BerandaInspirasi Indonesia
Jumat, 30 Jul 2026 11:50

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

Ilustrasi tentara Afrika Barat yang pernah direkrut pemerintah Hindia Belanda dan dikenal masyarakat Jawa dengan sebutan Londo Ireng. (Chatgpt)

Londo Ireng adalah sebutan bagi tentara asal Afrika Barat yang direkrut Hindia Belanda setelah Perang Diponegoro dan meninggalkan jejak sejarah di Jawa hingga kini.

Inibaru.id - Bagi sebagian masyarakat Jawa, istilah Londo Ireng mungkin masih terdengar familiar. Namun, tak sedikit yang mengira sebutan itu hanyalah ungkapan atau mitos belaka. Padahal, Londo Ireng benar-benar pernah menjadi bagian dari sejarah Indonesia.

Istilah ini merujuk pada tentara asal Afrika Barat yang direkrut oleh pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-19 untuk memperkuat pasukan kolonial di Nusantara. Kisah mereka menjadi salah satu potongan sejarah yang jarang dibahas, tetapi meninggalkan jejak yang masih bisa ditemukan hingga sekarang.

Lahirnya Londo Ireng tak lepas dari dampak besar Perang Diponegoro yang berlangsung pada 1825–1830. Perang yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro itu menjadi salah satu konflik terbesar yang pernah dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa.

Selain menguras biaya yang sangat besar, perang tersebut juga menewaskan ribuan tentara Belanda dan pasukan pribumi yang berpihak kepada pemerintah kolonial. Akibatnya, Hindia Belanda mengalami kekurangan personel militer.

Untuk menutup kekosongan itu, pemerintah Belanda kemudian mencari sumber rekrutmen baru dari wilayah koloninya di Afrika Barat.

Merekrut Tentara dari Afrika Barat

Mulai tahun 1831, pemerintah Hindia Belanda merekrut ratusan hingga ribuan pemuda dari kawasan yang saat ini meliputi Ghana, Burkina Faso, dan Pantai Gading. Sebagian besar direkrut melalui benteng Belanda di Elmina, yang saat itu merupakan pusat perdagangan dan administrasi kolonial Belanda di Afrika Barat.

Para tentara ini dianggap memiliki kemampuan bertahan hidup yang baik di wilayah beriklim tropis sehingga dinilai cocok ditempatkan di Hindia Belanda.

Dalam bahasa Belanda, mereka dikenal sebagai Zwart Hollanders atau "Belanda Hitam". Sementara masyarakat Jawa menyebut mereka Londo Ireng, yang secara harfiah berarti "Belanda Hitam" atau "Orang Belanda Berkulit Hitam".

Sesampainya di Hindia Belanda, para Londo Ireng menjadi bagian dari pasukan kolonial dan ditempatkan di berbagai garnisun militer.

Mereka bertugas di sejumlah kota, antara lain Semarang, Salatiga, Solo, Purworejo, hingga beberapa wilayah lain di Nusantara. Selain menjaga keamanan wilayah kolonial, mereka juga dilibatkan dalam berbagai operasi militer Belanda untuk menumpas perlawanan rakyat di berbagai daerah.

Sebagai tentara profesional, mereka menjalani kehidupan militer layaknya serdadu lainnya. Sebagian bahkan menikah dengan perempuan lokal dan mulai membangun kehidupan baru di Jawa.

Ketika masa dinas mereka berakhir, tidak semua tentara Afrika tersebut kembali ke tanah kelahirannya. Sebagian memilih menetap di Indonesia dan membangun keluarga bersama masyarakat setempat.

Salah satu daerah yang menjadi tempat tinggal komunitas keturunan mereka adalah Purworejo, Jawa Tengah.

Jejak keberadaan mereka masih dapat ditemukan hingga kini melalui nama Kampung Afrikan dan Jalan Afrikan di Purworejo. Kawasan tersebut menjadi penanda sejarah keberadaan komunitas keturunan tentara Afrika yang pernah mengabdi kepada pemerintah Hindia Belanda.

Meski jumlah keturunannya kini tidak banyak, kisah Londo Ireng tetap menjadi bagian menarik dari sejarah Indonesia yang menunjukkan bagaimana kolonialisme telah mempertemukan berbagai bangsa di Nusantara.

Kisah Londo Ireng menunjukkan bahwa sejarah Indonesia tidak hanya melibatkan masyarakat lokal dan bangsa Eropa, tetapi juga orang-orang dari Afrika yang turut menjadi bagian dari dinamika kolonial pada abad ke-19.

Keberadaan mereka menjadi bukti bahwa Nusantara sejak lama telah menjadi ruang pertemuan berbagai budaya, etnis, dan bangsa. Jejak mereka yang masih bertahan hingga sekarang menjadi pengingat bahwa sejarah Indonesia menyimpan banyak kisah unik yang belum banyak dikenal masyarakat. (Ning/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: