Inibaru.id - Berburu hidangan berbuka atau acap dikenal sebagai "war takjil" selalu menjadi momen unik yang ditunggu-tunggu masyarakat setiap Ramadan, nggak terkecuali saya. Momentum itu juga dimanfaatkan para penjaja makanan untuk menggelar lapak dagangan mereka.
Di Kudus, salah satu tempat yang sering didatangi masyarakat untuk berburu takjil adalah Kampung Kuliner Menara Kudus yang berlokasi di Taman Menara, nggak jauh dari pusat kota. Menyambangi tempat tersebut baru-baru ini, puluhan stand telah menunjukkan aktivitas mereka sejak sekitar pukul 15.00 WIB.
Meski nggak sampai berdesak-desakan, menu takjil di taman yang berlokasi di Jalan Sunan Kudus, Kelurahan Langgardalem, Kecamatan Kota, ini cukup menarik sehingga sering menjadi alternatif masyarakat mencari hidangan berbuka, khususnya mereka yang menyukai kuliner zadul.
Salah satu yang jajanan zadul yang mencuri perhatian saya di tempat itu adalah Intip Ketan. Perlu kamu tahu, kudapan manis ini sudah sangat jarang ditemukan di Kudus, kecuali menjelang dan selama Ramadan. Rasanya manis, dengan bahan dasar beras ketan dan kelapa parut.
Dimasak secara Tradisional

Yang saya suka dari jajanan berbentuk lingkaran pipih ini adalah proses pembuatannya yang masih memakai peralatan tradisional, yakni cobek tanah liat yang dipanaskan di atas tungku. Cara bikinnya juga sepertinya nggak sulit.
Saat cobek sudah cukup panas, sejumput ketan dan kelapa parut diletakkan di atasnya, lalu "adonan" dibentuk menjadi lingkaran pipih, kemudian diberi taburan gula pasir di atasnya. Api dalam tungku berbahan bakar kayu dan arang itu nantinya akan membuat ketan menjadi kering dan berwarna kecokelatan.
Ketan kering berwarna kecokelatan inilah yang disebut sebagai intip atau kerak. Lia, salah seorang penjual intip ketan mengatakan, cobek tanah liat sengaja dipakai untuk menjaga aroma sedap yang sama dengan sebelum-sebelumnya. Selain itu, ketan juga matang sempurna dan nggak mudah lengket.
"Kami tetap pakai ini (menunjuk pada cobek) untuk menjaga cita rasa khas intip ketan, agar (ciri khas tersebut) tidak hilang," ujarnya.
Aroma Daun Pisang

Saat menyajikan, intip ketan juga masih mendapatkan sentuhan tradisional melalui keberadaan daun pisang sebagai alas sekaligus pembatas antar-intip. Perlu kamu tahu, intip ketan nggak dijual per satuan, tapi satu porsi yang terdiri atas beberapa intip yang ditumpuk ke atas.
"Alas (sekaligus sekat) intip kami masih tetap pakai daun pisang, tapi pengemasan memakai mika plastik yang lebih praktis dan bisa dibawa ke mana-mana," jelas Lia.
Saat mengantre intip ketan, saya bertemu Dimas Setiawan yang rupanya berasal dari Jepara. Pemuda 24 tahun itu sengaja datang ke Kampung Kuliner Menara Kudus untuk ngabuburit bersama kawannya, lalu menjajal intip ketan sebagai menu berbuka.
"Saya beli seporsi intip ketan berisi lima lapis seharga Rp17 ribu. Sengaja beli untuk menu berbuka. Rasanya legit, tapi ada sensasi gurih, terangnya.
Teman Ngopi Tempo Dulu

Penjual intip ketan di Kampung Kuliner Menara nggak cuma satu. Selain Lia, ada Laili yang mengaku sudah berjualan selama sembilan tahun. Menurut perempuan berusia 51 tahun itu, intip ketan menjadi salah satu menu kuliner yang perlu dilestarikan di Kudus karena menjadi hidangan favorit Sunan Kudus.
"Intip ketan ini makanan legendaris; menemani Sunan Kudus saat menyebarkan Islam, sebagai teman ngopi. Mbah-mbah dulu juga kalau jagongan (duduk santai bersama) ditemani intip ketan ini bersama kopi," selorohnya. "Karena itulah yang bikin jajanan tradisional ini biasanya orang-orang (yang sudah) tua."
Dengan sensasi rasa yang gurih berpadu manis di mulut, intip ketan sepertinya memang menjadi salah satu hidangan favorit orang-orang Kudus saat berbuka. Hal ini pun diiyakan Laili. Sebagian besar orang yang berkunjung ke Kampung Ramadan Menara umumnya memang mencari kudapan tersebut.
"Intip ketan paling cocok dimakan bareng-bareng sembari bersantai. Kalau sekarang ya pas berbuka puasa," tandasnya.
Memang menggiurkan! Jadi, sangat wajar kalau intip ketan menjadi salah satu menu takjil paling diminati di Kampung Kuliner Menara; apalagi cuma dijual pas Ramadan! Kamu harus coba sih! (Alfia Ainun Nikmah/E03)