BerandaTradisinesia
Senin, 28 Jun 2026 23:41

Barikan Sitinggil, Cara Warga Kriyan Merawat Jejak Ratu Kalinyamat Lewat Doa dan Kebersamaan

Lokasi Sitinggil di Desa Kriyan, Kalinyamatan, yang dipercaya sebagai bekas area calon Keraton Ratu Kalinyamat dan kini menjadi tempat digelarnya tradisi Barikan Sitinggil. (Suarabaru/Khanif)

Warga Desa Kriyan, Jepara, kembali menggelar tradisi Barikan Sitinggil untuk melestarikan jejak sejarah Ratu Kalinyamat sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat.

Inibaru.id - Puluhan warga Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara kembali menggelar tradisi Barikan Sitinggil pada Jumat (26/6/2026). Tradisi yang diisi dengan istigasah, doa bersama, hingga makan bersama ini menjadi wujud syukur sekaligus upaya masyarakat untuk merawat jejak sejarah yang diyakini berkaitan dengan Ratu Kalinyamat.

Kegiatan berlangsung di kawasan Sitinggil yang berada di belakang tembok SMP Islam Sultan Agung 3 Kalinyamatan. Lokasi tersebut berupa lahan terbuka dengan gundukan tanah menyerupai bukit yang ditumbuhi sejumlah pohon.

Mengutip dari Indoraya News, Barikan diawali dengan istigasah dan doa bersama. Setelah itu, warga menikmati hidangan yang dibawa masing-masing sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Sementara itu, Betanews melaporkan bahwa kawasan Sitinggil memiliki bentang alam yang khas. Selain gundukan tanah yang cukup tinggi, di sisi area tersebut terdapat rumpun bambu dan sebuah pohon aren berukuran besar yang masih berdiri hingga sekarang.

Inisiator Barikan Sitinggil, Ahmad Ahfas, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi sarana berdoa bersama, tetapi juga bertujuan mengenalkan sejarah lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Mengutip dari Indoraya News, Ahfas menyebut Barikan Sitinggil baru diselenggarakan sebanyak tiga kali. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda rutin yang melibatkan lebih banyak warga Desa Kriyan.

"Tujuannya ini supaya masyarakat bisa tahu, ini lo sejarah Sitinggil, nguri-nguri, serta doa bersama untuk memohon keberkahan," ujar Ahmad Ahfas.

Menurutnya, pelestarian sejarah tidak cukup hanya melalui cerita, tetapi juga perlu diwujudkan dalam tradisi yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Keraton Ratu Kalinyamat

Usai doa bersama dan sambutan panitia serta kepala desa, warga mendapat penjelasan mengenai sejarah Sitinggil dari sesepuh Desa Kriyan, Muhtadi Moroteruno.

Muhtadi menjelaskan bahwa Sitinggil dipercaya sebagai lokasi yang semula akan dibangun menjadi Keraton Ratu Kalinyamat.

"Sitinggil itu, siti itu lemah (tanah), inggil itu duwur (tinggi), jadi Sitinggil itu lemah duwur. Sitinggil ini suatu tempat yang mau dibuat Keraton Ratu Kalinyamat," jelas Muhtadi, dilansir dari Betanews.

Menurut penuturannya, sebelum keraton dibangun, kawasan tersebut lebih dahulu dibuatkan tembok atau pagar oleh Ratu Kalinyamat. Namun, pembangunan tidak pernah selesai setelah Sultan Hadlirin gugur dibunuh oleh Arya Penangsang.

Muhtadi menjelaskan, setelah peristiwa tersebut, Ratu Kalinyamat melakukan tapa di Sendang Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, yang dikenal masyarakat dengan istilah Topo Wudo Sinjang Rikma.

"Karena mendapat musibah, pembangunan keraton ini tidak dilanjutkan, tapi tembok atau pagarnya ini sudah dibangun," ujar Muhtadi.

Ia juga menyebut bekas tembok tersebut diyakini membentang hingga wilayah yang kini menjadi Balai Desa Robayan. Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan Kuto Bedah, yang berarti tembok yang pembangunannya tidak pernah selesai.

"Tembok itu sama masyarakat disebut kuto bedah. Kuto itu tembok, bedah itu enggak jadi. Karena pembangunannya memang tidak dilanjut," tutur Muhtadi.

Mengutip dari Indoraya News, selain menjadi ajang silaturahmi, Barikan Sitinggil juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan kembali kisah-kisah sejarah yang berkaitan dengan Ratu Kalinyamat kepada masyarakat.

Ahfas berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan agar nilai-nilai sejarah dan budaya lokal tidak hilang di tengah perkembangan zaman. Dengan melibatkan warga secara langsung, Barikan Sitinggil diharapkan menjadi ruang bersama untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah Kalinyamatan sekaligus mempererat kebersamaan antargenerasi. (Ning/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Asal-usul Nama Pekalongan, dari Joko Bau hingga Naskah Sunda Kuno

14 Sep 2026

Purbaya Dicopot, Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru

15 Sep 2026

25.000 Tahun Lalu, Manusia Purba Sulawesi Redakan Sakit Gigi dengan Pinang

16 Sep 2026

Film Empat Musim Pertiwi Jadi Wakil Indonesia di Oscar 2027

17 Sep 2026

Giuseppe Garibaldi, Kapal Induk Pertama Indonesia Tiba di Tanjung Priok

18 Sep 2026

Gatot, Jajanan Gunungkidul yang Konon Berasal dari Gaplek “Gagal Total”

19 Sep 2026

Jejak Yerusalem dalam Nama Kudus hingga Dijuluki Yerusalem van Java

21 Sep 2026

Prabowo Ungkap Rencana Bikin Bensin dari Batu Bara, Ini Tantangannya

22 Sep 2026

BDx Bangun Pusat Data AI 640 MW di Jatiluhur

23 Sep 2026

Dari Kuliner Perantauan hingga Jadi Identitas Daerah, Ini Fakta Menarik Mi Ayam Wonogiri

24 Sep 2026

SKCK Bakal Bisa Dicetak Sendiri, Tak Perlu Lagi ke Kantor Polisi

25 Sep 2026

670 Penari Bawa Tari Lajur Caping Kalo Kudus Pecahkan Rekor MURI

26 Sep 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: