BerandaTradisinesia
Rabu, 2 Jun 2026 10:36

Mengenal Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu yang Selalu Mencuri Perhatian Saat Waisak

Ilustrasi tradisi Thudong menjadi simbol perjalanan spiritual, kesederhanaan hidup, serta pesan perdamaian dalam perayaan Hari Raya Waisak. (Inibaru.id/Ike)

Tradisi Thudong yang dilakukan para biksu menjelang Waisak 2026 menjadi simbol perjalanan spiritual, kesederhanaan hidup, serta pesan perdamaian dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat.

Inibaru.id – Menjelang perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak, ada satu tradisi yang hampir selalu menarik perhatian masyarakat Indonesia. Bukan karena kemeriahannya, melainkan karena kesederhanaan dan keteguhan para pelakunya. Tradisi tersebut adalah Thudong, perjalanan spiritual yang dijalani para biksu dengan berjalan kaki menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer.

Pada peringatan Waisak 2026 yang jatuh pada 31 Mei, tradisi ini kembali menjadi sorotan. Sejumlah biksu dari berbagai negara terlihat melintasi jalan-jalan di Indonesia menuju Candi Borobudur, Magelang, yang menjadi pusat perayaan Waisak nasional.

Banyak warga yang menyempatkan diri menyambut kedatangan mereka. Ada yang memberikan air minum, makanan, buah-buahan, hingga sekadar menyapa dan memberikan dukungan. Lalu, sebenarnya apa itu Thudong dan mengapa perjalanan ini begitu istimewa?

Thudong merupakan praktik spiritual dalam ajaran Buddha yang dilakukan dengan cara berjalan kaki sambil menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Selama perjalanan, para biksu hanya membawa perlengkapan seperlunya dan mengandalkan dana atau pemberian makanan dari masyarakat.

Tradisi ini telah berlangsung sejak masa awal penyebaran ajaran Buddha. Dahulu, para bhikkhu berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain dengan berjalan kaki untuk menyebarkan ajaran Buddha sekaligus melatih disiplin diri.

Perjalanan tersebut bukanlah perjalanan biasa. Para biksu harus menghadapi berbagai kondisi cuaca, menempuh jalan panjang, serta hidup dengan keterbatasan selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Melalui proses itu, mereka melatih kesabaran, pengendalian diri, ketekunan, dan ketahanan fisik maupun batin.

Karena itulah, Thudong sering dipandang sebagai simbol kesederhanaan dan keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Tak Sekadar Ritual Keagamaan

Bagi umat Buddha, Thudong merupakan bentuk latihan batin untuk melepaskan diri dari berbagai kenyamanan duniawi. Perjalanan panjang yang dijalani menjadi sarana refleksi sekaligus memperkuat fokus spiritual.

Namun menariknya, nilai yang terkandung dalam Thudong tidak hanya dapat dipahami oleh umat Buddha. Banyak masyarakat melihat perjalanan ini sebagai simbol perdamaian, kerendahan hati, dan kemanusiaan.

Di sepanjang rute perjalanan, para biksu kerap mendapat sambutan hangat dari warga yang berbeda agama maupun latar belakang budaya. Momen-momen seperti inilah yang menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan mampu menjembatani berbagai perbedaan.

Tak sedikit masyarakat yang mengaku terinspirasi oleh kesederhanaan hidup para biksu. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, perjalanan Thudong seolah mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada banyaknya hal yang dimiliki.

Pada Waisak 2026, perjalanan para biksu mengusung tema Indonesia Walk For Peace (IWFP) atau Jalan Damai Indonesia. Tema tersebut menegaskan bahwa Thudong bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga membawa pesan persaudaraan dan perdamaian lintas negara.

Perjalanan tahun ini diikuti para biksu dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia. Mereka menempuh perjalanan dari Thailand menuju Bali, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur dengan total jarak sekitar 666 kilometer dari Bali hingga Jawa Tengah.

Perjalanan dimulai sejak 9 Mei 2026 dan dijadwalkan tiba di Borobudur menjelang puncak perayaan Waisak pada 31 Mei.

Bagi banyak orang, perjalanan ini menjadi pengingat bahwa perdamaian tidak selalu diwujudkan melalui hal-hal besar. Kadang, pesan tersebut justru hadir melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan dengan ketulusan dan keteguhan hati.

Melalui semangat Thudong dan Waisak, masyarakat diajak untuk kembali merenungkan pentingnya hidup dalam kedamaian, menghargai perbedaan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Selamat Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE. Semoga nilai-nilai kebijaksanaan, kasih sayang, dan kedamaian senantiasa hadir dalam kehidupan kita bersama. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Mengenal Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu yang Selalu Mencuri Perhatian Saat Waisak

2 Jun 2026

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: