kedua ujungnya agar mudah dibentangkan saat pertunjukan. Dari cara penyajiannya inilah muncul nama Wayang Beber, yang berasal dari kata beber atau membentangkan.

Cerita yang dibawakan pun beragam, mulai dari kisah Mahabharata, Ramayana, hingga cerita-cerita yang terinspirasi dari relief candi.

Wayang Beber mencapai masa kejayaannya pada masa Kerajaan Majapahit. Kesenian ini semakin berkembang, baik dari segi teknik pementasan maupun visual.

Pada 1378 M, Raja Brawijaya V disebut memerintahkan putranya, Raden Sungging Prabangkara, untuk menyempurnakan tampilan Wayang Beber. Jika sebelumnya hanya menggunakan warna hitam dan putih, sejak saat itu wayang mulai dihiasi dengan berbagai warna.

Ketika Islam mulai berkembang di Jawa melalui Kesultanan Demak, bentuk tokoh Wayang Beber juga mengalami penyesuaian. Karakter wayang tidak lagi menggambarkan sosok manusia secara realistis, melainkan dibuat lebih stilistis sebagaimana yang kemudian dikenal dalam berbagai jenis wayang di Jawa.

Salah satu kisah yang paling populer mengenai perkembangan Wayang Beber berasal dari Pacitan.

Konon, putri Prabu Brawijaya pernah mengalami sakit yang tak kunjung sembuh. Sang raja kemudian mengadakan sayembara bagi siapa saja yang mampu menyembuhkan putrinya.

Seorang abdi dalem bernama Ki Nolodermo berhasil memenuhi tantangan tersebut. Sebagai bentuk penghargaan, Prabu Brawijaya menghadiahkan seperangkat Wayang Beber kepadanya.

Sejak saat itulah Wayang Beber berkembang di Pacitan dan diwariskan secara turun-temurun kepada keturunan Ki Nolodermo.

Wayang Beber tertua hingga kini masih tersimpan di Desa Karangtalun, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan. Selain di Pacitan, tradisi Wayang Beber juga masih lestari di Desa Gelaran, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.

Berbeda dari Wayang Kulit

Wayang Beber memiliki banyak perbedaan dibandingkan wayang kulit yang lebih populer saat ini.

Alih-alih menggunakan boneka kulit yang digerakkan dalang, Wayang Beber menggunakan lembaran gambar panjang yang digulung. Saat pementasan berlangsung, gulungan tersebut dibentangkan sedikit demi sedikit sambil dalang menceritakan setiap adegan yang tergambar di dalamnya.

Satu pertunjukan biasanya melibatkan lima orang, yakni seorang dalang dan empat penabuh gamelan yang memainkan gong, kenong, rebab, serta kendang.

Dalang Wayang Beber juga tidak sembarang orang. Secara tradisional, hanya keturunan Ki Nolodermo atau mereka yang mendapat amanah khusus yang diperbolehkan menjadi dalang maupun penabuh gamelan.

Wayang Beber Pacitan umumnya mengangkat kisah Panji, terutama cerita pertemuan Dewi Sekartaji dengan Jaka Kembang Kuning.

Satu set Wayang Beber terdiri atas enam gulungan. Masing-masing gulungan memuat empat jagong atau adegan, sehingga keseluruhan terdapat 24 adegan.

Menariknya, adegan terakhir atau jagong ke-24 hampir tidak pernah dipertunjukkan. Menurut tradisi, gambar tersebut dianggap terlalu sakral atau memuat adegan yang tidak pantas dipertontonkan kepada khalayak.

Selain itu, berbeda dengan wayang kulit yang kerap dipentaskan semalam suntuk, pertunjukan Wayang Beber biasanya hanya berlangsung sekitar satu setengah jam.

Di tengah modernisasi, Wayang Beber terus beradaptasi. Muncul berbagai pertunjukan Wayang Beber kontemporer yang mengangkat isu-isu kehidupan masyarakat masa kini.

Tak hanya mengisahkan cerita klasik, Wayang Beber modern juga digunakan sebagai media kritik sosial, pendidikan, hingga penyampaian pesan mengenai politik, pembangunan, ekonomi, dan budaya.

Meski bentuk penyajiannya terus berkembang, Wayang Beber tetap menjadi salah satu warisan budaya yang menunjukkan betapa kayanya tradisi bercerita masyarakat Nusantara sejak ratusan tahun silam. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Hipdut, Perpaduan Hip-Hop dan Dangdut yang Dekat dengan Gen Z

8 Sep 2026

20 Kisah Perjuangan Bakal Diangkat Kemenbud ke Layar Lebar

9 Sep 2026

Jalan Pantura, Jalur Bersejarah yang Menjadi Urat Nadi Pulau Jawa

10 Sep 2026

Masuk Usia 17 Tahun, Warga Bakal Punya Rekening Berisi Rp50 Ribu

11 Sep 2026

First Look Film Animasi Timun Mas Dirilis, Bawa Dongeng Jawa ke Animasi Modern

12 Sep 2026

Mengulik Asal-usul Nama Pekalongan, dari Joko Bau hingga Naskah Sunda Kuno

14 Sep 2026

Purbaya Dicopot, Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru

15 Sep 2026

25.000 Tahun Lalu, Manusia Purba Sulawesi Redakan Sakit Gigi dengan Pinang

16 Sep 2026

Film Empat Musim Pertiwi Jadi Wakil Indonesia di Oscar 2027

17 Sep 2026

Giuseppe Garibaldi, Kapal Induk Pertama Indonesia Tiba di Tanjung Priok

18 Sep 2026

Gatot, Jajanan Gunungkidul yang Konon Berasal dari Gaplek “Gagal Total”

19 Sep 2026

Jejak Yerusalem dalam Nama Kudus hingga Dijuluki Yerusalem van Java

21 Sep 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: