BerandaTradisinesia
Minggu, 1 Agu 2026 11:04

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

Ilustrasi, tak sekadar olahraga tradisional, Jemparingan menjadi salah satu warisan budaya Jawa yang mengajarkan nilai fokus, ketenangan, dan pengendalian diri. (Chatgpt)

Jemparingan merupakan seni panahan tradisional khas Mataram yang telah diwariskan sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Lebih dari sekadar olahraga, tradisi yang masih lestari di Yogyakarta ini mengajarkan filosofi hidup tentang fokus, semangat, percaya diri, dan tanggung jawab melalui setiap tarikan busur dan anak panah.

Inibaru.id – Yogyakarta dikenal sebagai daerah yang kaya akan warisan budaya. Selain keraton, batik, hingga berbagai upacara adat yang masih lestari, ada satu tradisi unik yang hingga kini terus dijaga keberadaannya, yakni Jemparingan. Sekilas, tradisi ini memang tampak seperti olahraga panahan biasa. Namun, di balik setiap anak panah yang dilepaskan, tersimpan filosofi hidup yang telah diwariskan sejak masa Kerajaan Mataram.

Berbeda dengan olahraga panahan modern yang dilakukan sambil berdiri dan mengandalkan ketepatan bidikan mata, Jemparingan memiliki aturan yang khas. Para pemanah duduk bersila dengan posisi menyamping, mengenakan pakaian adat Jawa, lalu melepaskan anak panah dengan mengandalkan ketenangan batin dan rasa.

Jemparingan atau panahan gaya Mataram telah dikenal sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I pada abad ke-18, pendiri Kesultanan Yogyakarta. Pada masa itu, memanah bukan sekadar latihan ketangkasan, tetapi juga menjadi sarana membentuk karakter kesatria.

Awalnya, keterampilan ini dipraktikkan di lingkungan Keraton Yogyakarta sebelum kemudian diajarkan kepada para prajurit. Tujuannya bukan hanya mencetak pemanah yang andal, melainkan juga membangun pribadi yang memiliki pengendalian diri, disiplin, dan tanggung jawab.

Empat nilai utama yang diajarkan melalui Jemparingan dikenal dengan istilah sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh.

  1. Sawiji, yaitu berkonsentrasi penuh terhadap tujuan.
  2. Greget, berarti memiliki semangat dan antusiasme.
  3. Sengguh, yaitu percaya pada kemampuan diri tanpa bersikap sombong.
  4. Ora mingkuh, berarti berani bertanggung jawab dan tidak mudah menyerah.

Keempat nilai tersebut hingga kini masih menjadi pedoman hidup masyarakat Yogyakarta sekaligus ruh dari tradisi Jemparingan.

Keunikan terbesar Jemparingan terletak pada teknik memanahnya. Jika panahan modern mengandalkan mata untuk membidik sasaran, dalam Jemparingan gaya Mataram busur atau gandewa diposisikan mendatar di depan perut sehingga pemanah tidak mengincar sasaran secara langsung.

Sebaliknya, anak panah dilepaskan berdasarkan rasa, konsentrasi, dan ketenangan batin. Karena itu, Jemparingan sering disebut sebagai latihan mengendalikan diri.

Filosofi tersebut dirangkum dalam ungkapan Jawa "Pamenthanging Gandewa, Pamanthenging Cipta", yang bermakna bahwa semakin kuat busur direntangkan, semakin kuat pula konsentrasi dan tekad seseorang terhadap tujuan yang ingin dicapai.

Makna itu juga menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan, tetapi juga oleh fokus, kesabaran, dan kejernihan pikiran.

Peralatan Jemparingan yang Sarat Makna

Nama Jemparingan sendiri berasal dari kata jemparing, yang berarti anak panah. Sementara busurnya disebut gandewa, sedangkan sasarannya berupa silinder kecil yang dikenal sebagai bandulan atau wong-wongan.

Jemparing terdiri atas beberapa bagian, yaitu:

  1. Deder, batang anak panah yang terbuat dari bambu.
  2. Bedor, mata panah dari besi.
  3. Wulu, bulu unggas di bagian belakang panah yang berfungsi menjaga kestabilan arah.
  4. Nyenyep, bagian pangkal yang dikaitkan pada tali busur.

Sementara itu, gandewa terdiri atas cengkolak sebagai pegangan, lar atau bilah busur yang terbuat dari bambu lentur, serta kendheng, yakni tali busur.

Adapun sasaran berupa bandulan memiliki tiga bagian utama. Bagian paling atas berwarna merah disebut molo atau kepala, bagian tengah berwarna putih disebut awak atau badan, sedangkan bagian leher diberi warna kuning. Di bawah bandulan terdapat bola kecil sebagai penanda penalti apabila terkena anak panah. Sebuah lonceng kecil dipasang di atas sasaran yang akan berbunyi ketika anak panah mengenai bandulan.

Menariknya, setiap gandewa dan jemparing dibuat secara khusus sesuai postur tubuh pemanah. Karena itu, perlengkapan Jemparingan umumnya bersifat pribadi dan tidak digunakan bergantian.

Seiring perkembangan zaman, teknik Jemparingan mengalami beberapa penyesuaian. Sejumlah komunitas kini menggunakan posisi busur yang lebih tegak sehingga sasaran dapat dibidik menggunakan mata. Meski demikian, nilai-nilai filosofis yang menjadi dasar Jemparingan tetap dipertahankan.

Di lingkungan Keraton Yogyakarta, tradisi ini masih rutin dilaksanakan setiap Selasa sore di Plataran Kamandungan Kidul, yang berada di sebelah utara Alun-Alun Selatan. Kegiatan tersebut juga diikuti berbagai komunitas pecinta Jemparingan yang terus berupaya mengenalkan olahraga tradisional ini kepada generasi muda.

Bagi para pelakunya, Jemparingan bukan semata tentang memperoleh nilai tertinggi atau mengenai sasaran. Setiap tarikan busur adalah latihan mengendalikan ego, membangun kesabaran, dan mengarahkan seluruh perhatian pada tujuan.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi, filosofi Jemparingan justru terasa semakin relevan. Tradisi ini mengajarkan bahwa untuk mencapai tujuan, seseorang tidak hanya membutuhkan keterampilan, tetapi juga ketenangan hati, fokus, dan keteguhan dalam menjalani setiap proses. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: