Inibaru.id - Di tengah maraknya game digital dan gadget, permainan tradisional perlahan mulai ditinggalkan. Padahal, Indonesia memiliki sekitar 2.600 permainan tradisional yang tersebar di berbagai daerah, dan salah satu yang paling populer adalah congklak.
Permainan sederhana menggunakan papan berlubang dan biji-bijian ini ternyata punya sejarah panjang, bahkan disebut sebagai salah satu permainan tertua di dunia. Tak hanya dikenal di Indonesia, congklak juga memiliki banyak nama dan dimainkan di berbagai negara.
Congklak dimainkan oleh dua orang menggunakan papan berlubang dengan biji-bijian atau kerang kecil sebagai alat bermain. Tujuannya sederhana: mengumpulkan biji terbanyak di “rumah” atau lumbung milik sendiri.
Meski terlihat mudah, permainan ini sebenarnya melatih banyak kemampuan, mulai dari berhitung, konsentrasi, strategi, hingga kesabaran. Anak-anak juga belajar membaca pola permainan lawan dan menentukan langkah terbaik agar bisa menang.
Mengutip dari Expat.ot.id, di Indonesia, congklak dikenal dengan berbagai nama. Masyarakat Jawa menyebutnya dakon atau dhakon, sementara di Lampung dikenal sebagai dentuman lamban. Di Sulawesi, permainan serupa memiliki nama seperti Maggaleceng atau Nogarata. Di dunia internasional, congklak termasuk dalam keluarga permainan “mancala”.
Sejarah congklak ternyata sangat panjang. Banyak ahli percaya permainan ini berasal dari Timur Tengah atau Afrika, lalu menyebar ke Asia melalui jalur perdagangan kuno. Bukti arkeologis menunjukkan permainan serupa sudah dimainkan sejak ribuan tahun lalu dan disebut-sebut sebagai salah satu board game tertua di dunia.
Seperti dikutip dari Kompas, beberapa sumber menyebut congklak masuk ke Nusantara dibawa oleh pedagang Arab saat aktivitas perdagangan maritim berkembang. Dari situlah permainan ini kemudian beradaptasi dengan budaya lokal dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Menariknya, bentuk papan congklak di tiap daerah juga berbeda-beda. Ada yang sederhana dari kayu biasa, ada pula yang dihias ukiran khas daerah. Bahkan di beberapa wilayah, anak-anak cukup membuat lubang di tanah lalu menggunakan batu atau biji tanaman sebagai alat bermain.
Bukan Sekadar Permainan Anak
Dulu, congklak bukan hanya permainan pengisi waktu luang. Dalam beberapa budaya, permainan ini memiliki nilai sosial dan filosofis. Di Jawa, congklak pernah digunakan untuk membantu perhitungan musim tanam. Sementara di beberapa daerah lain, permainan ini dimainkan dalam momen-momen tertentu saja.
Kini, congklak mulai jarang dimainkan. Banyak anak lebih akrab dengan game online dibanding permainan tradisional di lingkungan sekitar mereka. Fenomena ini juga banyak disadari masyarakat di media sosial yang menganggap congklak sebagai bagian dari nostalgia masa kecil yang perlahan menghilang ditelan zaman.
Padahal, di balik kesederhanaannya, congklak menyimpan nilai budaya, edukasi, dan interaksi sosial yang kuat. Permainan ini mengajarkan anak untuk bersabar, berpikir strategis, dan berinteraksi langsung dengan orang lain tanpa layar gadget.
Di era digital, permainan tradisional seperti congklak sebenarnya masih punya peluang untuk dikenalkan kembali kepada generasi muda. Tidak sedikit komunitas, sekolah, hingga kreator digital yang mulai mengangkat permainan tradisional sebagai bagian dari edukasi budaya.
Congklak bukan sekadar permainan lawas. Ia adalah bagian dari perjalanan budaya Nusantara yang telah melintasi zaman dan benua. Menjaga permainan tradisional tetap hidup berarti menjaga ingatan, nilai, dan identitas budaya agar tidak hilang begitu saja. (Ike/E01)
