BerandaTradisinesia
Sabtu, 29 Mei 2026 12:06

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

Permainan congklak mengajarkan strategi, kesabaran, dan kebersamaan lewat cara sederhana yang telah diwariskan lintas generasi. (Chatgpt AI)

Congklak bukan sekadar permainan tradisional, tetapi juga warisan budaya Nusantara yang memiliki sejarah panjang, melatih strategi, dan kini mulai terlupakan di tengah maraknya game digital.

Inibaru.id - Di tengah maraknya game digital dan gadget, permainan tradisional perlahan mulai ditinggalkan. Padahal, Indonesia memiliki sekitar 2.600 permainan tradisional yang tersebar di berbagai daerah, dan salah satu yang paling populer adalah congklak.

Permainan sederhana menggunakan papan berlubang dan biji-bijian ini ternyata punya sejarah panjang, bahkan disebut sebagai salah satu permainan tertua di dunia. Tak hanya dikenal di Indonesia, congklak juga memiliki banyak nama dan dimainkan di berbagai negara.

Congklak dimainkan oleh dua orang menggunakan papan berlubang dengan biji-bijian atau kerang kecil sebagai alat bermain. Tujuannya sederhana: mengumpulkan biji terbanyak di “rumah” atau lumbung milik sendiri.

Meski terlihat mudah, permainan ini sebenarnya melatih banyak kemampuan, mulai dari berhitung, konsentrasi, strategi, hingga kesabaran. Anak-anak juga belajar membaca pola permainan lawan dan menentukan langkah terbaik agar bisa menang.

Mengutip dari Expat.ot.id, di Indonesia, congklak dikenal dengan berbagai nama. Masyarakat Jawa menyebutnya dakon atau dhakon, sementara di Lampung dikenal sebagai dentuman lamban. Di Sulawesi, permainan serupa memiliki nama seperti Maggaleceng atau Nogarata. Di dunia internasional, congklak termasuk dalam keluarga permainan “mancala”.

Sejarah congklak ternyata sangat panjang. Banyak ahli percaya permainan ini berasal dari Timur Tengah atau Afrika, lalu menyebar ke Asia melalui jalur perdagangan kuno. Bukti arkeologis menunjukkan permainan serupa sudah dimainkan sejak ribuan tahun lalu dan disebut-sebut sebagai salah satu board game tertua di dunia.

Seperti dikutip dari Kompas, beberapa sumber menyebut congklak masuk ke Nusantara dibawa oleh pedagang Arab saat aktivitas perdagangan maritim berkembang. Dari situlah permainan ini kemudian beradaptasi dengan budaya lokal dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Menariknya, bentuk papan congklak di tiap daerah juga berbeda-beda. Ada yang sederhana dari kayu biasa, ada pula yang dihias ukiran khas daerah. Bahkan di beberapa wilayah, anak-anak cukup membuat lubang di tanah lalu menggunakan batu atau biji tanaman sebagai alat bermain.

Bukan Sekadar Permainan Anak

Dulu, congklak bukan hanya permainan pengisi waktu luang. Dalam beberapa budaya, permainan ini memiliki nilai sosial dan filosofis. Di Jawa, congklak pernah digunakan untuk membantu perhitungan musim tanam. Sementara di beberapa daerah lain, permainan ini dimainkan dalam momen-momen tertentu saja.

Kini, congklak mulai jarang dimainkan. Banyak anak lebih akrab dengan game online dibanding permainan tradisional di lingkungan sekitar mereka. Fenomena ini juga banyak disadari masyarakat di media sosial yang menganggap congklak sebagai bagian dari nostalgia masa kecil yang perlahan menghilang ditelan zaman.

Padahal, di balik kesederhanaannya, congklak menyimpan nilai budaya, edukasi, dan interaksi sosial yang kuat. Permainan ini mengajarkan anak untuk bersabar, berpikir strategis, dan berinteraksi langsung dengan orang lain tanpa layar gadget.

Di era digital, permainan tradisional seperti congklak sebenarnya masih punya peluang untuk dikenalkan kembali kepada generasi muda. Tidak sedikit komunitas, sekolah, hingga kreator digital yang mulai mengangkat permainan tradisional sebagai bagian dari edukasi budaya.

Congklak bukan sekadar permainan lawas. Ia adalah bagian dari perjalanan budaya Nusantara yang telah melintasi zaman dan benua. Menjaga permainan tradisional tetap hidup berarti menjaga ingatan, nilai, dan identitas budaya agar tidak hilang begitu saja. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Saat Rupiah Melemah, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

15 Mei 2026

Rahasia Matematika di Balik Motif Batik, dari Simetri hingga Pola Fibonacci

16 Mei 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan Pameran Seni Kontemporer “Episentrum”

16 Mei 2026

Nyandhang Tradisi untuk Menjaga Ingatan Batik Kudus

18 Mei 2026

9 WNI dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza Dicegat Israel, Ada Wartawan Media Nasional

19 Mei 2026

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: