Inibaru.id - Di Jepang, gulat profesional perempuan atau yang akrab disebut joshi puroresu bukan sekadar tontonan olahraga. Ini adalah perpaduan antara seni pertunjukan, kekuatan fisik, dan drama penuh emosi. Meski hasil pertandingan sudah ditentukan sebelumnya, rasa sakitnya nyata. Pukulan, bantingan, dan jatuh ke matras bukan akting belaka. Justru di situlah letak daya tariknya: atraksi yang jujur tentang daya tahan tubuh manusia.
Menonton joshi dari jarak super dekat
Berbeda dengan pertandingan olahraga besar di stadion, gulat perempuan di Jepang sering digelar di gedung-gedung kecil dengan ring yang dekat dengan penonton. Salah satu yang paling ikonik adalah Shinjuku Face, sebuah hall di Kabukicho, Tokyo. Kapasitasnya hanya sekitar 500 orang, tapi justru itulah keistimewaannya. Penonton bisa mendengar napas pegulat, benturan tubuh, bahkan teriakan semangat satu sama lain.
Di tempat seperti ini, promotor seperti Dream Star Fighting Marigold rutin menggelar pertunjukan. Nuansanya terasa mentah, panas, dan penuh energi. Sebelum laga dimulai, para pegulat berpose dramatis, memamerkan karakter masing-masing. Begitu bel berbunyi, suasana langsung meledak penuh keseruan dan atraksi keren!
Nama besar seperti Mayu Iwatani sering disebut sebagai simbol kualitas joshi modern. Gerakannya efisien, presisi, dan selalu menguasai ritme pertandingan. Banyak penggemar menganggapnya sebagai sosok yang menjaga api gulat perempuan tetap menyala di masa sulit.
Dari masa emas ke kebangkitan pelan-pelan
Joshi pernah berada di puncak popularitas pada era 1980–1990-an saat dikelola promotor legendaris All Japan Women’s Pro-Wrestling. Saat itu, gulat perempuan bahkan bisa ditampilkan di stadion besar. Namun krisis finansial membuat pamornya meredup di akhir 1990-an.
Kebangkitan mulai terasa ketika Rossy Ogawa mendirikan World Wonder Ring Stardom pada 2010. Stardom kini jadi promotor terbesar di Jepang, bahkan melahirkan bintang baru seperti Saya Kamitani yang nggak kalah terkenal dari bintang pop dan sampai dilirik untuk tampil di acara televisi nasional.
Selain Stardom dan Marigold, ada juga promotor lain dengan ciri khas masing-masing, seperti Tokyo Joshi Pro Wrestling yang memadukan humor dan budaya idol, serta Sendai Girls’ Pro Wrestling yang terkenal dengan gaya keras dan atletis. Intinya sih, kalau ada gelaran joshi yang dikelola mereka, dijamin seru kalau bisa menontonnya secara langsung!
Cara paling gampang menontonnya di Jepang
Buat kamu yang penasaran dan pengin nonton langsung gulat perempuan Jepang. Tenang, pertandingannya mudah diakses kok. Pertandingan rutin digelar di berbagai kota, dari hall kecil sampai arena menengah seperti Korakuen Hall yang dianggap sebagai “rumah spiritual” dunia gulat Jepang.
Harga tiket biasanya berkisar ¥4.000–¥10.000, jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan event olahraga besar lain. Biar nggak bingung, bisa kok cek situs en.puwota.com untuk mengetahui detail pertandingan atau cara mencari tiketnya.
Atmosfer pertandingannya ramah, penontonnya campur aduk dari penggemar lama sampai keluarga dan anak muda. Banyak pertunjukan juga diakhiri sesi foto dan tanda tangan, bikin jarak antara atlet dan fans nyaris tak ada.
Meski belum kembali ke masa kejayaannya, gulat perempuan Jepang sedang menemukan napas baru. Pertandingannya mungkin terasa underground, tapi justru di situlah pesonanya: keras, jujur, dan penuh semangat komunitas. Kalau kamu ingin menonton olahraga yang lebih dari sekadar skor dan kemenangan, joshi puroresu layak masuk daftar tontonan wajib saat pergi ke Jepang. (Arie Widodo/E07)
