BerandaHits
Selasa, 22 Jun 2026 16:45

Melihat yang Luput: Dari Kudus, Festival Film Anak Bangsa Menyalakan Ruang Bagi Cerita-Cerita Kecil

Diskusi dengan juri sore sebelum malam anugrah di Balai Budaya Rejosari, Kudus, Jumat (20/6/2026). (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Festival Film Anak Bangsa (FFAB) 2026 menegaskan perannya sebagai ruang belajar, apresiasi, dan kolaborasi bagi sineas muda melalui kompetisi, pemutaran film, serta diskusi yang mendorong lahirnya karya-karya autentik dari pengalaman sehari-hari dan lebih dekat dengan masyarakat.

Inibaru.id – Festival Film Anak Bangsa (FFAB) 2026, Jumat (20/6) resmi menutup seluruh rangkaian acaranya melalui Malam Awarding yang berlangsung di Balai Budaya Rejosari, Kudus. Mengangkat tema Scene The Unseen, festival ini kembali hadir sebagai ruang bagi generasi muda untuk belajar, berkarya, dan memperluas pengalaman dalam dunia perfilman. Bukan sekadar kompetisi, FFAB mencoba membangun ruang yang lebih luas, tempat film dipandang bukan hanya sebagai karya visual, tetapi juga sebagai medium untuk membaca kehidupan.

Antusiasme peserta tahun ini menunjukkan geliat yang semakin tumbuh. Sebanyak 92 film mengikuti proses pendaftaran. Dari jumlah tersebut, hanya 30 film yang berhasil lolos tahap kurasi dan berhak mengikuti keseluruhan rangkaian festival. Sementara itu, dari puluhan karya tersebut, hanya 15 film yang kemudian masuk dalam nominasi sembilan kategori penghargaan yang diperebutkan pada malam puncak.

Namun angka-angka itu hanya bagian kecil dari cerita yang sesungguhnya. Di baliknya terdapat proses panjang: ide-ide yang lahir dari ruang sempit, pengambilan gambar dengan peralatan seadanya, diskusi larut malam, revisi naskah yang berulang, hingga keberanian untuk mengirimkan karya dan memperlihatkannya kepada publik. Festival semacam ini selalu menyimpan cerita yang lebih besar daripada daftar pemenang.

FFAB tahun ini juga tidak berhenti pada ruang kompetisi. Penyelenggara mencoba memperluas jangkauan festival melalui program screening dan diskusi film di enam titik yang tersebar di Kudus, Jepara, dan Pati. Langkah ini menghadirkan film lebih dekat kepada masyarakat. Festival seolah ingin menegaskan bahwa karya tidak seharusnya hanya hidup di ruang tertutup atau di hadapan kalangan tertentu saja.

Peserta diskusi dengan juri sore sebelum malam anugrah di Balai Budaya Rejosari, Kudus, Jumat (20/6/2026). (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk datang langsung ke lokasi festival. Karena itu, seluruh film hasil kurasi turut ditayangkan secara gratis melalui platform Sinea.id. Upaya tersebut membuka akses yang lebih luas, memungkinkan karya para sineas muda ditonton oleh masyarakat dari berbagai daerah. Film tidak lagi berhenti sebagai peristiwa yang berlangsung selama beberapa hari, melainkan menjadi percakapan yang bisa terus hidup.

Pada malam puncak penghargaan, tiga nama duduk sebagai Dewan Juri: Wahyu Agung Prasetyo, Faradina Mufti, dan Cornel Innos. Mereka menilai karya berdasarkan berbagai aspek, mulai dari kualitas artistik, kekuatan gagasan, kemampuan bertutur, aspek teknis, hingga kesesuaian dengan tema Scene The Unseen. Tema tersebut mendorong peserta untuk menghadirkan cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama hal-hal yang sering luput dari perhatian.

Satu per satu penghargaan diumumkan. Kategori Penata Skoring Terbaik diraih Vidyasa Duta Rudini melalui film Tutup Hari Kiamat. Penghargaan Penata Artistik Terbaik diberikan kepada Rudini lewat film Kotak Amal. Sementara kategori Editor Terbaik diraih Charles E melalui film The Grass and Not Very Grassy Kinda Thing It Does.

Foto bersama saat malam anugrah di Balai Budaya Rejosari, Kudus, Jumat (20/6/2026). (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Pada kategori pemeranan, Putri Ramadhani meraih penghargaan Pemeran Pendukung Terbaik atas perannya sebagai Dinda dalam Will Today Be A Happy Day. Firman Marpaung berhasil membawa pulang penghargaan Aktor Terbaik melalui perannya sebagai Harun dalam film Harun. Sedangkan Gendhis Maharani dinobatkan sebagai Aktris Terbaik melalui penampilannya sebagai Mira dalam Will Today Be A Happy Day.

Film Will Today Be A Happy Day tampaknya menjadi salah satu karya yang paling mencuri perhatian malam itu. Sutradaranya, M. Kanz Daffa, berhasil meraih penghargaan Sutradara Terbaik. Tidak berhenti di sana, film tersebut juga dinobatkan sebagai Film Terbaik Festival Film Anak Bangsa 2026.

Sementara itu, Dewan Juri juga memberikan Penghargaan Khusus kepada film Kotak Amal karya Muhammad Jaya dan Heri Meiga. Penghargaan tersebut seolah menegaskan bahwa festival bukan hanya soal siapa yang menjadi juara utama, tetapi juga tentang keberanian gagasan dan cara pandang yang berbeda.

Di tengah perayaan itu, Wahyu Agung Prasetyo menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan film-film peserta tahun ini. Menurutnya, kualitas karya menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Ia melihat semakin banyak sineas muda yang mulai berani mengeksplorasi bahasa visual dan cara bertutur yang lebih beragam.

Namun, ia juga menyoroti satu hal yang menurutnya masih menjadi tantangan: keberanian untuk bercerita dari pengalaman yang dekat dengan diri sendiri.

Peserta diskusi dengan juri sore sebelum malam anugrah di Balai Budaya Rejosari, Kudus, Jumat (20/6/2026). (Inibaru.id/Imam Khanafi)

“Tantangan terbesar justru bagaimana menemukan ide yang dekat dengan diri sendiri. Saya melihat banyak karya yang berangkat dari isu yang terlalu jauh dari pengalaman mereka. Padahal banyak cerita sederhana di sekitar kita yang justru memiliki kekuatan dan relevansi yang besar untuk diangkat menjadi film,” jelas Wahyu.

Pernyataan tersebut terasa seperti pengingat kecil di tengah derasnya arus media sosial dan banjir referensi visual hari ini. Di tengah kemudahan mengakses berbagai cerita dari seluruh dunia, terkadang yang paling dekat justru terlewatkan. Padahal, kisah tentang keluarga, lingkungan sekitar, jalan-jalan kecil, atau percakapan sehari-hari sering kali menyimpan kekuatan yang jauh lebih jujur.

Faradina Mufti juga menekankan pentingnya proses pengamatan dalam membangun karakter. “Pendalaman karakter bisa dimulai dengan mengamati lingkungan sekitar. Cara orang berbicara, bersikap, hingga kebiasaan kecil di sekitar kita sering kali menjadi referensi paling jujur,” katanya.

Sementara Cornel Innos melihat festival sebagai ruang yang melampaui kompetisi. Baginya, yang lebih penting dari penghargaan adalah pertemuan antarorang yang memiliki semangat yang sama.

“Festival bukan hanya tentang mencari pemenang. Yang lebih penting adalah bagaimana ruang seperti FFAB mampu mempertemukan para sineas untuk saling belajar, berdiskusi, dan membangun kolaborasi,” tambah Cornel Innos.

Foto bersama sore sebelum malam anugrah di Balai Budaya Rejosari, Kudus, Jumat (20/6/2026). (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Barangkali itulah yang membuat festival seperti FFAB tetap penting. Di tengah industri kreatif yang bergerak cepat dan kompetitif, ruang semacam ini memberi kesempatan bagi orang-orang untuk saling bertemu dan tumbuh bersama.

Ketika malam penghargaan berakhir, para peserta mulai meninggalkan ruangan. Sebagian pulang sambil membawa piala, sebagian lainnya membawa pengalaman, pertemanan baru, atau mungkin ide untuk karya berikutnya. Karena pada akhirnya, film tidak hanya tentang siapa yang menang malam itu.

Film adalah tentang cara manusia menyimpan kenyataan. Tentang usaha merekam sesuatu yang sering kali luput terlihat. Dan dari Kudus, melalui Festival Film Anak Bangsa 2026, cerita-cerita kecil itu kembali menemukan ruang untuk didengar. (Imam Khanafi/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Sejarah Marga Kolopaking, Trah Bangsawan Kebumen yang Berasal dari Kisah Kelapa Aking

3 Agu 2026

Berkolaborasi dengan China, Lampung Siap Luncurkan Satelit Lampung-1

4 Agu 2026

Naik Lima Kali Lipat, Biaya Lepas Status WNI Resmi Naik Jadi Rp5 Juta, Ini Alasannya

5 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: