BerandaTradisinesia
Selasa, 23 Feb 2026 15:42

Menelusuri Jejak Sejarah Intip Ketan, Camilan Warisan Sunan Kudus

Intip ketan khas Dandangan. (Beritasatu)

Bukan sekadar kerak nasi biasa, intip ketan adalah saksi bisu penyebaran Islam di tanah Jawa sejak abad ke-16. Intip ketan bukan hanya pengganjal perut, tapi simbol kedekatan sang Wali dengan rakyatnya.

Inibaru.id – Bayangkan suasana Kudus pada abad ke-16. Di bawah naungan Menara yang megah, masyarakat berkumpul dengan gelisah menunggu tabuhan bedug penanda awal Ramadan. Di tengah kerumunan itu, aroma ketan bakar menyeruak. Inilah intip ketan, kuliner legendaris yang silsilahnya merujuk langsung pada sosok Syekh Ja'far Shodiq atau Sunan Kudus.

Sejarah intip ketan nggak bisa dilepaskan dari kebiasaan unik Sunan Kudus. Konon, sang Wali sangat gemar menikmati waktu senggangnya dengan menyesap kopi hitam sembari menyantap intip ketan. Kebiasaan ini bukan sekadar urusan lidah, melainkan cara dia berkomunikasi dengan masyarakat.

Pola konsumsi ini kemudian diikuti secara turun-temurun oleh para pengikutnya hingga menjadi tradisi yang mendarah daging. Maka nggak heran, setiap kali tradisi Dandangan (pengumuman puasa) digelar, intip ketan wajib hadir sebagai representasi "selera" sang leluhur.

Cara membuatnya juga sangat khas. Beras ketan yang telah dimasak dicampur parutan kelapa, kemudian dipipihkan di atas cobek tanah dan ditaburi gula pasir sebelum dipanaskan.

Panas akan membuat bawah ketan berubah warna menjadi cokelat kehitaman menyerupai kerak nasi gosong. Inilah lapisan yang disebut intip dalam istilah Jawa, sekaligus menjadi ciri utama jajanan tersebut.

Nah, begitu matang, intip ketan dibungkus dengan daun pisang atau kertas minyak. Hm, kebayang kan gimana harumnya?

Salah Satu Ikon Dandangan

Penjual membuat intip ketan dengan wajan tanah liat untuk menghasilkan aroma dan rasa khas. (Humas Jateng)

Kata "Dandangan" sendiri berasal dari suara bedug Menara Kudus yang berbunyi "dhang... dhang... dhang..." saat mengumumkan hasil sidang hilal. Pada masa itu, para pedagang mulai berkumpul menjajakan makanan bagi warga yang menunggu. Intip ketan menjadi primadona karena kesederhanaan bahan bakunya yaitu ketan dan kelapa, namun memiliki makna filosofis tentang kemurnian (putihnya ketan) dan kebersahajaan.

Keaslian sejarah ini tetap terjaga melalui teknik memasaknya. Hingga hari ini, masih ada penjual intip ketan di Dendangan yang tetap menggunakan cobek atau wajan tanah liat. Tanah liat diyakini memberikan aroma sangit yang nggak bisa digantikan oleh logam modern. Penggunaan alat tradisional ini adalah upaya nguri-uri atau melestarikan teknologi masa lalu agar rasa yang mencecap di lidah kita tetap sama dengan rasa yang dinikmati Sunan Kudus ratusan tahun silam.

Meski kini banyak gempuran jajanan kekinian, intip ketan tetap bertahan sebagai penanda temporal. Begitu aroma ketan bakar tercium di sekitar Menara, orang Kudus tahu bahwa bulan suci sudah di depan mata.

Dengan harga yang tetap demokratis, yakni sekitar Rp 2.500 per potong, intip ketan membuktikan bahwa warisan sejarah tak harus mahal untuk tetap dicintai. Jajanan ini adalah pengingat bahwa di balik renyahnya kerak ketan, ada sejarah besar tentang toleransi, dakwah, dan budaya yang terus hidup.

Jadi, Gez, kalau kamu mencicipi intip ketan tahun ini, ingatlah bahwa kamu sedang menikmati sepotong sejarah yang telah terjaga selama lima abad! (Siti Zumrokhatun/E05)


Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dasun di Lasem, Galangan Kapal yang Pernah Menopang Armada Majapahit hingga Demak

26 Jun 2026

Pertamina: Harga BBM Berpotensi Turun Bertahap Mulai Juli

27 Jun 2026

Barikan Sitinggil, Cara Warga Kriyan Merawat Jejak Ratu Kalinyamat Lewat Doa dan Kebersamaan

28 Jun 2026

Masyarakat Bisa Pilih Logo HUT Ke-81 RI, Pemerintah Buka Polling hingga 28 Juni

29 Jun 2026

Perusahaan Kereta Asal Swiss Lirik Indonesia sebagai Basis Produksi untuk Pasar Asia

30 Jun 2026

Harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina DEX Turun Mulai 1 Juli 2026, Pertamax Tetap

1 Jul 2026

DJP Siap Terapkan Pajak E-Commerce Mulai 1 Juli 2026

1 Jul 2026

Mulai 1 Juli 2027, Empat Marketplace Resmi Pungut Pajak Pedagang Online

2 Jul 2026

Tabung CNG 3 Kg Segera Diuji, Diklaim Lebih Aman dari LPG

3 Jul 2026

Pemerintah Siapkan 39 Bandara Baru, Total Bandar Udara di Indonesia Bakal Jadi 296

4 Jul 2026

Belajar Langsung dari Mbah Atemo, Belasan Anak Muda Lestarikan Mainan Tradisional Berbahan Kertas Bekas

6 Jul 2026

Mengenal Bunga Edelweiss Jawa, Si "Bunga Abadi" yang Justru Terancam Punah

6 Jul 2026

Dikira Bahasa Gaul, "Anjir" Justru Kosakata Lama Nelayan Pantura

7 Jul 2026

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: